ENSIKLOPEDIA
Instrumen Penyerahan Diri Jerman
Nama panjang:
| |
|---|---|
Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel menandatangani dokumen penyerahan tanpa syarat, 8 Mei 1945 | |
| Jenis | Kapitulasi |
| Ditandatangani | 8 Mei 1945; 81 tahun lalu (1945-05-08) |
| Lokasi | Berlin, Jerman |
| Syarat | Ditandatangani |
| Penanda tangan | |
| Pihak | |
| Ratifikasi |
|

Instrumen Penyerahan Diri Jerman[a] adalah sebuah dokumen hukum yang memberlakukan penyerahan tanpa syarat dari sisa-sisa angkatan bersenjata Jerman kepada Sekutu serta mengakhiri Perang Dunia II di Eropa. Dokumen ini ditandatangani pada pukul 22.43 CET tanggal 8 Mei 1945[b] dan mulai berlaku pada pukul 23.01 CET pada hari yang sama.
Sehari sebelumnya, Jerman telah menandatangani dokumen penyerahan diri lainnya dengan Sekutu di Reims, Prancis, tetapi dokumen tersebut tidak diakui oleh Uni Soviet. Uni Soviet antara lain menuntut agar instrumen penyerahan diri dilakukan di pusat pemerintahan Jerman Nazi tempat agresi Jerman bermula. Oleh karena itu, dokumen lain perlu ditandatangani. Selain itu, segera setelah penandatanganan dokumen pertama, pasukan Jerman diperintahkan untuk melakukan gencatan senjata di barat dan melanjutkan pertempuran di timur. Jerman di bawah Pemerintahan Flensburg yang dipimpin oleh Großadmiral Karl Dönitz—yang saat itu menjabat sebagai Presiden berdasarkan wasiat terakhir Hitler—juga menerima saran Sekutu untuk menandatangani dokumen baru. Dokumen tersebut ditandatangani di markas Administrasi Militer Soviet di Jerman (Karlshorst, Berlin) oleh perwakilan dari Oberkommando der Wehrmacht (OKW) Jerman,[c] Pasukan Ekspedisi Sekutu yang diwakili oleh Britania Raya, serta Komando Tinggi Utama Tentara Merah Soviet, dengan perwakilan Prancis dan Amerika Serikat bertindak sebagai saksi. Kali ini, Marsekal Lapangan Wilhelm Keitel menjadi perwakilan dengan pangkat tertinggi dari Jerman dalam upacara penandatanganan tersebut. Dokumen penyerahan diri ini juga menyebabkan jatuhnya Jerman Nazi secara de facto. Sebagai salah satu akibat dari runtuhnya Jerman, Sekutu secara de factocode: la is deprecated telah menduduki Jerman sejak kekalahan negara tersebut – yang belakangan dikonfirmasi melalui Deklarasi Berlin pada 5 Juni 1945 oleh empat negara Sekutu (Prancis, Uni Soviet, Britania Raya, dan Amerika Serikat) sebagai perwakilan bersama dari Jerman baru.
Terdapat tiga versi dari dokumen penyerahan diri tersebut – Inggris, Rusia, dan Jerman – dengan versi bahasa Inggris dan Rusia dinyatakan di dalam dokumen itu sendiri sebagai satu-satunya versi yang berotoritas.
Latar belakang
Pada 30 April 1945, Adolf Hitler bunuh diri di dalam Führerbunker miliknya di bawah Kekanseliran Reich,[3] setelah menyusun surat wasiat yang menetapkan Laksamana Karl Dönitz sebagai penerusnya selaku kepala negara Jerman berikutnya dengan gelar Reichspräsident.[4] Jabatan tersebut sebelumnya sempat lowong sejak masa Republik Weimar. Dua hari kemudian, Berlin jatuh serta pasukan Amerika Serikat dan Soviet bertemu di Torgau di tepi Sungai Elbe, sehingga wilayah Jerman yang masih berada di bawah kendali militer Jerman terpecah menjadi dua. Selain itu, pesatnya gerak maju terakhir Sekutu pada Maret 1945, ditambah dengan perintah gigih Hitler untuk bertahan dan bertempur hingga titik darah penghabisan, membuat sebagian besar sisa pasukan Jerman terjebak dalam kantong-kantong terisolasi dan wilayah pendudukan yang sebagian besar berada di luar batas wilayah Jerman pra-Nazi.
Dönitz mencoba membentuk sebuah pemerintahan di Flensburg yang berada di perbatasan Denmark. Ia disusul di sana pada 2 Mei 1945 oleh Oberkommando der Wehrmacht (OKW, Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata) di bawah pimpinan Wilhelm Keitel, yang sebelumnya telah dipindahkan ke Krampnitz di dekat Potsdam serta kemudian ke Rheinsberg selama Pertempuran Berlin. Dönitz berusaha menampilkan pemerintahannya sebagai pemerintahan nonpolitik. Meskipun demikian, tidak ada penolakan terhadap Nazisme, Partai Nazi tidak dilarang, para tokoh utama Nazi tidak ditahan, dan simbol-simbol Nazisme tetap dipertahankan pada tempatnya. Akibat kekurangan-kekurangan ini, baik pihak Soviet maupun Amerika Serikat tidak mengakui Dönitz atau Pemerintah Flensburg sebagai pihak yang sah untuk mewakili negara Jerman.[butuh rujukan]
Saat kematian Hitler, pasukan Jerman masih bertahan di kantong-kantong Atlantik seperti La Rochelle, St Nazaire, Lorient, Dunkirk, dan Kepulauan Channel; pulau-pulau Yunani seperti Kreta, Rhodes, dan Dodekanisa; sebagian besar Norwegia; Denmark; bagian barat laut Belanda; bagian utara Kroasia; bagian utara Italia; Austria; Bohemia dan Moravia; Semenanjung Kurland di Latvia; Semenanjung Hel di Polandia; serta di wilayah Jerman ke arah Hamburg untuk menghadapi pasukan Britania Raya dan Kanada. Pasukan Jerman juga masih bertahan di Mecklenburg, Pomerania, dan kota Breslau yang terkepung untuk menghadapi pasukan Soviet, serta di Bavaria selatan ke arah Berchtesgaden untuk menghadapi pasukan Amerika Serikat dan Prancis.[5]
Dokumen penyerahan diri

