Haji Miskin menjadi salah satu tokoh sentral dalam gerakan perang Padri. Haji Miskin pada mulanya berdakwah di Nagari Pandai Sikek. la berupaya menerapkan ajaran agama Islam dan mengajak masyarakat yang kerap melakukan bid'ah untuk bertaubat. Di Nagari Pandai Sikek, ia dibantu oleh salah seorang penghulu yang berpengaruh, yakni Datuk Batuah.[1]:29
Pada tahun 1803, Haji Miskin kembali ke Minangkabau dan menetap di Batu Taba. Tak berapa lama kemudian, dia pindah ke NagariPandai Sikek yang makmur berkat perdagangan kopi dan akasia. Di sini, Haji Miskin berkhotbah tentang penerapan ajaran Islam dan berusaha memperbaiki kondisi masyarakat yang telah jauh dari syiar-syiar Islam. Haji Miskin dibantu oleh salah seorang penghulu berpengaruh di Nagari Pandai Sikek yang bernama Datuk Batuah.
Haji Miskin dan Datuk Batuah menjalankan gerakannya di Pasar Pandai Sikek. Di pasar ini, sering terjadi aktivitas-aktivitas masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti adu ayam, minum tuak, dan mengisap candu. Ajakan Haji Miskin kepada masyarakat Pandai Sikek untuk kembali hidup sesuai dengan pedoman Islam tidak membuahkan hasil. Akibatnya, Haji Miskin dan Datuk Batuah membakar pasar tersebut dan kemudian melarikan diri ke Kota Lawas.[2]
Referensi
↑Malia, Indiana (2025). Ve (ed.). Sejarah Ringkas Perang Padri. Yogyakarta: DIVA Press.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Dobbin, Christine (2008). Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerakan Padri. Depok: Komunitas Bambu. hlm.206–207. ISBN979-3731-26-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)