Mayor Jenderal I Gusti Kompyang alias IGK Manila (8 Juli 1942–18 Agustus 2025) adalah seorang Purnawirawan perwira tinggi TNI dan juga ia di antara 15 perwira remaja pertama lulusan AMN dengan kecabangan Corps Polisi Militer. dengan pangkat terahkir Mayor Jenderal TNI AD (POM ABRI). Jabatan yang pernah dipegang adalah Ketua STPDN dan Wakil Ketua Umum ORARI, Sebagai Direktur Akademi Olah Raga Indonesia (AKORIN). nama panggilan radio amatirnya adalah YB0AA.
I Gusti Kompyang Manila dikenal sebagai Bapak Wushu Indonesia. Ia juga pernah menjadi manajer olahraga bagi tim sepak bola Persija Jakarta,[1][2][3][4] setelah sebelumnya juga telah sukses mengomandoi timnas Indonesia meraih emas SEA Games 1991 dan juga Bandung Raya dalam meraih Liga Indonesia 1996.[5]
IGK Manila meninggal dunia di Rumah Sakit Bunda Menteng, Jakarta pada 18 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB di usia ke 83 tahun.[6]
IGK Manila mengabdikan hampir separuh masa hidupnya untuk kemajuan sepak bola dan wushu di Tanah Air. Sebagai manajer timnas, ia pernah membawa tim nasional sepak bola Indonesia meraih medali emas SEA Games Manila di Filipina pada 1991.[7] Saat itu, Indonesia, di bawah asuhan pelatih Anatoli Fyodorovich Polosin asal Rusia, berhasil mengalahkan Thailand lewat adu penalti pada laga final di Manila dengan skor 4 - 3.
Pada tahun 1992, Manila menjadi orang pertama yang menjadi Ketua Umum Wushu Indonesia. Saat itu ia mendapatkan mandat dari Ketua KONI Pusat, Surono Reksodimedjo, untuk meyakinkan segala pihak agar wushu bisa menjadi pundu-pundi baru medali Indonesia di SEA Games. Akibat aktivitasnya di bidang olahraga ini, Manila sempat dicurigai sebagai mata-mata pemerintah oleh komunitas warga keturunan Tionghoa. Pada masa itu, banyak penggiat wushu yang ditangkap aparat karena membawa identitas Tionghoa, sebuah isu yang sangat sensitif pada masa itu. Namun, lewat komitmennya, ia akhirnya diterima oleh komunitas wushu.
Manila lalu menemui sejumlah tokoh politik, termasuk Presiden RI saat itu, Soeharto, agar pemerintah bisa mengurangi kecurigaan terhadap komunitas wushu. Akhirnya, dukungan untuk wushu mulai terbuka dan Manila dijuluki sebagai bapak wushu Indonesia. Hingga kini, wushu telah berhasil menyumbang 42 emas, 51 perak dan 47 perunggu bagi Indonesia di SEA Games 1993. Sementara itu, pada tingkat Asian Games, Indonesia sudah mengoleksi 3 emas, 6 perak dan 8 perunggu, menjadi peringkat kelima pengoleksi medali wushu terbanyak Asian Games setelah China, Iran, Makau dan Korea Selatan.