Hipohidrosis adalah kondisi seseorang yang hanya mengeluarkan sedikit keringat ketika suhu di sekitar panas. Hipohidrosis merupakan kondisi lebih ringan dari anhidrosis (penderitanya tidak dapat berkeringat sama sekali).[1][2]
Gejala
Gejala utama hipohidrosis adalah tidak atau hanya sedikit mengeluarkan keringat.[3] Jumlah keringat yang sedikit ini menyebabkan penderitanya tidak tahan dengan suhu panas,[2] wajahnya kemerahan,[4][5] merasa kepanasan,[2] dan kulit terasa sangat kering.[5] Hal ini disebabkan karena kelenjar keringat tidak manjalankan fungsinya untuk mengeluarkan panas dari dalam tubuh dan mendinginkan tubuh.[3]
Panas yang tidak keluar dari dalam tubuh ini akan menyebabkan peningkatan suhu tubuh sehingga penderita akan mengalami kondisi prasinkop,[5] napas yang berat,[2] dan tidak tahan dengan aktivitas yang intens seperti berolahraga terlalu lama.[5] Peningkatan suhu tubuh yang ekstrem akan menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa. Kondisi ini diawali dengan kram otot[2] dan kelemahan otot[2] yang berlanjut menjadi kebingungan, hilangnya kesadaran, koma, bahkan kematian.[3]
Penyebab
Kerusakan atau penyakit kulit
Kerusakan pada jaringan kulit dapat menyebabkan kerusakan pada kelenjar keringat yang ada di bawahnya.[5] Penyebab rusaknya jaringan kulit tersebut bisa diakibatkan oleh: infeksi bakteri (lepra),[1] peradangan kulit, terpapar radiasi berbahaya,[2]luka bakar,[3] iktiosis,[6] skleroderma,[6] psoriasis,[3][6] dermatitis eksfoliatif,[6] dan atrofi kelenjar keringat akibat penyakit jaringan ikat (sklerosis sistemik, lupus eritematosus sistemik).[2][3]
Dehidrasi juga bisa menjadi penyebab kondisi mengapa seseorang sedikit sekali berkeringat. Alasannya karena tubuh tidak memiliki air yang cukup untuk memproduksi keringat.[5][8]
Kondisi bawaan
Kondisi sedikit berkeringat juga dapat disebabkan oleh kondisi bawaan karena seseorang terlahir dengan kelenjar keringat yang sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Dalam dunia medis, istilah ini disebut displasia ektodermal hipohidrotik.[6][8]
Hipohidrosis idiopatik
Gangguan produksi keringat yang tidak diketahui penyebabnya yaitu anhidrosis idiopatik kronis atau anhidrosis idiopatik dapatan.[2]
Diagnosis
Selain riwayat kesehatan dan keluhan yang dirasakan oleh penderita, ada beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis hipohidrosis yaitu:[5]
Tes termoregulasi kulit. Penderita akan diberi tepung jagung yang mengandung iodin atau tepung alizarin merah dengan perbandingan alizarin merah:tepung jagung:sodium karbonat 1:2:1 di seluruh badannya yang akan berubah warna jika kulit menghasilkan keringat. Setelahnya, penderita akan dimasukkan ke dalam ruangan yang dapat merangsang peningkatan suhu tubuh sehingga diharapkan produksi keringat akan semakin banyak. Suhu di dalam ruangan ini antara 45-50°C dengan kelembapan relatif 35-40%. Durasi pemeriksaan ini adalah 30-65 menit dan tidak boleh melebihi 70 menit. Daerah tubuh yang bubuknya tidak mengalami perubahan warna menunjukkan tidak adanya keringat yang diproduksi. Perubahan warna yang terjadi adalah dari warna kuning menjadi merah gelap untuk tepung alizarin merah dan dari cokelat menjadi ungu untuk tepung dengan iodin.[9]
Tes refleks akson sudomotor kuantitatif atau quantitative sudomotor axon reflex test (QSART). Pada pemeriksaan ini kelenjar keringat dirangsang menggunakan asetilkolin untuk menghasilkan keringat dan jumlah keringat yang dihasilkan dihitung. Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi saraf yang mengatur proses terbentuknya keringat.[2][9]
Tes jejak keringat silastik (polimersilikon). Pemeriksaan ini juga berfungsi untuk menilai fungsi sudomotor kolinergik simpatis pascaganglion dengan cara mengukur refleks akson yang merangsang respons dikeluarkannya keringat. Kelenjar keringat penderita dirangsang dengan asetilkolin, pilokarpin atau metakolin lalu penderita dipasangi bahan dari silikon di atas kulitnya. Analisis hasil pemeriksaan ini berupa distribusi, ukuran, dan percikan keringat dilakukan di bawah mikroskop cahaya atau dengan analisis komputer.[2][9]
Normalnya manusia menghasilkan 311±38 percikan keringat/cm2 di daerah tangan dan 281±38 percikan keringat/cm2 di kaki.[2][9]
Biopsi kulit. Pemeriksaan ini dilakukan jika dokter mencurigai kondisi hipohidrosis terjadi akibat masalah pada kulit.[2][10]
Keram akibat panas. Gejalanya adalah nyeri otot atau spasme otot.[10][11]
Kelelahan akibat panas, gejalanya adalah kelemahan, mual, dan denyut nadi yang cepat.[10][11]
Sengatan panas, merupakan kondisi yang mengancam jiwa jika suhu tubuh mencapai 39,5°C atau lebih tinggi. Sengatan panas dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadarannya.[10][11]
Referensi
1234Das, Shinjita (Juni 2020). "Hypohidrosis". www.msdmanuals.com. Diakses tanggal 25 Februari 2022.