Perwakilan dari Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Britania Raya yang bekerja melalui Komisi Penasihat Eropa (EAC) sepanjang tahun 1944 berupaya menyusun sebuah dokumen penyerahan diri yang disepakati untuk digunakan apabila kekuasaan Nazi di Jerman digulingkan oleh otoritas militer atau sipil serta pemerintah pasca-Nazi kemudian mengajukan gencatan senjata. Pada 3 Januari 1944, Komite Keamanan Kerja di EAC mengusulkan:
bahwa kapitulasi Jerman harus dicatat dalam satu dokumen penyerahan tanpa syarat tunggal.[6]
Komite tersebut lebih lanjut menyarankan agar instrumen penyerahan diri ditandatangani oleh perwakilan dari Komando Tertinggi Jerman. Pertimbangan di balik rekomendasi ini adalah untuk mencegah berulangnya apa yang disebut sebagai mitos tikam dari belakang. Melalui mitos tersebut, kelompok ekstremis di Jerman mengeklaim bahwa karena Gencatan Senjata 11 November 1918 hanya ditandatangani oleh warga sipil, Komando Tertinggi Angkatan Darat tidak bertanggung jawab atas instrumen kekalahan maupun kekalahan itu sendiri.[butuh rujukan]
Tidak semua pihak menyetujui prediksi komite tersebut. Duta Besar Sir William Strang selaku perwakilan Britania Raya di EAC menyatakan:
Saat ini mustahil untuk memprediksi dalam situasi seperti apa permusuhan dengan Jerman dapat dihentikan. Oleh karena itu, kita tidak dapat memastikan prosedur mana yang paling sesuai; apakah, misalnya, jalan terbaik adalah mengadakan gencatan senjata yang penuh dan terperinci; atau gencatan senjata yang lebih singkat yang memberikan wewenang umum; atau mungkin tidak ada gencatan senjata sama sekali, melainkan serangkaian kapitulasi lokal oleh para komandan musuh.[7]
Syarat-syarat penyerahan diri Jerman awalnya dibahas dalam pertemuan pertama EAC pada 14 Januari 1944. Sebuah teks definitif yang terdiri atas tiga bagian disepakati pada 28 Juli 1944 serta diadopsi oleh ketiga Kekuatan Sekutu.[8]
Bagian pertama terdiri atas mukadimah singkat: "Pemerintah Jerman dan Komando Tinggi Jerman, menyadari serta mengakui kekalahan total angkatan bersenjata Jerman di darat, di laut, dan di udara, dengan ini mengumumkan penyerahan tanpa syarat Jerman".[9]
Bagian kedua, yaitu Pasal 1–5, berkaitan dengan penyerahan militer oleh Komando Tinggi Jerman atas seluruh pasukan di darat, di laut, dan di udara, penyerahan persenjataan mereka, evakuasi pasukan dari wilayah mana pun di luar batas wilayah Jerman per 31 Desember 1937, serta status mereka yang tunduk pada penahanan sebagai tawanan perang.
Bagian ketiga, yaitu Pasal 6 hingga 12, berkaitan dengan penyerahan hampir seluruh kekuasaan dan wewenang pemerintah Jerman kepada perwakilan Sekutu, pembebasan dan repatriasi tawanan serta pekerja paksa, penghentian siaran radio, penyediaan intelijen dan informasi, pemeliharaan senjata dan infrastruktur, penyerahan para pemimpin Nazi untuk pengadilan kejahatan perang, serta wewenang Perwakilan Sekutu untuk mengeluarkan proklamasi, perintah, tata tertib, dan instruksi yang mencakup "persyaratan tambahan di bidang politik, administratif, ekonomi, keuangan, militer, dan persyaratan lainnya yang timbul dari kekalahan total Jerman". Pasal kunci dalam bagian ketiga ini adalah Pasal 12, yang menetapkan bahwa pemerintah Jerman dan Komando Tinggi Jerman akan mematuhi sepenuhnya setiap proklamasi, perintah, tata tertib, dan instruksi dari perwakilan Sekutu yang terakreditasi. Pihak Sekutu memahami hal ini sebagai pemberian ruang lingkup tanpa batas untuk memberlakukan pengaturan terkait restitusi dan reparasi kerusakan. Pasal 13 dan 14 merinci tanggal penyerahan diri serta bahasa dari teks-teks definitif tersebut.[8]
Konferensi Yalta pada Februari 1945 mendorong pengembangan lebih lanjut dari syarat-syarat penyerahan diri, seiring disepakatinya bahwa administrasi Jerman pascaperang akan dibagi menjadi empat zona pendudukan untuk Uni Soviet, Britania Raya, Prancis, dan Amerika Serikat.[10] Dalam Konferensi Yalta juga disepakati bahwa sebuah klausa tambahan, yaitu "12a", akan dimasukkan ke dalam teks penyerahan diri Juli 1944. Klausa tersebut menyatakan bahwa perwakilan Sekutu "akan mengambil langkah-langkah, termasuk perlucutan senjata secara menyeluruh, demiliterisasi, dan pemecahan wilayah Jerman sebagaimana yang mereka anggap perlu demi perdamaian dan keamanan masa depan."[11] Namun, Pemerintahan Sementara Republik Prancis tidak menjadi bagian dari perjanjian Yalta dan menolak untuk mengakuinya. Hal ini menimbulkan masalah diplomatik karena pencantuman resmi klausa tambahan tersebut ke dalam teks EAC dipastikan akan memicu tuntutan Prancis untuk mendapatkan representasi yang setara dalam setiap keputusan pemecahan wilayah. Selama masalah ini belum terselesaikan, secara efektif terdapat dua versi dari teks EAC, yaitu satu versi dengan "klausa pemecahan wilayah" dan satu versi tanpanya.[11]
Menjelang akhir Maret 1945, pemerintah Britania mulai meragukan apakah setelah Jerman ditundukkan sepenuhnya, masih akan ada otoritas sipil Jerman pasca-Nazi yang mampu menandatangani instrumen penyerahan diri atau memberlakukan ketentuan-ketentuannya. Mereka mengusulkan agar teks EAC disusun ulang menjadi sebuah deklarasi sepihak mengenai kekalahan Jerman oleh Kekuatan Sekutu serta pengambilalihan otoritas tertinggi oleh mereka setelah pembubaran total negara Jerman.[9] Dalam bentuk inilah teks yang disepakati oleh EAC akhirnya diberlakukan sebagai Deklarasi Mengenai Kekalahan Jerman.
