Pada abad ke-32 SM, ayahnya yang bernama Narmer telah menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Hor-Aha (yang ketika lahir bernama Ity, Hor-Aha adalah gelarnya: 'Horus di antara ilalang') menjadi seorang raja pada usia 30 tahun dan memerintah sampai usia 62 tahun. Menurut legenda, ia dibawa oleh seekor kuda nil, penjelmaan dewa Seth. Cerita lain mengatakan bahwa Hor-Aha terbunuh oleh seekor kuda nil ketika berburu, yang menunjukkan bahwa Hor-Aha adalah 'Menes' yang legendaris.
Terdapat beberapa perdebatan mengenai Hor-Aha. Beberapa orang percaya bahwa ia adalah orang yang sama dengan Menes dan dia adalah orang yang telah menyatukan seluruh Mesir. Beberapa orang lainnya berpendapat bahwa ia adalah anak dari Narmer, raja yang telah menyatukan Mesir. Bukti-bukti sejarah dari periode tersebut menunjukkan bahwa Narmer adalah raja yang pertama kali menyatukan Mesir (lihat Pelat Narmer) dan Hor-Aha sebagai anaknya dan sekaligus pewaris tahtanya.
Label gading bertuliskan serekh Hor-Aha dan terdapat nama istrinya Benerib.
Label gading dengan serekh Hor-Aha. Benda ini menyatakan kemenangan atas "penggunaan busur panah setjet-orang-orang" (tengah) dan kunjungan ke domain "Horus tumbuh subur dengan ternaknya" (kanan).
Label eboni terfragmentasi Hor-Aha berkaitan dengan kunjungan raja ke kuil suci dewi Neith dari Sais di Delta, British Museum.
Referensi
Toby A. H. Wilkinson, Early Dynastic Egypt, Routledge, London/New York 1999, ISBN 0-415-18633-1, 70-71