Hubungan Republik Rakyat Tiongkok dengan Timor Leste telah dijalin setelah kemerdekaan Timor Leste pada 20 Mei2002.[1] Meskipun demikian, RRT sudah mendirikan kantor perwakilannya di Dili pada tahun 2000 ketika Timor Leste masih di bawah pemerintahan PBB.[2]
Sejak kemerdekaan Timor Leste, Republik Rakyat Tiongkok telah mendanai pembangunan istana kepresidenan di Dili dan departemen luar negeri serta markas pasukan pertahanan.[6] Pada tahun 2003, Beijing menandatangani perjanjian dengan komunitas negara berbahasa Portugis–Timor Leste adalah salah satu anggotanya–untuk meningkatkan perdagangan dan pembangunan ekonomi di antara negara-negara tersebut.[7] Pada tahun 2006, Presiden Xanana Gusmão menyebut Republik Rakyat Tiongkok sebagai 'teman tepercaya' dan Timor Leste telah berkomitmen dengan kebijakan satu Tiongkok.[8]
Pada 2014, kedua negara itu mengeluarkan komunike (pemberitahuan resmi) untuk menegaskan kembali bahwa Timor Leste mengakui Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok/Cina sebagai satu-satunya pemerintah yang sah yang mewakili seluruh Tiongkok. Sehingga Republik Tiongkok/Taiwan tidak dapat dipindahtangankan dari teritori Tiongkok dan Timor Leste tidak akan menjalin hubungan resmi atau melakukan kontak resmi apa pun dengan Republik Tiongkok/Taiwan.[9]
Terdapat pula kerjasama militer antar-kedua negara tersebut dengan adanya pembelian dua kapal patroli dari perusahaan Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 2008.[6][10] Kapal ini awalnya akan diawaki pelaut Republik Rakyat Tiongkok, sedangkan RRT melatih Timor Leste untuk menjaga pantai mereka. Selain itu, RRT menandatangani kontrak dengan menyediakan US$ 9 juta untuk pembangunan kantor pusat militer baru di Timor Leste.[6]