Sementara itu, Kepala Staf Gabungan Sekutu Barat pada Agustus 1944 menyetujui pedoman umum untuk syarat-syarat penyerahan diri militer lokal yang akan disepakati dengan pasukan Jerman mana pun yang menyerah. Mereka mengamanatkan bahwa penyerahan diri harus tanpa syarat, terbatas pada aspek militer murni dari penyerahan lokal, dan tidak ada komitmen apa pun yang boleh diberikan kepada musuh. Penyerahan diri tersebut juga tidak boleh memengaruhi instrumen penyerahan diri umum di kemudian hari yang mungkin menggantikan dokumen penyerahan diri sebagian serta akan diberlakukan secara bersama-sama terhadap Jerman oleh tiga Kekuatan Sekutu utama. Pedoman-pedoman ini menjadi dasar bagi serangkaian penyerahan diri sebagian dari pasukan Jerman kepada Sekutu Barat pada April dan Mei 1945.[9]
Ketika penyerahan diri Jerman akhirnya terjadi, teks EAC digantikan oleh versi khusus militer yang lebih sederhana berdasarkan rumusan instrumen penyerahan diri sebagian dari pasukan Jerman di Italia yang ditandatangani dalam Penyerahan Caserta.[12] Alasan di balik perubahan tersebut masih diperdebatkan, tetapi kemungkinan mencerminkan kesadaran akan adanya keraguan mengenai kemampuan para utusan Jerman untuk menyetujui ketentuan dalam teks lengkap atau ketidakpastian yang terus berlanjut terkait penyampaian "klausa pemecahan wilayah" kepada pihak Prancis.[11][13]
Instrumen penyerahan diri sebagian
Pasukan Jerman di Italia dan Austria Barat
Para komandan militer Jerman di Italia telah melakukan negosiasi rahasia untuk penyerahan diri sebagian, yang kemudian ditandatangani di Caserta pada 29 April 1945 dan mulai berlaku pada 2 Mei. Generalfeldmarschall Albert Kesselring, selaku pemegang komando militer tertinggi untuk Selatan, awalnya mengecam kapitulasi tersebut, tetapi ia menyetujuinya setelah kematian Hitler terkonfirmasi.
Pasukan Jerman di Jerman Barat Laut, Belanda, Denmark, dan Schleswig-Holstein

Pada 4 Mei 1945, pasukan Jerman yang bertindak di bawah instruksi Pemerintah Dönitz dan menghadapi Grup Angkatan Darat ke-21 Britania dan Kanada, menandatangani instrumen penyerahan diri di Lüneburg Heath yang mulai berlaku pada 5 Mei.
Pasukan Jerman di Jerman Selatan
Pada 5 Mei 1945, seluruh pasukan Jerman di Bavaria dan Jerman Barat Daya menandatangani instrumen penyerahan diri kepada pasukan Amerika Serikat di Haar, di luar München serta mulai berlaku pada 6 Mei.[9]
Dorongan bagi kapitulasi Caserta muncul dari dalam komando militer lokal Jerman. Namun, sejak 2 Mei 1945, Pemerintah Dönitz mengambil alih kendali atas proses tersebut dengan menjalankan kebijakan sengaja berupa serangkaian kapitulasi sebagian di barat. Langkah ini diambil demi mengulur waktu agar dapat menarik sebanyak mungkin formasi militer timur ke arah barat guna menyelamatkan mereka dari penahanan Soviet atau Yugoslavia serta menyerahkan mereka secara utuh kepada Britania Raya dan Amerika Serikat.[14] Selain itu, Dönitz berharap dapat terus mengevakuasi para prajurit dan warga sipil melalui jalur laut dari Semenanjung Hel beserta daerah pesisir Baltik di sekitarnya.[15] Dönitz dan Keitel bertekad untuk tidak mengeluarkan perintah penyerahan diri apa pun kepada pasukan Soviet. Hal ini didasari oleh sentimen anti-Bolsewisme mereka yang kuat serta ketidakyakinan bahwa perintah tersebut akan dipatuhi. Kegagalan kepatuhan tersebut dikhawatirkan dapat menempatkan pasukan yang masih bertempur dalam posisi pembangkangan terhadap perintah langsung, sehingga merampas perlindungan hukum mereka sebagai tawanan perang.[16]
Penyerahan diri di barat ini berhasil menghentikan permusuhan antara Sekutu Barat dan pasukan Jerman di hampir semua front. Namun, pada saat yang sama, perintah yang disiarkan oleh Pemerintah Dönitz tetap menentang tindakan penyerahan diri Jerman apa pun kepada pasukan Soviet di Kurland, Bohemia, dan Mecklenburg. Mereka bahkan mencoba membatalkan negosiasi penyerahan diri yang sedang berlangsung di Berlin dan Breslau.[17] Sebaliknya, pasukan Jerman di timur diperintahkan untuk bertempur membuka jalan ke arah barat. Eisenhower menyadari bahwa jika hal ini terus berlanjut, Komando Soviet akan menaruh curiga bahwa Sekutu Barat berniat melakukan perdamaian terpisah (yang memang merupakan tujuan utama Dönitz).[15] Oleh karena itu, Eisenhower memutuskan bahwa tidak akan ada lagi penyerahan diri sebagian yang diterima di Barat. Sebaliknya, ia memerintahkan Pemerintah Dönitz untuk mengirimkan perwakilan ke markas Markas Besar Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu (SHAEF) di Reims guna menyepakati syarat-syarat penyerahan diri umum bagi seluruh pasukan Jerman secara serentak kepada semua kekuatan Sekutu, termasuk Soviet.[18]
Menyusul penyerahan diri ini, sisa-sisa kekuatan utama Jerman di medan perang terdiri atas Grup Angkatan Darat E yang menghadapi pasukan Yugoslavia di Kroasia, sisa-sisa Grup Angkatan Darat Vistula yang menghadapi pasukan Soviet di Mecklenburg, dan Grup Angkatan Darat Tengah yang menghadapi pasukan Soviet di Bohemia timur dan Moravia, sedang terlibat dalam Pemberontakan Praha.[19] Sebuah angkatan darat pendudukan yang terdiri atas sekitar 400.000 tentara Jerman dengan persenjataan lengkap tetap bertahan di Norwegia di bawah komando Jenderal Franz Böhme. Böhme dihubungi oleh Menteri Jerman di Swedia pada awal 6 Mei untuk memastikan apakah kapitulasi sebagian lebih lanjut dapat diatur bagi pasukannya dengan Swedia yang netral bertindak sebagai perantara. Namun, ia tidak bersedia mematuhi apa pun selain perintah penyerahan diri umum dari Komando Tertinggi Jerman, yaitu OKW.[20]
Setelah serangkaian penyerahan diri sebagian ini (serta penandatanganan di Reims), Jerman menandatangani dokumen penyerahan diri terakhirnya kepada pihak Sekutu di Berlin.
