Hubungan diplomatik antara Pemerintah Norwegia dengan Pemerintah Qatar dimulai sejak tahun 1973. Pemerintah Norwegia telah menempatkan seorang duta besar Norwegia untuk Qatar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Duta Besar Norwegia untuk Qatar juga merangkapi jabatan sebagai Duta Besar Norwegia untuk Uni Emirat Arab.[1]
Kerja sama ekonomi
Perusahaan Norsk Hydro adalah salah satu perusahaan Norwegia pertama yang berinvestasi di Qatar, menjadi salah satu pendiri dan pemilik bersama Perusahaan Pupuk Qatar (Qafco) sejak 1969. Divisi pupuk Norsk Hydro menjadi Yara International pada tahun 2004. Divisi Norsk Hydro yang tersisa, yang berkaitan dengan produksi aluminium, mendirikan Qatalum (bersama dengan QatarEnergy) pada tahun 2010.[2]Putra Mahkota Haakon adalah perwakilan tertinggi Norwegia yang hadir pada pembukaan tersebut.[1] Qatar juga telah menerima kunjungan antara lain dari Menteri Perminyakan dan Energi Norwegia.[3]
Pada akhirnya, Federasi Sepak Bola Norwegia memilih sudut pandang non-boikot, dan menyatakan akan menegakkan dialog multilateral, terutama dengan Qatar, FIFA, dan Amnesty International.[4] Pada 22 November 2021, penangkapan pertama warga negara Norwegia terjadi di Qatar. Jurnalis Norsk Rikskringkasting (NRK) Halvor Ekeland dan fotografer Lokman Ghorbani dimasukkan ke dalam sel tahanan, yang mendorong Pemerintah Norwegia untuk memimpin "dialog intensif dengan otoritas Qatar".[5] Kritikus Qatar Håvard Melnæs melakukan perjalanan ke Qatar beberapa hari setelahnya, dan ditangkap juga, ditahan untuk waktu yang singkat.[6][7] Menteri Kebudayaan (dan olahraga) Norwegia menyatakan bahwa Pemerintah Norwegia tidak akan mengirimkan perwakilan resmi ke Piala Dunia 2022; meskipun Norwegia juga tidak lolos ke turnamen tersebut.[8]