Kereta rel listrik JR East seri 203 (国鉄203系電車code: ja is deprecated , Kokutetsu 203-kei densha) adalah KRL yang diperkenalkan sejak tahun 1982 oleh Japanese National Railways) dan pasca privatisasi, Kerera Rel Listrik JR East Seri 203 ini dioperasikan oleh Perusahaan Kereta Api Jepang Timur. KRL ini beroperasi di berbagai jalur yang ada di Jepang, tepatnya di jalur Joban Line dan terusannya yaitu Tokyo Metro Chiyoda Line, tetapi KRL ini tidak beroperasi di jalur terusannya lagi yaitu Odakyu Odawara Line karena ketidak cocokan sistem keamanan dan sistem keselamatan, dan KRL ini pernah beroperasi di lintas KAI Commuter hingga tahun 2025.[1][2]
KRL JR East Seri 203 dihibahkan oleh Perusahaan Kereta Api Jepang Timur (JR East) karena sudah tidak dioperasikan lagi dan tugasnya di Jepang telah digantikan oleh JR East E233-2000 di lintas Joban Line, dan merupakan KRL hibah kedua di Indonesia setelah Toei seri 6000.
KRL JR East seri 203 ini digunakan oleh Japanese National Railways (JNR) sejak tahun 1982, untuk menggantikan KRL JR East seri 103 yang selama ini beroperasi. Sejumlah 17 rangkaian dengan formasi 10 kereta telah diproduksi, dengan 8 rangkaian subseri -0 dan 9 rangkaian subseri -100. Rangkaian dengan subseri 100 memiliki bogie dan sistem suspensi yang sama dengan KRL JR East seri 205.
KRL seri 203 memiliki formasi asli sebagai berikut.
Susunan rangkaian
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kodefikasi
Tc203
M203
M'202
T203
M203
M'202
T203
M203
M'202
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Di setiap kereta M terdapat komponen traksi chopper.
Di Indonesia, pada awalnya KRL ini dioperasikan dengan formasi 8 kereta, dengan melepas kereta nomor 5 dan 6 dari rangkaian sebagai berikut.
Susunan rangkaian
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
Kodefikasi
Tc203
M203
M'202
T203
T203
M203
M'202
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Formasi ini tetap digunakan oleh rangkaian 203-108F hingga kini.
Pada tahun 2014, rangkaian 203-1F sempat dikembalikan menjadi 10 kereta dengan formasi mengikuti formasi aslinya ketika beroperasi di Jepang. Namun karena suatu alasan, dua kereta motor dan dua kereta trailer dari rangkaian ini dilepas dan ditukar dengan dua kereta motor lain yang telah dilucuti komponen traksinya dengan formasi sebagai berikut.
Susunan rangkaian
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
Kodefikasi
Tc203
M203
M'202
T'203
T'202
M203
M'202
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Unit T' merupakan kereta trailer yang berasal dari kereta motor yang dilucuti komponen traksi, komponen kelistrikan sekunder, serta kontaktornya.
Pada tahun 2016, rangkaian BUD 2 (203-2F, MaTo 52) dijadikan rangkaian 12 kereta dengan mengambil 4 kereta dari rangkaian 203-1F dengan formasi sebagai berikut.
Susunan rangkaian
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Kodefikasi
Tc203
M203
M'202
T203
T203
M203
M'202
T'203
T'202
M203
M'202
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Unit T' merupakan kereta trailer yang berasal dari kereta motor yang dilucuti komponen traksi, komponen kelistrikan sekunder, serta kontaktornya.
Pada tahun 2017, giliran rangkaian BOO 106 (203-106F, MaTo 66) dan BOO 109 (203-109F, MaTo 69) yang dijadikan 10 kereta dengan menggunakan seluruh sisa rangkaian 203-1F, masing-masing dengan formasi sebagai berikut.
Susunan rangkaian
Nomor
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Kodefikasi
Tc203
T203
M203
M'202
T'203
T'202
M203
M'202
T203
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Kodefikasi
Tc203
M203
M'202
T203
Tc'202
Tc203
T203
M203
M'202
Tc'202
Komponen
Cont
MG,CP
Cont
MG,CP
Pada rangkaian seri 203-106 (BUD106) , kereta T' adalah kereta trailer yang berasal dari kereta motor yang dilucuti komponen traksinya, tetapi tidak dengan komponen kelistrikan sekunder serta kontaktornya, dikarenakan pertimbangan untuk tetap aktifnya unit MG (main generator) dan CP (kompresor) pada kereta tersebut sebagai sumber daya tambahan untuk pendingin udara, penerangan, dan kelistrikan rangkaian.
Untuk rangkaian yang tiba di Filipina, Philippine National Railways (PNR) menjalankan KRL ini dengan formasi acak yang ditarik oleh lokomotif karena belum tersedianya jaringan listrik aliran atas pada lintas Tutuban-Bicol tempat di mana KRL ini dioperasikan. Sistem kelistrikan didapatkan dari Generator Set (genset) dipasang pada kereta ujung (KuHa 203) untuk fungsi penerangan dan pendingin udara. Seiring waktu, karena kerusakan pada AC, sebagian dari kereta seri 203 telah diganti ACnya dengan AC buatan PT INKA.