Upacara penyerahan diri
Dokumen penyerahan diri awal di Reims

Perwakilan Dönitz, Laksamana Hans-Georg von Friedeburg, memberi tahu Dönitz pada 6 Mei bahwa Eisenhower kini mendesak adanya "penyerahan diri segera, serentak, dan tanpa syarat di semua front."[18] Generaloberst Alfred Jodl dikirim ke Reims untuk mencoba membujuk Eisenhower agar mengubah keputusan tersebut, tetapi Eisenhower memotong diskusi apa pun dengan mengumumkan pada pukul 21.00 tanggal 6 Mei bahwa jika tidak ada kapitulasi penuh, ia akan menutup jalur Britania dan Amerika bagi pasukan Jerman yang menyerah pada tengah malam tanggal 8 Mei serta melanjutkan serangan pengeboman terhadap kota-kota dan posisi-posisi yang masih dikuasai Jerman.[21] Jodl mengirimkan pesan ini melalui telegraf kepada Dönitz yang kemudian merespons dengan memberikan wewenang kepadanya untuk menandatangani instrumen penyerahan tanpa syarat tersebut, tetapi dengan syarat menegosiasikan penundaan selama 48 jam yang bertujuan untuk memungkinkan perintah penyerahan diri disampaikan kepada unit-unit militer Jerman yang berada di luar teritorial utama.[16]
Oleh karena itu, Instrumen Penyerahan Diri pertama ditandatangani di Reims pada pukul 02.41 Waktu Eropa Tengah (CET) tanggal 7 Mei 1945. Penandatanganan tersebut berlangsung di sebuah gedung sekolah bata merah, yaitu Collège Moderne et Technique de Reims [fr], yang berfungsi sebagai markas besar SHAEF. Gedung tersebut kini menjadi Museum Penyerahan Diri [fr].[22] Dokumen ini mulai berlaku pada pukul 23.01 CET (satu menit setelah pukul 23.00, Waktu Musim Panas Ganda Britania) tanggal 8 Mei, setelah masa tenggang 48 jam dihitung mundur sejak awal negosiasi akhir.[23]
Penyerahan tanpa syarat dari angkatan bersenjata Jerman ditandatangani oleh Jodl atas nama OKW. Jenderal Walter Bedell Smith menandatanganinya atas nama Panglima Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu dan Jenderal Ivan Susloparov atas nama Komando Tinggi Soviet.[24] Mayor Jenderal Prancis François Sevez menandatanganinya sebagai saksi resmi.
Selama proses tersebut, Eisenhower terus berkonsultasi dengan Jenderal Aleksei Antonov dari Komando Tinggi Soviet. Atas permintaan Antonov, Jenderal Susloparov telah diperbantukan ke Markas Besar SHAEF untuk mewakili Komando Tinggi Soviet dalam negosiasi penyerahan diri. Teks instrumen penyerahan diri tersebut telah dikirimkan melalui telegraf kepada Jenderal Antonov pada dini hari tanggal 7 Mei, tetapi konfirmasi persetujuan Soviet belum diterima hingga upacara penyerahan diri dimulai serta tidak ada pula konfirmasi bahwa Jenderal Susloparov diberi wewenang untuk menandatanganinya sebagai wakil dari Komando Tinggi Soviet. Oleh karena itu, Eisenhower sepakat dengan Susloparov bahwa sebuah teks terpisah harus ditandatangani oleh para utusan Jerman yang berisi komitmen bahwa perwakilan dengan wewenang penuh dari setiap matra angkatan bersenjata Jerman akan menghadiri ratifikasi resmi atas instrumen penyerahan diri pada waktu dan tempat yang ditentukan oleh Komando Tinggi Sekutu.
Teks instrumen penyerahan diri awal
|
UNDERTAKING GIVEN BY CERTAIN GERMAN EMISSARIES TO THE ALLIED HIGH COMMANDS |
"KOMITMEN YANG DIBERIKAN OLEH UTUSAN JERMAN TERTENTU KEPADA KOMANDO TINGGI SEKUTU |
|
It is agreed by the German emissaries undersigned that the following German officers will arrive at a place and time designated by the Supreme Commander, Allied Expeditionary Force, and the Soviet High Command prepared, with plenary powers, to execute a formal ratification on behalf of the German High Command of this act of Unconditional Surrender of the German armed forces. |
Para utusan Jerman yang bertandatangan di bawah ini menyepakati bahwa para perwira Jerman berikut akan tiba di tempat dan waktu yang ditentukan oleh Panglima Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu serta Komando Tinggi Soviet dalam keadaan siap dan membawa wewenang penuh untuk melaksanakan ratifikasi resmi atas nama Komando Tinggi Jerman terhadap instrumen Penyerahan Tanpa Syarat dari angkatan bersenjata Jerman ini. |
|
Chief of the High Command; Commander-in-Chief of the Army; Commander-in-Chief of the Navy; Commander-in-Chief of the Air Forces. |
Kepala Komando Tinggi; Panglima Tertinggi Angkatan Darat; Panglima Tertinggi Angkatan Laut; Panglima Tertinggi Angkatan Udara. |
|
SIGNED |
TERTANDA |
|
JODL |
JODL |
|
Representing the German High Command. DATED 0241 7 May 1945 Rheims, France |
Mewakili Komando Tinggi Jerman. TERTANGGAL 02.41 7 Mei 1945 Reims, Prancis."[25] |
Dokumen penyerahan diri definitif di Berlin


Sekitar enam jam setelah penandatanganan di Reims, sebuah tanggapan diterima dari Komando Tinggi Soviet yang menyatakan bahwa instrumen Penyerahan Diri tersebut tidak dapat diterima, baik karena teksnya berbeda dari yang disepakati oleh EAC maupun karena Susloparov tidak diberi wewenang untuk menandatanganinya.[26] Namun, keberatan-keberatan ini hanyalah alasan; keberatan substantif dari pihak Soviet adalah bahwa instrumen penyerahan diri harus menjadi sebuah peristiwa sejarah yang unik, tunggal, dan monumental yang sepenuhnya mencerminkan kontribusi utama rakyat Soviet terhadap kemenangan akhir. Mereka menegaskan bahwa upacara tersebut tidak boleh diadakan di wilayah merdeka yang telah menjadi korban agresi Jerman, melainkan di pusat pemerintahan tempat agresi Jerman itu bermula: Berlin.[16] Selain itu, pihak Soviet menunjukkan bahwa meskipun syarat-syarat penyerahan diri yang ditandatangani di Reims mewajibkan pasukan Jerman untuk menghentikan semua aktivitas militer dan tetap berada di posisi mereka saat ini, mereka tidak diwajibkan secara eksplisit untuk meletakkan senjata dan menyerahkan diri. "Yang harus terjadi di sini adalah penyerahan pasukan Jerman, dengan menyerahkan diri mereka sebagai tawanan."[27] Eisenhower segera setuju dan mengakui bahwa instrumen penyerahan diri yang ditandatangani di Reims harus dianggap sebagai "sebuah instrumen singkat penyerahan militer tanpa syarat".[28] Ia berkomitmen untuk hadir bersama perwakilan Komando Tinggi Jerman yang terakreditasi secara benar dalam "penandatanganan yang lebih formal" dari teks yang telah disesuaikan di bawah pimpinan Marsekal Georgy Zhukov di Berlin (ibu kota Jerman Nazi) pada 8 Mei.[28] Selain itu, ia mengeluarkan pernyataan klarifikasi bahwa setiap pasukan Jerman yang terus bertempur melawan Soviet setelah batas waktu yang ditentukan "tidak lagi memiliki status sebagai tentara".[29] Oleh karena itu, jika mereka menyerahkan diri kepada pasukan Amerika atau Britania, mereka akan diserahkan kembali ke penahanan Soviet.
