Sebelum Masuk film
Jack John lahir di Banda Neira, Banda, Maluku Tengah, Maluku pada 23 April 1934.
Menurut Majalah Vista edisi 26 Mei hingga 1 Juni 1979, Jack mulai merasa berat badannya menjadi gemuk saat usianya 9 tahun. Sebelumnya, ia kurus seperti orang kena penyakit cacingan. Lalu seorang dokter memberinya resep sehingga nafsu makannya bertambah. Hingga dewasa, ia kuat makan 4-5 kali dan minum paling tidak 5-6 liter per hari. Badannya yang gemuk menjadi masalah tersendiri dalam hal pakaian. Untuk bikin celana, ia membutuhkan bahan 2,20 meter. Sedangkan untuk baju 2,50 meter dan ikat pinggangnya 1,60 meter. Jack kerap disamakan dengan pelawak dan aktor Jalal karena badannya yang serupa. Namun, ia mengatakan lebih dahulu daripada Jalal terjun ke dunia film.
Karier
Ia mengaku mengenal dunia film sejak 1947, bermain di film di Wajah Malam. Akan tetapi, pekerjaan di film tak ia tekuni karena honornya belum cukup memadai. Jack kemudian beralih profesi, mencoba peruntungan menjadi sopir bus malam. Namun ia ketimpa musibah karena menabrak orang hingga tewas. Akibatnya, ia berperkara dan simnya dicabut selama 5 tahun.
Ia pun memutuskan kembali ke dunia film. Pada 1978, ia bermain di film Modal Dengkul Kaya Raya dan Goyang Sampai Tua. Film Modal Dengkul Kaya Raya disutaradarai Pitrajaya Burnama. Di film tersebut, ia bermain dengan aktor Junaedi Salat dan aktris Lenny Marlina. Sedangkan film Goyang Sampai Tua disutaradarai Ratno Timoer.
Sutradara kerap memberinya peran yang lucu, meski sesungguhnya ia ingin menjadi pemain watak. Sutradara hanya melihat perawakannya, tak peduli dengan kemampuan aktingnya. Jack memang terlihat lucu di mata orang-orang. Selain tubuhnya yang super jumbo, kepalanya pun pelontos.
Ia mengatakan mencukur rambutnya setiap 3 hari sekali agar punya ciri khas. Ia pernah biara kumis dan jenggot, tetapi ternyata kurang komersial dibanding kepala pelontosnya itu. Pada 1970-an, Jack juga tergabung dengan pelawak Dulkamdi dan Slamat Harto dalam grup lawak Mamadi grup. Namun, aktivitas grup ini sangat sedikit, sehingga kesempatan ia tampil tak banyak.
Di luar grup itu, ia kerap tampil sendirian. Misalnya, muncul dalam iklan kaset anak-anak di televisi. Sebenarnya, ia mengaku gerogi saat naik ke panggung untuk melawak. Ia merasa tak berbakat sebagai pelawak, meski orang-orang menganggapnya pelawak.
Tahun 1970-an, cukup banyak ia bermain film. Menurut catatan film indonesia.org.id, di tahun 1979, ia bermain dalam tujuh judul film, yakni Sepasang Merpati, Penangkal Ilmu Teluh, Iramaya Si Anak Tiri, Si Boneka Kayu Pinokio, Buah Terlarang, Dari Mata Turun Ke Hati, dan Bulan Madu.
Di film Iramaya Si Anak Tiri, ia bermain bersama penyanyi cilik yang tengah naik daun, yakni Ira Maya Sopha. Sementara di film Si Boneka Kayu Pinokio, ia beradu peran dengan duet pelawak Ateng dan Iskak. Pada 1982, dirilis film semacam sequel Manusia 6 Juta Dollar. Film ini disutradarai kembali oleh Ali Sahab, tanpa melibatkan Warkop DKI.