Pada 7 Juni 1910, surat kabar de Locomotief memberitakan pertemuan Dewan Perwakilan Daerah (gewestelijke raad) Keresidenan Besuki yang terjadi pada 30 Mei 1910. Dalam pertemuan tersebut, dibahas beberapa topik, salah satunya rencana pembangunan jalur trem dari Rambipuji menuju Puger, serta percabangannya menuju Ambulu. Sebuah komisi teknis dari Jember mempertanyakan beberapa hal terkait rencana tersebut, salah satunya mengenai perkiraan bahwa jalur trem tersebut tidak begitu menguntungkan. Namun, rencana tersebut tetap diusulkan karena dianggap sebagai infrastruktur perintis yang mampu memberi keuntungan untuk wilayah Jember di masa depan.[1]
Rencana pembangunan jalur trem Rambipuji–Balung–Puger, dan Balung–Ambulu kemudian ditetapkan dalam undang-undang tertanggal 18 Juli 1911 (Indische Staatsblad No. 459), bersamaan dengan jalur Cikampek–Wadas.[2]:71 Pembangunan jalur dari Rambipuji ke Puger dan Ambulu, dengan panjang 40,5 km, diperkirakan menelan biaya ƒ405.000.[3] Rekayasawan Staatsspoorwegen C.C.W.C. Beck, bersama Ch.E. Esser, G.L. Wijnen Riems, dan L.E.V. Sterrenburg ditugaskan untuk melaksanakan proyek ini.[4]
Pembangunan dan operasional jalur trem (600mm)
Rancang bangun kedua jalur trem tersebut menggunakan sepur sempit (600mm (1ft11+5⁄8in)).[5] Hal ini didasarkan pada risiko kerugian yang cukup tinggi sehingga biaya pembangunan harus ditekan. Berdasarkan peta yang digambar tahun 1925, diketahui bahwa jalur trem ini dimulai tepat di emplasemen Stasiun Rambipuji, kemudian mengikuti sisi jalan raya yang menghubungkan Rambipuji dengan Balunglor. Jalur trem kemudian bercabang ke selatan menuju Puger dan timur menuju Ambulu di Stasiun Balung.[6]
Pada 28 Oktober 1912, pembangunan telah mencapai Balunglor, ditandai dengan ditutupnya sebuah jembatan di desa tersebut untuk kepentingan konstruksi.[7] Pada November 1912, Staatsspoorwegen memperkirakan jalur Rambipuji–Balung–Puger dapat dibuka pada pertengahan 1913, meleset dari target awal 1913 yang dicanangkan sebelumnya.[8] Jalur trem ini kemudian dibuka pada 2 Mei 1913, ditandai dengan melintasnya kereta festival yang ditumpangi pejabat SS.[9]
Keberadaan trem membantu mobilitas penumpang dan barang di wilayah Puger. Pada 1914, tercatat kenaikan pendapatan dari angkutan penumpang, dari semula ƒ48.640 pada 1913 menjadi ƒ77.125. Pendapatan dari angkutan barang juga meningkat dari ƒ27.162 pada 1913 menjadi ƒ35.473 pada 1914.[9]
Meskipun demikian, infrastruktur jalur trem cepat tertinggal zaman. Seiring dengan berkembangnya pertanian di wilayah Jember bagian selatan, permintaan mobilitas turut meningkat.[10] Di sisi lain, trem memiliki kapasitas terbatas dan hanya mampu berjalan dengan kecepatan 20 km/jam karena menggunakan lebar sepur 600 mm. Ditambah lagi, industri otomotif yang berkembang mampu memberikan persaingan kepada moda transportasi trem. Hal ini menyebabkan SS terpaksa menurunkan tarif trem supaya mampu bersaing.[11] Bahkan pada 1926, trem di jalur Rambipuji—Puger terancam menutup layanan angkutan penumpangnya karena tidak mampu bersaing dengan moda transportasi darat lainnya.[12] Tak lama bagi SS untuk menyadari bahwa trem dengan kapasitas rendah dan berjalan berdampingan dengan kendaraan lainnya tidak cocok diterapkan di lintas Rambipuji—Puger.[13]
Pembangunan jalur kereta api baru (1.067mm)
Pada Oktober 1926, Komite Staatsspoorwegen menyelenggarakan sebuah pertemuan. Salah satu keputusan dari pertemuan tersebut ialah usulan untuk membangun jalur kereta api baru dengan lebar sepur 3ft6in (1.067mm) dari Rambipuji hingga stasiun yang menjadi percabangan menuju Lumajang. Jalur baru tersebut bertujuan untuk menggantikan jalur trem Rambipuji—Puger yang sudah tidak mampu bersaing serta untuk mengakomodasi lalu lintas angkutan dari Lumajang.[14]
Pada akhir 1926, diputuskan bahwa jalur baru dari Lumajang dan jalur pengganti dari Rambipuji direncanakan bertemu di Balung.[15] Pada 22 Oktober 1927, SS resmi mulai mencari pendanaan untuk pembangunan jalur baru Rambipuji—Balung.[16] pada 17 Desember 1927, SS memutuskan akan mencabut seluruh jalur trem di lintas Rambipuji—Puger setelah jalur kereta api Lumajang—Balung—Rambipuji selesai dibangun. Material bongkaran dan sarana perkeretaapian dari jalur trem ini kemudian digunakan untuk membangun jalur trem Karawang—Rengasdengklok.[17]
Pembangunan jalur baru dengan lebar sepur 1.067mm selesai pada 1 November 1929. Kemudian pada 1 Maret 1929, jalur trem lama Rambipuji—Balung menuju Puger pun dicabut. Biaya pembangunan jalur baru tercatat senilai ƒ514.000, sementara biaya pembongkaran jalur trem tercatat senilai ƒ220.000.[18][19]
Pada 25 April 1930, koran "De Indische Courant" mengabarkan bahwa SS berencana membuka perhentian baru di lintas ini yang kelak bernama Stopplaats Dam Tjoerahmalang pada km 70+xxx pada 1 Mei 1930.
Jalur ini dinonaktifkan pada tahun 1986 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum serta tidak ada reaktivasi untuk jalur ini.