Dampak dari penandatanganan di Reims hanya sebatas pada konsolidasi gencatan senjata yang efektif antara pasukan Jerman dan Sekutu Barat. Namun, pertempuran terus berlanjut tanpa surut di timur, terutama karena pasukan Jerman kini mengintensifkan serangan udara dan darat mereka terhadap pemberontakan Praha,[18] sementara evakuasi pasukan Jerman melalui jalur laut melintasi Laut Baltik terus berjalan. Dönitz mengeluarkan perintah baru agar perlawanan terhadap pasukan Soviet tetap dipertahankan dengan memanfaatkan masa tenggang 48 jam untuk melipatgandakan upaya penyelamatan unit militer Jerman dari penahanan Soviet. Segera setelah itu, menjadi jelas bahwa ia telah mengizinkan penandatanganan penyerahan diri umum di Reims dengan iktikad buruk. Akibatnya, baik Komando Soviet maupun pasukan Jerman tidak akan menerima penyerahan diri Reims sebagai akhir dari permusuhan di antara mereka. Jenderal Ferdinand Schörner yang memimpin Grup Angkatan Darat Tengah, menyiarkan sebuah pesan kepada pasukannya pada 8 Mei 1945 untuk mengecam "rumor palsu" bahwa OKW telah menyerah kepada Komando Soviet serta Sekutu Barat: "Namun, perjuangan di barat telah berakhir. Meski begitu, tidak ada kata menyerah kepada kaum Bolshevik."[29]

Oleh karena itu, Eisenhower mengatur agar para panglima dari setiap matra angkatan bersenjata Jerman diterbangkan dari Flensburg ke Berlin pada awal 8 Mei. Di sana mereka diminta menunggu sepanjang hari hingga pukul 22.00 ketika delegasi Sekutu tiba serta menyerahkan teks penyerahan diri yang telah diubah kepada mereka.[30] Instrumen Penyerahan Diri Militer definitif tercatat ditandatangani sebelum tengah malam pada 8 Mei[31] di markas Administrasi Militer Soviet di Berlin-Karlshorst, yang sekarang menjadi lokasi Museum Berlin-Karlshorst. Karena Eisenhower selaku Panglima Tertinggi Sekutu untuk Eropa Barat secara teknis memiliki pangkat yang lebih tinggi daripada Zhukov, proses penandatanganan atas nama Sekutu Barat diserahkan kepada wakilnya, Marsekal Udara Arthur Tedder. Perubahan yang diusulkan Soviet terhadap teks penyerahan diri Reims diterima tanpa kesulitan oleh Sekutu Barat, tetapi identifikasi dan penentuan penandatangan Sekutu terbukti lebih bermasalah. Pasukan Prancis beroperasi di bawah komando SHAEF, tetapi Jenderal de Gaulle menuntut agar Jenderal de Tassigny menandatanganinya secara terpisah untuk Komando Tinggi Prancis. Namun, jika demikian, secara politik tidak dapat diterima jika tidak ada tanda tangan Amerika Serikat pada dokumen penyerahan diri definitif tersebut, sementara pihak Soviet tidak menyetujui adanya lebih dari tiga penandatangan Sekutu secara keseluruhan—yang salah satunya haruslah Zhukov. Setelah penyusunan ulang yang berulang kali—yang semuanya memerlukan penerjemahan dan pengetikan kembali—akhirnya disepakati bahwa tanda tangan Prancis dan Amerika Serikat akan bertindak sebagai saksi. Namun, konsekuensinya adalah versi final belum siap ditandatangani hingga lewat tengah malam. Akibatnya, penandatanganan fisik tertunda hingga hampir pukul 01.00 tanggal 9 Mei Waktu Eropa Tengah (CET), yang kemudian tanggalnya dibuat mundur menjadi 8 Mei agar konsisten dengan perjanjian Reims dan pengumuman publik tentang penyerahan diri yang telah disampaikan oleh para pemimpin Barat.[30] Meskipun demikian, deklarasi resmi Soviet menyatakan bahwa penandatanganan berlangsung pada pukul 22.43 CET tanggal 8 Mei, yang berarti penandatanganan tersebut tetap terjadi sebelum penyerahan diri Jerman mulai berlaku.
Instrumen Penyerahan Diri Militer definitif berbeda dari penandatanganan di Reims terutama dalam hal kewajiban adanya tiga penandatangan dari pihak Jerman, yang dapat mewakili sepenuhnya ketiga matra angkatan bersenjata bersama dengan Komando Tinggi Jerman. Selain itu, teks yang diubah tersebut memuat Pasal 2 yang diperluas, yang kini mewajibkan pasukan Jerman untuk melucuti senjata mereka serta menyerahkannya kepada komandan Sekutu setempat. Klausa ini berdampak pada kepastian bahwa kekuatan militer Jerman tidak hanya akan menghentikan operasi militer terhadap pasukan reguler Sekutu, tetapi juga akan melucuti diri mereka sendiri, membubarkan diri, dan dibawa ke penahanan. Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel awalnya ragu terhadap teks yang diubah tersebut serta mengusulkan agar masa tenggang tambahan selama 12 jam diberikan kepada pasukan Jerman yang menyerah sebelum mereka dapat dikenai tindakan hukuman atas ketidakpatuhan berdasarkan Pasal 5. Pada akhirnya, ia harus puas dengan jaminan lisan dari Zhukov.[32]
Laksamana Hans-Georg von Friedeburg adalah satu-satunya perwakilan pasukan Jerman yang selalu hadir dalam penandatanganan instrumen penyerahan diri Jerman di Lüneburg Heath pada 4 Mei 1945, di Reims pada 7 Mei, dan di Berlin pada 8 Mei 1945.
