Wilayah metropolitan Jabodetabek dilayani oleh beberapa layanan bus perkotaan sebagai alat transportasi dari/menuju kota-kota disekitarnya. Secara umum, bus perkotaan di Jabodetabek terbagi menurut operator yang mengoperasikan, yakni pemerintah daerah melalui badan layanan umum atau perusahaan daerah, dan swasta. Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek berperan sebagai regulator pelayanan bus perkotaan yang dioperasikan oleh swasta.[1]
Sejarah
Jauh sebelum bus Transjakarta melalang buana di jalanan Ibukota, bus kota sudah menjadi angkutan umum favorit bagi sebagian besar masyarakat Jakarta. Pada dekade ’50-an, bus merek Robur buatan Jerman Timur dan Ikarus buatan Hongaria terlebih dahulu dipercaya untuk menjadi bus kota. Baru pada tahun 1969, Indonesia mendapatkan bantuan sekitar 4000 unit bus merek Dodge yang merupakan buah bantuan dari Amerika hingga tahun 1974. Bus Dodge ini dikelola oleh Perusahaan Umum Pengangkut Penumpang Djakarta (Perum PPD) dan sejumlah perusahaan operator swasta. Bus ini cukup legendaris lantaran masih mengaplikasi ‘moncong’ atau ‘hidung’ sebagai ruang mesin. Sepak terjang bus Dodge inipun berakhir pada tahun 1980-an dan diganti oleh bus buatan Jepang dan Eropa.[2]
Selain Perum PPD, perusahaan otobus swasta lainnya juga turut mengoperasikan bus kota Jakarta seperti Mayasari Bakti, Metomini, Kopaja, Bianglala Metropolitan, Bayu Holong Persada, dan lain sebagainya. [3]
Setelah beberapa tahun, Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta saat itu mengusulkan pembangunan proyek BRT di Jakarta. Bus kota Jakarta modern pertama dimulai 1 Februari 2004 dengan peluncuran Transjakarta sebagai sistem BRT pertama di Asia Tenggara. Selama beroperasi, sederet inovasi telah dibuat Transjakarta, seperti pembukaan koridor baru maupun penambahan armada. Pada 2017, misalnya, Transjakarta meluncurkan 116 armada bus baru. Transjakarta juga membeli 300 unit bus low entry yang berlantai rendah, sehingga ramah terhadap difabel. Pada tahun yang sama, Transjakarta juga berinovasi dengan menghadirkan Transjakarta Cares yang dapat digunakan penyandang disabilitas secara gratis. [3]
Sebagai layanan bus perkotaan dengan cakupan terbesar se-Jabodetabek, Transjakarta menyediakan layanan pengumpan perbatasan untuk wilayah yang berdekatan dengan DKI Jakarta. Tarif yang dibayar penumpang sama dengan tarif layanan di dalam kota Jakarta dan memungkinkan untuk tidak dikenakan biaya tambahan apabila penumpang berpindah halte.[4] Sejak 2018, Transjakarta mulai menyediakan layanan Royaltrans sebagai layanan premium (non ekonomi) Transjakarta dengan tarif lebih mahal, tetapi dengan fasilitas premium.[5] Di luar angkutan untuk penglaju, Transjakarta juga mengoperasikan layanan bus wisata gratis untuk 4 rute pelayanan.[6]
Bus Besar (tenaga listrik), Bus Besar (non-listrik) dan Bus Dek Rendah (tenaga listrik)
Bayu Holong Persada
Bus Besar
BisKita dan bus lainnya oleh pemerintah daerah
Beroperasinya layanan bus Transjakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2004 memacu pemerintah daerah di pinggiran Jakarta untuk menyediakan layanan bus sendiri.[7] Sejak tahun 2021, pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan meluncurkan layanan BisKita sebagai layanan bus perkotaan berbasis pembelian layanan untuk menjangkau wilayah-wilayah di kota penyangga Jabodetabek. Layanan ini tersedia di empat kabupaten/kota, yakni di Kota Bogor,[8]Kota Depok,[9]Kota Bekasi,[10] dan Kabupaten Bekasi.[11]
Pemerintah Kota Bekasi resmi mengoperasikan layanan angkutan umum massal Trans Beken pada lintasan Terminal Bekasi–Harapan Indah. Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sebagai bagian dari komitmen menghadirkan sistem transportasi publik yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada kenyamanan warga.[13]