Kereta seri 203-109, yang ditarik dari layanan karena suatu alasan sekitar awal Maret dan menjadi TSGO di Depo Depok, menjalani uji coba pada tanggal 20 Maret setelah penggantian roda dan sejak itu kembali beroperasi. Mengingat waktu penarikannya, tampaknya seolah-olah akan digantikan oleh seri CRRC CLI-125 dan kemudian dipensiunkan, tetapi sebenarnya itu adalah penggantian roda. Kereta yang menjadi sasaran penggantian roda adalah Kuha 203-109, dan ada kemungkinan bahwa roda diganti sebagai pilihan terakhir karena tidak ada cara untuk memperpendek kereta, atau bahwa KCI masih berniat menggunakan kereta yang sama. Dalam skenario terburuk, roda dapat disumbangkan ke kereta lain ketika kereta tersebut dibesituakan, jadi tidak mungkin untuk memprediksi apa yang akan terjadi. Alasannya adalah Seri 203-109 akan mencapai batas waktu inspeksi (P24) pada bulan Agustus tahun ini, dan diperkirakan akan dipensiunkan dan dibesituakan apa adanya, digantikan oleh gerbong baru. Dengan alasan yang sama bahwa Seri 203-106 tidak akan mengganti rodanya dan tidak akan direstorasi menjadi konfigurasi 12 gerbong, diperkirakan mereka tidak akan mengeluarkan uang untuk itu sekarang, tetapi fakta bahwa roda-roda tersebut diganti pada saat ini telah menyebabkan perkembangan yang sulit diprediksi. Jika roda gerbong Saha tidak digunakan, saya rasa akan diubah menjadi konfigurasi sementara 8 gerbong dan itu akan menjadi akhir dari segalanya.
Arti Warna
Rangkaian Tersebut masih beroperasi hingga saat ini
Rangkaian tersebut telah tidak beroperasi
Daftar rangkaian formasi 8 kereta
Susunan rangkaian
Nomor
8
7
6
5
4
3
2
1
BUD106
203-106
203-116
203-115
202-118
203-111
203-122
202-122
202-106
BOO109
203-109
203-117
203-125 (203-1)
202-125 (202-1)
203-127
202-127
203-118
202-109
Daftar rangkaian formasi 12 kereta
Susunan rangkaian
Nomor
12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
BUD2
203-2
203-6
202-6
203-3
203-4
203-3
202-3
203-117
202-117
203-4
202-4
202-2
Catatan:
Rangkaian eks MaTo 51 (BOO1) dan eks MaTo 52 (BUD2) adalah generasi (batch) pertama, sedangkan rangkaian nomor eks MaTo 66 (BUD106), eks MaTo 68 (BOO108), dan eks MaTo 69 (BOO109) adalah batch kedua. Rangkaian batch kedua sudah menggunakan suspensi udara seperti KRL JR East 205, sedangkan KRL batch pertama masih menggunakan suspensi per daun.
Kereta sisa yang dilepas bisa saja masih berada di Depo KRL, maupun sudah dikirim ke Stasiun Cikaum.
Rangkaian eks MaTo 69 (BOO109) merupakan rangkaian formasi 10 kereta dengan susunan 5+5 yang memiliki kabin tengah, seperti ef4135 KRL JR East seri 205 formasi 12 kereta dari jalur Yokohama, Nambu maupun Musashino.
Rangkaian eks MaTo 69 (BOO109) saat ini diperpendek menjadi 8SF dengan melepas dua kereta berkabin di tengah rangkaian
Rangkaian eks MaTo 52 (BUD2) saat ini sudah tidak beroperasi karena mengalami anjlok di Kampung Bandan pada 2022 lalu.
Rangkaian eks MaTo 69 (BOO109) saat ini Tidak Siap Guna Operasi (TSGO) di Depo KRL Depok karena mengalami anjlok di Stasiun Jakarta Kota pada Agustus 2025 lalu.
Filipina
Pada November 2011, 5 set dalam 10 kereta seri 203 bekas (nomor set 53, 54, 55, 67) dikirim ke Philippine National Railways (PNR) di Filipina untuk layanan kereta komuter Metro di Tutuban Filipina, menggantikan gerbong 12 dan 14 bekas Jepang, kereta seri. Pada Oktober 2013, 7 rangkaian 4 kereta telah dibentuk, seperti ditunjukkan di bawah ini, dengan gerbong "A" di ujung Alabang. Karena kurangnya elektrifikasi di jalur Tutuban-Alabang, unit-unit tersebut dilengkapi dengan generator bertenaga diesel di head car untuk menyediakan tenaga untuk pintu, penerangan, dan AC. Mereka biasanya diangkut oleh lokomotif kelas 900 untuk layanan komuter. Lokomotif kelas 2500 dan kelas 5000 melangsir KRL seri 203 di Tutuban untuk pengisian bahan bakar.
