Bumi dilihat dari Apollo 17. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional pertama dirayakan 28 tahun setelah misi Apollo 17 melakukan perjalanan mengeliling orbit bumi.
Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (atau Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia) adalah hari internasional yang dirayakan oleh PBB untuk menggalakkan isu-isu keanekaragaman hayati. Hari tersebut diadakan pada 22 Mei.[1]
Sejak dibentuk oleh Komite Kedua Sidang Umum PBB pada 1993 sampai 2000, ini diadakan pada 29 Desember untuk menyambut hari berlakunya Konvensi Keanekaragaman Hayati. Pada 20 Desember 2000,[3] tanggalnya diubah untuk memperingati diadopsinya Konvensi pada 22 Mei 1992 di Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Rio, dan sebagian untuk menghindari hari libur lainnya yang terjadi pada akhir Desember.[4]
Kegiatan
Bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, pada Mei 2011 Menteri Kehutanan Indonesia meresmikan Jembatan Kanopi Ciwalen dengan panjang 120 meter (390ft) dan lebar 60 meter (200ft) pada ketinggian 30–40 meter (98–131ft) di atas permukaan tanah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, untuk menampung lima hingga sepuluh orang dalam satu perjalanan.[5]
Tema Keanekaragaman Hayati Pulau 2014 dipilih karena pulau menyediakan sumber keanekaragaman hayati yang kaya untuk tumbuhan, binatang, ikan, dan hasil hutan. Banyak buah asli dan sayur berdaun hijau kaya akan zat gizi mikro. Menurut Sekretariat Komunitas Pasifik, dua dari setiap tiga kematian dapat dikaitkan dengan penyakit tidak menular (NCDs). Hal ini dapat terjadi akibat perubahan pola makan yang terkait dengan konsumsi produk impor yang tinggi yang diproses secara tinggi, sementara spesies tanaman tempatan ditinggalkan atau dikurangkan dalam makanan daerah. Akibatnya, pertemuan perwakilan pulau di Addis Ababa, Etiopia pada Mei 2014 menekankan bahwa pertimbangan serius seharusnya diberikan untuk lebih banyak penelitian dan tindakan kebijakan dengan tujuan meningkatkan keanekaragaman makanan.[6]