Abdurrahman bin Hasan Assegaf (Arab: عبدالرحمن بن حسن السقاف w. 1911) atau lebih dikenal Habib Teupin Wan, adalah seorang ulama dan pejuang asal Aceh yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling gigih dalam Perang Aceh melawan kolonial Belanda. Ia memimpin perlawanan bersenjata selama lebih dari 38 tahun (1873-1911), menjadikannya salah satu panglima perang dengan masa perjuangan terlama dalam sejarah perlawanan di Aceh.[1][2]
Latar Belakang
Habib Teupin Wan berasal dari keluarga keturunan Arab Hadhrami yang bermukim di kawasan Teupin Wan, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh. Ia dikenal sebagai seorang ulama yang menguasai ilmu agama Islam secara mendalam dan memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat. Sebagai seorang ulama, ia memainkan peran penting dalam menyatukan kekuatan spiritual dan militer masyarakat Aceh dalam menghadapi kolonial Belanda.[3][4]
Perang Aceh
Habib Teupin Wan mulai terlibat dalam Perang Aceh sejak dimulainya agresi militer Belanda ke Aceh pada Maret 1873. Ia dikenal sebagai panglima perang yang gigih, disiplin, dan pantang menyerah. Basis perjuangannya berada di wilayah Tangse dan sekitarnya, tempat ia memimpin berbagai serangan gerilya terhadap pasukan Belanda.[1][5]
Selama hampir empat dekade, ia tidak pernah menyerah atau bekerja sama dengan pihak kolonial. Habib Teupin Wan tetap melanjutkan perlawanan bersenjata hingga akhir hayatnya.[6] Strategi gerilya yang diterapkannya membuat pasukan Belanda kesulitan menaklukkan wilayah basisnya. Hal ini menjadikan Habib Teupin Wan sebagai salah satu tokoh perlawanan terlama dalam sejarah Perang Aceh.[2]
Gugur
Habib Teupin Wan wafat dalam pertempuran di wilayah Tangse pada tahun 1911. Ia dimakamkan di kawasan tersebut dan hingga kini dikenal sebagai pahlawan rakyat yang dianggap sebagai simbol keteguhan dan keberanian rakyat Aceh dalam melawan penjajahan.[1][7]
Usulan Gelar Pahlawan Nasional
Meskipun memiliki jasa besar dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, nama Habib Teupin Wan relatif kurang dikenal dalam narasi sejarah nasional Indonesia. Sejumlah kalangan di Aceh telah mengusulkan agar ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.[8]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.