Teks instrumen penyerahan diri definitif
|
ACT OF MILITARY SURRENDER |
"INSTRUMEN PENYERAHAN DIRI MILITER |
|
1. We the undersigned, acting by authority of the German High Command, hereby surrender unconditionally to the Supreme Commander, Allied Expeditionary Force and simultaneously to the Supreme High Command of the Red Army all forces on land, at sea, and in the air who are at this date under German control. |
1. Kami yang bertandatangan di bawah ini, bertindak atas otoritas Komando Tinggi Jerman, dengan ini menyerah tanpa syarat kepada Panglima Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu serta secara bersamaan kepada Komando Tinggi Tentara Merah seluruh pasukan di darat, di laut, dan di udara yang pada tanggal ini berada di bawah kendali Jerman. |
|
2. The German High Command will at once issue orders to all German military, naval and air authorities and to all forces under German control to cease active operations at 23:01 hours Central European time on 8 May 1945, to remain in all positions occupied at that time and to disarm completely, handing over their weapons and equipment to the local allied commanders or officers designated by Representatives of the Allied Supreme Commands. No ship, vessel, or aircraft is to be scuttled, or any damage done to their hull, machinery or equipment, and also to machines of all kinds, armament, apparatus, and all the technical means of prosecution of war in general. |
2. Komando Tinggi Jerman akan segera mengeluarkan perintah kepada seluruh otoritas militer, laut, dan udara Jerman serta kepada seluruh pasukan di bawah kendali Jerman untuk menghentikan operasi aktif pada pukul 23.01 Waktu Eropa Tengah tanggal 8 Mei 1945, tetap bertahan di seluruh posisi mereka saat itu, dan melucuti senjata sepenuhnya dengan menyerahkan senjata serta perlengkapan mereka kepada komandan Sekutu setempat atau perwira yang ditunjuk oleh Perwakilan Komando Tertinggi Sekutu. Tidak boleh ada kapal, sarana pengangkut air, atau pesawat terbang yang ditenggelamkan secara sengaja, dan tidak boleh ada kerusakan yang ditimbulkan pada lambung, mesin, atau perlengkapan mereka, begitu pula pada segala jenis mesin, persenjataan, aparatus, serta seluruh sarana teknis pelaksanaan perang secara umum. |
|
3. The German High Command will at once issue to the appropriate commanders, and ensure the carrying out of any further orders issued by the Supreme Commander, Allied Expeditionary Force and by the Supreme Command of the Red Army. |
3. Komando Tinggi Jerman akan segera meneruskan kepada para komandan yang berwenang serta memastikan pelaksanaan setiap perintah lebih lanjut yang dikeluarkan oleh Panglima Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu dan oleh Komando Tinggi Tentara Merah. |
|
4. This act of military surrender is without prejudice to, and will be superseded by any general instrument of surrender imposed by, or on behalf of the United Nations and applicable to GERMANY and the German armed forces as a whole. |
4. Instrumen penyerahan diri militer ini tidak memengaruhi serta akan digantikan oleh instrumen penyerahan diri umum apa pun yang diberlakukan oleh atau atas nama Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berlaku untuk JERMAN serta angkatan bersenjata Jerman secara keseluruhan. |
|
5. In the event of the German High Command or any of the forces under their control failing to act in accordance with this Act of Surrender, the Supreme Commander, Allied Expeditionary Force and the Supreme High Command of the Red Army will take such punitive or other action as they deem appropriate. |
5. Jika Komando Tinggi Jerman atau pasukan mana pun di bawah kendali mereka gagal bertindak sesuai dengan Instrumen Penyerahan Diri ini, Panglima Tertinggi Pasukan Ekspedisi Sekutu dan Komando Tinggi Tentara Merah akan mengambil tindakan hukuman atau tindakan lain yang mereka anggap tepat. |
|
6. This Act is drawn up in the English, Russian and German languages. The English and Russian are the only authentic texts. |
6. Instrumen ini disusun dalam bahasa Inggris, Rusia, dan Jerman. Hanya teks berbahasa Inggris dan Rusia yang dinyatakan autentik. |
|
Representatives: |
Perwakilan: |
|
* Soviet Union: Marshal Georgy Zhukov: on behalf of the Supreme High Command of the Red Army |
|
|
* United Kingdom: Air Chief Marshal Sir Arthur William Tedder, as Deputy Supreme Commander of the Allied Expeditionary Force |
|
|
* United States: General Carl Spaatz, Commanding United States Strategic Air Forces, as witness |
|
|
* France: General Jean de Lattre de Tassigny, Commanding First French Army, as witness |
|
|
* Germany: |
|
|
** Field Marshal Wilhelm Keitel as the Chief of the General Staff of the German Armed Forces (Wehrmacht) and as representative of the German Army |
|
|
** General-Admiral Hans-Georg von Friedeburg as Commander-in-Chief of the German Navy |
|
|
** Colonel-General Hans-Jürgen Stumpff as the representative of the German Air Force |
|
Dampak penyerahan diri
Secara keseluruhan, penandatanganan di Berlin berhasil mencapai tujuan yang diharapkan; dengan pasukan Jerman di Kurland dan pos-pos terdepan Atlantik seluruhnya menyerah pada 9 Mei dalam masa tenggang informal selama 12 jam. Penyerahan diri Jerman kepada pihak Soviet di Bohemia dan Moravia membutuhkan waktu yang agak lebih lama karena beberapa pasukan Jerman di Bohemia terus berupaya bertempur untuk membuka jalan menuju garis pertahanan Amerika Serikat.