Layanan Transjabodetabek[18][19] adalah pengembangan dari layanan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB) yang sudah dihapus per 1 Juni2016.[20][21] Layanan ini dioperasikan oleh pemerintah pusat dan daerah seperti Transjakarta dan DAMRI[22] dan operator bus swasta seperti Mayasari Bakti, Lorena, dan Sinar Jaya untuk melayani atau menaikturunkan penumpang dari wilayah pinggiran Jabodetabek menuju pusat Jakarta ataupun melintas kota-kota di Jabodetabek.[23][24] Layanan ini terdiri atas dua jenis, yakni Reguler dan Bisnis.[25]
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menegaskan bahwa ke depannya layanan Transjabodetabek akan memiliki standar yang sama dengan Transjakarta. Bus yang digunakan dalam layanan ini akan dikelola oleh Transjakarta, sehingga pengguna akan mendapatkan pengalaman serupa dengan sistem transportasi dalam kota Jakarta. Pemprov DKI Jakarta juga tengah mengembangkan konsep Transit Oriented Development (TOD), yang berfokus pada integrasi transportasi publik dengan tata ruang kota.[26]
Bus Jabodetabek Residence Conexion (JR Conexion) dengan sasis Hino RK8 R260 yang dioperasikan Pengangkutan Penumpang Djakarta (saat ini DAMRI) yang mencakup wilayah Jabodetabek dan kawasan perumahan di wilayah tersebut
Jabodetabek Residence Connexion (umum dikenal sebagai JR Connexion)[27] adalah pengembangan dari layanan Transjabodetabek Premium sebagai angkutan permukiman tidak dalam trayek dari kawasan perumahan dan kota mandiri di wilayah Bodetabek menuju Jakarta dan sebaliknya.[28] Layanan yang beroperasi sejak Februari2017 ini dioperasikan oleh operator bus yang bekerja sama dengan pihak pengembang perumahan yang akan dilayani.[29] Beberapa pemain utama layanan JR Connexion di antaranya seperti operator bus milik BUMN RI seperti DAMRI[22] dan operator bus swasta seperti Mayasari Bakti, Sinar Jaya,[30] Lorena, dan lain sebagainya. Layanan ini memiliki tarif bervariasi dengan fasilitas premium.[31][32]
Angkutan pengumpan (feeder) adalah layanan transportasi umum yang menghubungkan pemukiman atau area di luar jalur utama dengan halte/stasiun BRT Transjakarta, kereta, atau pusat transfer lainnya. Layanan ini bertujuan memperluas jangkauan transportasi massal, memudahkan mobilitas warga dari rumah, dan meningkatkan konektivitas antarmoda.[38]
Angkutan pengumpan berupa Bus
Armada bus Minitrans
Angkutan pengumpan berupa bus di Jabodetabek adalah rute-rute bus pengumpan yang jangkauannya di dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya. Rute-rute bus pengumpan ini kebanyakan memakai rute-rute bekas bus kota, seperti Kopaja dan Metromini. Penumpang yang akan naik dari kawasan yang tidak ada halte BRT-nya (tidak melalui halte), menunggu di pinggir jalan yang terdapat papan bergambar bus bertuliskan, "STOP, bus pengumpan Transjakarta". Penumpang hanya diizinkan untuk naik dan turun di titik angkut yang telah ditentukan.[39]
Angkutan pengumpan berperan penting dalam mendorong peralihan ke transportasi publik massal di kawasan Jabodetabek. Namun, sebagian besar armada yang digunakan masih berbasis bahan bakar fosil dan berkontribusi terhadap polusi udara yang tinggi. Dengan mempertimbangkan urgensi terhadap polusi udara dan perlunya elektrifikasi transportasi publik, dokumen ini akan mengelaborasi secara lebih mendalam pengembangan peta jalan elektrifikasi transportasi publik di Kota Bogor. Berdasarkan kriteria kesiapan yang dikembangkan oleh ITDP, Kota Bogor merupakan kota yang paling siap untuk melakukan elektrifikasi transportasi publik perkotaan di luar Daerah Khusus Jakarta.[40]
Galeri
Transjakarta Scania K320iA dengan bodi Laksana Cityline2 untuk layanan Transjakarta