Helmut Marko (lahir 27 April 1943) adalah seorang mantan pembalap mobil profesional asal Austria, pengacara, dan pada saat ini dia menjadi penasihat tim Formula Satu untuk tim Red Bull Racing dan RB. Dia juga menjabat sebagai seorang kepala program pengembangan pembalap muda di Red Bull.[1]
Marko lahir di Graz, Austria (yang pada saat itu merupakan bagian dari Nazi Jerman). Dia adalah teman sekolah Jochen Rindt, yang kemudian menjadi juara dunia pembalap Formula Satupada tahun 1970.[2] Marko berhasil menyelesaikan doktor hukum pada tahun 1967.[3] Dia memiliki empat buah hotel di Graz – Schlossberghotel, Augartenhotel, Lendhotel, dan Kai 36.
Karier balapan
Marko berkompetisi di dalam beberapa seri balapan, termasuk 10 Grand Prix Formula Satu pada tahun 1971 dan 1972, tetapi tidak pernah berhasil memperoleh poin Kejuaraan Dunia.
Dia lebih sukses di dalam ajang balapan ketahanan, dengan keberhasilannya memenangkan Le Mans 24 Jam 1971, dengan mengendarai mobil Martini-Porsche 917K bersama dengan Gijs van Lennep. Selama tahun itu, mereka mencetak rekor jarak yang tidak terkalahkan hingga Le Mans 24 Jam 2010 (5.335,313km, dengan kecepatan rata-rata mencapai 222,304km/jam - perubahan lintasan telah mengurangi kecepatan rata-rata.)
Di Targa Florio, dia melaju dengan putaran tercepat di sirkuit pegunungan Sisilia sepanjang 72km pada balapan tahun 1972, mengejar lebih dari dua menit dari pemimpin jalannya balapan ini dalam dua putaran, dan finis di posisi kedua dengan selisih hanya 17 detik saja. Putaran tercepatnya di dalam mobil Alfa Romeo 33 adalah 33 menit 41 detik, dengan kecepatan rata-rata mencapai 128,253km/jam.[4]
Karier Formula Satu
Marko memulai debutnya di dalam ajang Formula Satu bersama dengan tim Ecurie Bonnier milik Jo Bonnier di Grand Prix Jerman, dengan mengendarai mobil McLaren M7C. Dia bergabung bersama dengan tim BRM hingga akhir musim 1971, dan tetap mempertahankan kursinya di musim 1972. Marko mengalami cedera yang serius selama berlangsungnya Grand Prix Prancis 1972 di Clermont-Ferrand, yang diadakan beberapa minggu setelah Targa Florio, ketika serpihan dari mobil March milik Ronnie Peterson menusuk pelindung helm Marko, sehingga membuat mata kirinya buta secara permanen, dan sekaligus pula mengakhiri karier balapannya secara keseluruhan di usia 29 tahun.[a][5][6][7][8][9]
Marko menghadapi pengawasan ketat pada bulan September 2023 atas komentarnya mengenai kurangnya performa pembalap Red Bull Racing, yaitu Sergio Pérez, di sepanjang musim 2023, setelah berlangsungnya Grand Prix Italia. Berbicara kepada sebuah stasiun televisi milik Red Bull, yaitu ServusTV, dia dikutip mengatakan bahwa "kami tahu bahwa dia memiliki masalah dalam kualifikasi, dia memiliki fluktuasi dalam performa, dia orang Amerika Selatan dan dia tidak sepenuhnya fokus dalam pikirannya seperti Max Verstappen, atau seperti Sebastian Vettel".[11][12] Komentar Marko secara luas dianggap bermuatan rasial, dengan banyak pihak yang menyatakan bahwa Pérez—seorang warga negara Meksiko—bukan orang Amerika Selatan.[12] Marko meminta maaf pada tanggal 8 September, dengan menyatakan bahwa "Saya mencoba untuk menegaskan bahwa [Pérez] telah berfluktuasi dalam penampilannya tahun ini, tetapi salah untuk mengaitkan hal ini dengan warisan budayanya."[11][13] Pérez menerima permintaan maaf Marko pada tanggal 14 September, meskipun FIA menegurnya pada hari berikutnya.[14][15]
↑Beberapa sumber yang lebih lama, seperti ESPN (1972), Motor Sport Retro (2013), The Guardian (2014), dan Pitpass.com (2018) menyatakan bahwa batu itu dilontarkan oleh mobil Lotus milik Emerson Fittipaldi, tetapi sumber yang lain yang lebih baru, seperti GPBlog (2022), First Sportz (2022), The Sports Rush (2023), dan PlanetF1 (2023) menunjukkan bahwa batu itu dilontarkan oleh mobil March milik Ronnie Peterson.