Tablet 4
Tablet keempat mengisahkan perjalanan menuju Hutan Cedar. Selama enam hari perjalanan itu, setiap hari Gilgamesh berdoa kepada Shamash; sebagai jawaban atas doanya, Shamash mengaruniakan kepadanya mimpi-mimpi nubuat di malam hari. Mimpi pertama tak lagi tersimpan. Dalam mimpi kedua, Gilgamesh bermimpi bergulat dengan seekor lembu perkasa yang hembus napasnya membelah bumi. Enkidu menakwilkan mimpi itu bagi Gilgamesh: lembu itu adalah Shamash sendiri, yang akan melindunginya. Dalam mimpi ketiga, Gilgamesh melihat:
- Guntur bergemuruh di langit dan bumi berguncang,
- Lalu datang kegelapan dan kesunyian yang menyerupai maut.
- Kilatan halilintar membelah tanah, api menyembur;
- Maut tercurah dari langit.
- Ketika panas mereda dan api padam,
- Dataran telah menjelma menjadi abu.
Tafsir Enkidu atas mimpi ini hilang dari naskah, namun, sebagaimana mimpi-mimpi lainnya, diduga ia menafsirkan mimpi vulkanik ini sebagai pertanda baik, sebuah keberhasilan. Mimpi keempat pun hilang, tetapi Enkidu kembali meyakinkan Gilgamesh bahwa mimpi itu menubuatkan kejayaan dalam pertempuran yang akan datang. Mimpi kelima juga telah hilang.
Ketika tiba di gerbang Hutan Cedar, Gilgamesh mulai gemetar diliputi rasa takut; ia pun berdoa kepada Shamash, mengingatkan dewa itu akan janji yang pernah diucapkannya kepada ibunda Gilgamesh, Ninsun, bahwa putranya akan senantiasa dilindungi. Dari langit Shamash menjawab, menyuruhnya masuk ke dalam hutan, sebab Humbaba belum mengenakan perisai sepenuhnya. Biasanya Humbaba berselubung tujuh lapis zirah, tetapi kini hanya satu, membuatnya jauh lebih lemah. Enkidu kehilangan keberanian dan mundur, sehingga Gilgamesh menerkamnya; keduanya terlibat dalam pergumulan sengit. Dentum pertarungan itu terdengar hingga membangunkan Humbaba, yang lalu muncul dari Hutan untuk menghadang para penyusup. Sebagian besar isi lauh ini hilang pada bagian ini. Pada fragmen yang tersisa, Gilgamesh berhasil membujuk Enkidu agar mereka berdiri teguh bersama menghadapi iblis itu.