Meskipun demikian, prinsip penyerahan diri bersama secara umum tetap dipatuhi; serta unit-unit yang mencoba menentangnya ditolak untuk bergerak ke barat sehingga mau tidak mau harus menyerah kepada Soviet. Pengecualian terjadi pada Grup Angkatan Darat E di Kroasia yang terus bertempur selama beberapa hari untuk mencoba meloloskan diri dari pasukan partisan Marsekal Tito, sehingga banyak prajurit dari unit-unit ini berhasil menyerahkan diri kepada Jenderal Alexander di Italia. Mereka mencakup sejumlah besar pasukan kolaborator Ustaše, yang kemudian dikembalikan ke Yugoslavia serta langsung dieksekusi tanpa pengadilan.[33]
"VE Day" dan "Hari Kemenangan"
Upacara penandatanganan di Reims dihadiri oleh sejumlah besar wartawan yang semuanya terikat oleh embargo selama 36 jam untuk tidak melaporkan kapitulasi tersebut. Ketika menjadi jelas bahwa penandatanganan definitif kedua diperlukan sebelum Instrumen Penyerahan Diri dapat diberlakukan, Eisenhower setuju bahwa penghentian pemberitaan harus tetap dipertahankan. Namun, jurnalis Amerika Serikat Edward Kennedy dari kantor berita Associated Press di Paris melanggar embargo tersebut pada 7 Mei, yang mengakibatkan penyerahan diri Jerman menjadi berita utama di media Barat pada 8 Mei.[34] Menyadari bahwa secara politik tidak mungkin lagi untuk mempertahankan jadwal semula, akhirnya disepakati bahwa Sekutu Barat akan merayakan "Hari Kemenangan di Eropa" pada 8 Mei, tetapi para pemimpin Barat tidak akan membuat proklamasi resmi tentang Kemenangan sampai malam itu (ketika upacara penandatanganan di Berlin segera berlangsung). Pemerintah Soviet tidak memberikan pengakuan publik apa pun atas penandatanganan di Reims yang tidak mereka akui; Uni Soviet merayakan "Hari Kemenangan" pada 9 Mei 1945 karena dokumen ini ditandatangani ketika waktu telah menunjukkan tanggal 9 Mei di Uni Soviet. Saat ini, baik 8 Mei maupun 9 Mei sama-sama diperingati sebagai akhir dari Perang Dunia II di Eropa karena adanya perbedaan zona waktu.
Deklarasi mengenai kekalahan Jerman
Meskipun para penandatangan militer Jerman dari Instrumen Penyerahan Diri Jerman secara resmi bertindak di bawah instruksi Laksamana Dönitz, tidak ada satu pun dari Pemerintah Sekutu yang mengakui Pemerintah Flensburg sementara tersebut. Oleh karena itu, Sekutu bersikeras bahwa para penandatangan Jerman harus secara eksplisit mewakili Komando Tinggi Jerman saja. Pada 23 Mei 1945 di Flensburg, sekelompok mantan anggota Nazi, termasuk Karl Dönitz, ditawan sebagai tawanan perang serta Laksamana Friedeburg bunuh diri.[35] Sesuai dengan Pasal 4 Instrumen Penyerahan Diri, Deklarasi Berlin pada 5 Juni 1945 mengonfirmasi kekalahan Nazi dan kejatuhan de facto Nazi serta menetapkan pendudukan Sekutu atas Jerman.
Hubungan diplomatik dan kedutaan besar
Selama tahun 1944 dan 1945, negara-negara yang sebelumnya netral serta mantan sekutu Jerman mulai bergabung dengan Sekutu dan menyatakan perang terhadap Jerman. Kedutaan besar Jerman di negara-negara tersebut ditutup, sedangkan properti dan arsip mereka dititipkan kepada negara pelindung yang ditunjuk (biasanya Swiss atau Swedia) berdasarkan ketentuan Konvensi Jenewa; dengan pengaturan serupa bagi mantan kedutaan besar negara-negara Sekutu di Berlin. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah bersiap menghadapi konsekuensi diplomatik dari berakhirnya perang dengan asumsi bahwa akan ada pernyataan eksplisit mengenai penyerahan tanpa syarat dari negara Jerman sesuai dengan teks penyerahan diri EAC yang disepakati.
Pada hari-hari terakhir April 1945, Departemen Luar Negeri memberitahukan negara-negara pelindung serta semua pemerintah netral lainnya yang tersisa (seperti Irlandia) bahwa setelah penyerahan diri Jerman yang akan datang, kelanjutan identitas negara Jerman hanya akan berada di tangan empat Kekuatan Sekutu. Mereka akan segera memanggil kembali seluruh staf diplomatik Jerman, mengambil alih kepemilikan semua properti negara Jerman, mengakhiri semua fungsi negara pelindung, dan menuntut pemindahan semua arsip serta catatan ke salah satu kedutaan besar Sekutu Barat.[36] Pada 8 Mei 1945, pengaturan ini diberlakukan sepenuhnya, meskipun satu-satunya pihak Jerman dalam dokumen penyerahan diri yang ditandatangani adalah Komando Tinggi Jerman. Sekutu Barat menegaskan bahwa negara Jerman yang berfungsi sudah tidak ada lagi, sehingga penyerahan diri militer Jerman telah mengakibatkan pembubaran penuh Jerman Nazi.
Karena negara-negara pelindung mematuhi sepenuhnya tuntutan Sekutu, negara Jerman berhenti sebagai entitas diplomatik pada 8 Mei 1945 hingga berdirinya Jerman Barat pada 23 Mei 1949. Dengan kata lain, runtuhnya Reich Jerman (1871–1945) yang mencakup Jerman Nazi menyebabkan Jerman kehilangan pemerintahannya sendiri secara de facto sehingga menjadi wilayah yang diduduki oleh pihak asing pada saat itu. Kekaisaran Jepang, selaku pihak yang bertikai dari Poros yang tersisa, telah mengecam keputusan penyerahan diri Jerman dan menyita semua properti Jerman di Jepang secara sepihak.
Deklarasi Berlin (5 Juni 1945)
Meskipun demikian, karena instrumen penyerahan diri tanggal 8 Mei 1945 hanya ditandatangani oleh perwakilan militer Jerman, ketentuan sipil penuh untuk penyerahan tanpa syarat Jerman tetap tidak memiliki dasar formal yang eksplisit. Oleh karena itu, teks EAC untuk Penyerahan Tanpa Syarat Jerman, yang disusun ulang sebagai sebuah deklarasi dan dilengkapi dengan mukadimah penjelasan yang diperluas, diadopsi secara sepihak oleh empat Kekuatan Sekutu sebagai Deklarasi mengenai kekalahan Jerman.[9]
Deklarasi ini menjelaskan posisi Sekutu bahwa sebagai akibat dari kekalahan totalnya, Jerman tidak memiliki pemerintahan atau otoritas pusat (Sekutu tidak mengakui sisa-sisa Pemerintahan Flensburg Nazi) dan bahwa otoritas sipil yang kosong di Jerman akibatnya diambil alih sepenuhnya oleh empat Kekuatan Perwakilan Sekutu (Uni Republik Sosialis Soviet, Amerika Serikat, Britania Raya dan Irlandia Utara, serta Republik Prancis) atas nama Pemerintah Sekutu secara keseluruhan, sebuah otoritas yang kemudian dibentuk menjadi Dewan Kendali Sekutu (ACC).[26] Namun, Stalin telah membatalkan dukungan sebelumnya terhadap prinsip pemecahan wilayah Jerman, serta secara terbuka menolak kebijakan semacam itu dalam proklamasi kemenangannya kepada rakyat Soviet pada 8 Mei 1945.[11] Oleh karena itu, tidak ada "klausa pemecahan wilayah" dalam teks deklarasi Berlin.