Nomor
A
B
C
D
EMU-1
203-107 (01A)
203-11 (01B)
202-7 (01C)
203-9 (01D)
EMU-2
202-4 (02A)
202-11 (02B)
203-7 (02C)
202-12 (02D)
EMU-3
203-5 (03A)
203-9A (03B)
202-9 (03C)
203-10 (03D)
EMU-4
203-4 (04A)
203-13 (04B)
202-10 (04C)
203-14 (04D)
EMU-5
203-3 (05A)
203-121 (05B)
202-120 (05C)
203-8 (05D)
EMU-6
202-3 (06A)
202-15 (06B)
203-15 (06C)
203-7 (06D)
EMU-7
202-107 (07A)
203-120 (07B)
202-8 (07C)
203-10 (07D)
Catatan:
Rangkaian yang tiba di Filipina dibagi menjadi 4 kereta per rangkaian untuk menyesuaikan panjang peron di Filipina yang hanya dapat menampung maksimal 6 kereta.
konfigurasi EMU per Desember 2019
← Alabang
Tutuban →
Set No.
1
2
3
4
5
EMU 01
KuHa 203-107
MoHa 203-10
MoHa 202-15
SaHa 203-6
MoHa 203-12
EMU 02
KuHa 202-4
MoHa 202-9
MoHa 203-9
SaHa 203-5
MoHa 202-12
EMU 05
KuHa 203-3
MoHa 203-121
MoHa 202-120
SaHa 203-114
MoHa 203-14
EMU 06
KuHa 202-3
MoHa 202-11
MoHa 203-11
SaHa 203-7
MoHa 202-8
EMU 07
KuHa 202-107
MoHa 202-14
MoHa 203-7
SaHa 203-8
EMU 08
KuHa 202-5
MoHa 202-10
MoHa 203-13
SaHa 203-9
MoHa 202-119
Pada April 2019, gerbong utama KRL 06 (KuHa 202-3) dipindahkan ke KRL 02. Pada Mei 2019, gerbong utama KRL 01 (KuHa 203-107) digantikan oleh gerbong utama KRL 04 (KuHa 203-4 ) dan pada bulan Juli, gerbong utama KRL 07 (KuHa 202-107) dipindahkan ke KRL 08.
Karena alasan penuaan, unit AC seri 203 macet. PNR melakukan lelang pengadaan sepuluh unit AC seri 203 pada Agustus hingga September 2018. PT INKA lolos proses lelang, tetapi setelah pascakualifikasi penawar tunggal dinyatakan pascadiskualifikasi sehingga menyebabkan gagal lelang. Lagi-lagi lelang kedua dilakukan pada Desember 2018. PT INKA kembali mengikuti, dan lolos proses lelang. Perusahaan melewati proses pasca-kualifikasi dan kemudian mendapatkan kontrak pada Februari 2019.[10] Penggantian unit AC dilakukan pada Februari 2020, dengan unit AC Model ACI-4202 I-Cond yang baru dipasang di KRL 05 dan 06. Di sisi lain, PNR saat ini sedang dalam proses pengadaan 15 unit AC untuk kereta ini.
PNR membeli panel polikarbonat dari PT Industries Incorporated melalui penawaran umum pada tahun 2009 untuk menggantikan jendela lama Seri 203. Kontrak tersebut juga mencakup penggantian jendela KRD Hyundai Rotem, KiHa 350, KiHa 52, dan kereta KiHa 59 (KoGaNe). Penggantian jendela dilakukan pada tahun 2020, dengan EMU 05 sebagai set pertama yang memasang jendela baru, menghilangkan kebutuhan pemanggang. Keempat set EMU aktif memiliki jendela polikarbonat.
Pada musim panas 2020, PNR menghapus livery biru KRL 04 dan 07. Manajemen telah menanggalkan cat dan fokus pada kemajuan bodywork KRL tersebut (dengan beberapa contoh mengungkapkan livery lama mereka sejak inkarnasi JR mereka). Ini sebagai persiapan livery baru PNR EMU 203 Series.
Hingga Februari 2021, KRL 04 dan 07 masih belum memiliki corak baru, meskipun dicat dengan warna abu-abu primer.
*)Tidak pernah dioperasikan KAI Commuter secara langsung, namun pernah beroperasi di layanan-layanan yang kemudian diambil alih KAI Commuter di Jabodetabek, Bandung, Yogya-Solo, dan Surabaya
*dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (hingga 20 September 2017) dan PT Kereta Commuter Indonesia (hingga saat ini)
**dioperasikan oleh PT Kereta Api Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek (hingga 15 September 2008) & PT KA Commuter Jabodetabek (hingga 2 Juli 2011)
***operasional dialihkan dari swakelola perusahaan induk karena berfokus pada layanan antarkota dan aglomerasi.
****operasional dialihkan dari KAI Bandara