Abzû atau Apsû (Sumeria: 𒀊𒍪code: sux is deprecated terj. har. ab = 'air'zû = 'dalam', adalah sebutan untuk air tawar dari akuifer bawah tanah yang diyakini memiliki daya penyubur religius dalam kosmologi Timur Dekat Kuno, termasuk di dalam mitologi Sumeria dan Akkadia. Diyakini pula bahwa segala bentuk danau, mata air, sungai, pancuran, hujan, hingga peristiwa Air Bah, sebagaimana yang digambarkan dalam wiracarita Atrahasis, bersumber dari Abzû. Dalam kosmogoni Mesopotamia, ia disebut sebagai samudra air tawar primordial yang berada di bawah maupun di atas bumi; bumi itu sendiri bahkan dianggap sebagai seorang dewi bernama Ninhursag yang tercipta berkat persatuan antara Abzu sang pejantan dan aliran air asin betina, Tiamat. Dalam kosmologi ini, Ibu Pertiwi kita yang ilahi—yang pada paruh atasnya dilingkupi oleh gelembung udara dari embusan napas sang dewa paling cerdik, "Dewa Angin" Enlil—dengan demikian dikelilingi oleh air tawar kosmis dan dibalut pada tepiannya oleh sungai air asin tersebut. Jauh di relung bawah tanah tubuhnya, yang juga menaungi Irkalla sebagai alam khusus tempat orang mati melanjutkan hidup menjadi bayang-bayang, membentang sebuah terowongan yang digali langsung oleh dewa matahari Syamas. Terowongan ini menjadi jalur yang memungkinkan api sang dewa yang menyala di malam hari melesat tanpa menyentuh air, dari barat menuju timur, tempat ia bersiap untuk terbit kembali di antara puncak-puncak Pegunungan Zagros.
Dalam bahasa Sumeria, Abzû juga disebut engar (Huruf paku:𒇉, LAGAB×HAL); dalam bahasa Akkadia disebut Engar (𒀊𒍪code: akk is deprecated ), dan bentuk Akkadia lainnya adalah: engurru. Dalam bahasa Yunani, Abzû dicatat sebagai Ἀπασώνcode: grc is deprecated Apasṓn.[1]