Lihat pula
Catatan
- ↑ Jerman: Bedingungslose Kapitulation der Wehrmacht, har. 'Kapitulasi Tanpa Syarat "Wehrmacht"'code: de is deprecated ; Rusia: Акт о капитуляции Германии, romanized: Akt o kapitulyatsii Germanii, har. 'Akta kapitulasi Jerman'code: ru is deprecated ; Prancis: Actes de capitulation du Troisième Reich, har. 'Akta kapitulasi Reich Ketiga'code: fr is deprecated
- ↑ Dokumen penyerahan diri tersebut tidak merinci waktu penandatanganan secara pasti. Menurut pernyataan resmi Soviet, dokumen tersebut ditandatangani pada 8 Mei pukul 22.43 CET (00.43, 9 Mei waktu Moskow). Namun, beberapa sumber menunjukkan waktu penandatanganan yang lebih lambat—sekitar pukul 01.00 pada 9 Mei, CET.[1][2]
- ↑ Komando tertinggi angkatan bersenjata Jerman.
Referensi
- ↑ Алексей Славин (2010). "Пять легенд о капитуляции" (15) (Edisi Новое время).
- ↑ Kershaw, Ian. The End: Germany 1944-45. Penguin, 2012. p. 372.
- ↑ MI5 staff (2011). "Hitler's last days". Her Majesty's Security Service website. Diakses tanggal 7 March 2020. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Hitler, Adolf (1945), My Political Testament
- ↑ Kershaw, Ian (2012). The End; Germany 1944–45. Penguin. hlm. 298.
- ↑ Memorandum by the Working Security Committee, 3rd January 1944, Foreign Relations of the United States 1944, vol I, p. 101
- ↑ Memorandum by Lord Strang, 15th January 1944, Foreign Relations of the United States 1944, vol. I, p. 113
- 1 2 Ziemke, Earl Frederick (1990). The US Army and the Occupation of Germany 1944–1946. Center of Military History, United States Army. hlm. 114.
- 1 2 3 4 5 Hansen, Reimar (1995). "Germany's Unconditional Surrender". History Today. 45 (5 May).
- ↑ Ziemke, Earl Frederick (1990). The US Army and the Occupation of Germany 1944–1946. Center of Military History, United States Army. hlm. 115.
- 1 2 3 4 Mosely, Philip E (1950). "Dismemberment of Germany, the Allied Negotiations from Yalta to Potsdam". Foreign Affairs. 28 (3): 487–498. doi:10.2307/20030265. JSTOR 20030265.
- ↑ Ziemke, Earl Frederick (1990). The US Army and the Occupation of Germany 1944–1946. Center of Military History, United States Army. hlm. 257.
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 205.
- ↑ Kershaw, 2012 p. 362
- 1 2 Kershaw, 2012 p. 368
- 1 2 3 Kershaw, 2012 p. 371
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 101.
- 1 2 3 Kershaw, 2012 p. 370
- ↑ Kershaw, 2012 p. 365
- ↑ Doerries, Reinhard. R. (2009). Hitler's Intelligence Chief. Enigma. hlm. 223.
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 211.
- ↑ "I remember the German surrender", Kathryn Westcott, BBC News, 4 May 2005.
- ↑ "Act of Military Surrender Signed at Rheims at 0241 on the 7th day of May 1945" at The Avalon Project (Yale Law School – The Lillian Goldman Law Library in Memory of Sol Goldman).
- ↑ Video: Beaten Nazis Sign Historic Surrender, 1945/05/14 (1945). Universal Newsreel. 1945. Diakses tanggal 20 February 2012.
- ↑ "Act of Military Surrender Signed at Rheims at 0241 on the 7th day of May 1945" at The Avalon Project (Yale Law School – The Lillian Goldman Law Library in Memory of Sol Goldman).
- 1 2 Ziemke, Earl Frederick (1990). The US Army and the Occupation of Germany 1944–1946. Center of Military History, United States Army. hlm. 258.
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 217.
- 1 2 Chaney p. 328
- 1 2 Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 259.
- 1 2 Kershaw, Ian (2012). The End; Germany 1944–45. Penguin. hlm. 372.
- ↑ Earl F. Ziemke References Chapter XV: The Victory Sealed, p. 258 second last paragraph
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 265.
- ↑ Jones, Michael (2015). After Hitler: The Last Days of the Second World War in Europe. John Murray. hlm. 313.
- ↑ Caruso, David B. (4 May 2012). "AP apologizes for firing reporter over WWII scoop". Associated Press. Diakses tanggal 15 October 2018.
- ↑ Ziemke, Earl Frederick (1990). The US Army and the Occupation of Germany 1944–1946. Center of Military History, United States Army. hlm. 263.
- ↑ Eckert, Astrid. M. (2012). The Struggle for the Files. Diterjemahkan oleh Dona Geyer. CUP. hlm. 222.
Daftar pustaka
- Chaney, Otto Preston. Zhukov. University of Oklahoma Press, 1996, ISBN 0-8061-2807-0, ISBN 978-0-8061-2807-8.
- Pinkus, Oscar . The war aims and strategies of Adolf Hitler, McFarland, 2005, ISBN 0-7864-2054-5, ISBN 978-0-7864-2054-4
- Ziemke, Earl F. "The U.S. Army in the occupation of Germany 1944–1946" Center of Military History, United States Army, Washington, D. C., 1990, Library of Congress Catalog Card Number 75-619027
Bacaan tambahan
- Hansen, Reimar. Germany's Unconditional Surrender article in History Today 5 May 1995.
- Kiley, Charles. Details of the Surrender Negotiations: This Is How Germany Gave Up, Stars and Stripes. (a contemporary, 1945, US military newspaper account)
- Mosley, Philip E. Dismemberment of Germany article in Foreign Affairs, April 1950.
- Samson, Oliver. The German Capitulation Tangle, Deutsche Welle 8 May 2005
- authour?. The Memoirs of Georgy Zhukov, Chapter 22: Unconditional Surrender of Nazi Germany Diarsipkan 2017-05-14 di Wayback Machine., publisher ? (Rusia)

Bermasalah memainkan berkas ini? Lihat bantuan media.