ENSIKLOPEDIA
Kembali ke Ensiklopedia
Arsip Wikipedia Indonesia
Tokoh dan Pemimpin Konflik Aceh-Belanda
Artikel atau bagian ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu. Untuk menghindari konflik penyuntingan, dimohon jangan melakukan penyuntingan pada halaman ini selama pesan ini ditampilkan. Halaman ini terakhir disunting pada 11.00, 21 Mei 2026 (UTC) (5 hari lalu) – (hapus singgahan). Pesan ini dapat dihapus jika halaman ini sudah tidak disunting dalam beberapa jam. Jika Anda adalah penyunting yang menambahkan templat ini, harap diingat untuk menghapusnya setelah selesai atau menggantikannya dengan {{Akan dikerjakan}} di antara masa-masa menyunting Anda. |
Daftar tokoh politik dan militer utama dalam Perang Aceh (1873–1914)Templat:SHORTDESC:Daftar tokoh politik dan militer utama dalam Perang Aceh (1873–1914)
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Maret 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Pemimpin Perang Aceh adalah tokoh politik, militer, dan agama yang memimpin atau menopang dua pihak utama dalam konflik Aceh–Belanda pada fase paling intens (1599–1949). Fase ini dipandang sebagai periode paling krusial dalam konflik panjang Aceh–Belanda.[1]
Kesultanan Aceh & Perlawanan Aceh
Sultan, Petinggi, Bangsawan dan Tokoh Politik

Sultan Aceh Sayyid al-Mukammil dikelilingi pengawalnya, 1600–1604.
Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil – Sultan Aceh yang disebut menerima/membalas surat diplomatik dari Maurits van Nassau (1600–1602) dan terkait fase awal bentrokan 1599–1601. Untuk pertama kalinya Kesultanan Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda.
Lukisan Laksamana Keumalahayati.
Malahayati – Panglima Angkatan Laut Wanita (Laskar Inong Balee) dan Laksamana Agung Kesultanan Aceh Darussalam abad-16. Kontak pertama kali dengan Belanda dan terlibat pertarungan dengan Houtman bersaudara.
Sultan Iskandar Muda – Sultan (1607–1636) yang memimpin ekspansi besar Aceh di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Terlibat konflik dengan orang-orang Belanda seperti serangan Aceh ke Sungai Johor, Johor Lama, Batu Sawar, Tumasik/Singapura (1613) sebagai bagian dari dominasi regional di Selat Malaka dan menghadapi persaingan dengan kekuatan Eropa termasuk Belanda.
Sultan Iskandar Thani – Sultan (1636–1641) yang memerintah dalam fase awal interaksi Aceh dengan kekuatan Eropa. Konflik langsung dengan Belanda relatif terbatas, namun pengaruh VOC mulai meningkat di kawasan perdagangan regional.
Lukisan Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah.
Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah – Sultanah (1641–1675) yang memerintah saat ekspedisi Aceh ke Perak (1651) yang juga melibatkan pasukan Belanda, dalam konteks persaingan pengaruh dengan kekuatan asing di kawasan Melayu.
Sultan Alauddin Ahmad Syah – Sultan (1727–1735) yang memerintah pada awal konflik di Barus (1734–1778) menghadapi Belanda, wilayah penting perdagangan yang diperebutkan dengan pengaruh Belanda.
Alauddin Johan Syah di kamp militer Kesultanan Aceh.
Sultan Alauddin Johan Syah – Sultan (1735–1760) yang melanjutkan konflik di Barus (1734–1778), menghadapi penetrasi VOC di pesisir barat Sumatra.
Sultan Mahmud Syah I dengan perwakilan asing di Istana. Ilustrasi karya Thomas Forrest, 1764.
Sultan Alauddin Mahmud Syah I – Sultan (1760–1781) yang masih terlibat dalam konflik Barus (1734–1778) serta menghadapi tekanan Belanda di Deli–Serdang (1780) sebagai bagian dari perebutan pengaruh di Sumatra Timur.
Sultan Alauddin Muhammad Syah – Sultan (1781–1795) yang menghadapi semakin kuatnya pengaruh Belanda pasca kemunduran VOC. Konflik mulai bergeser dari perdagangan ke upaya kontrol wilayah di Sumatra bagian timur.
Sultan Alauddin Jauhar al-Alam Syah – Sultan (1795–1823) yang memerintah pada masa transisi dari VOC ke Hindia Belanda. Mulai muncul tekanan politik dan militer Belanda terhadap wilayah pengaruh Aceh, meskipun belum terjadi perang besar.
Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah I – Sultan (1823–1838) yang menghadapi ekspansi Belanda di Tapanuli–Barus (1831), dan Nias (1836) sebagai bagian dari perebutan jalur perdagangan dan wilayah pesisir.
Sultan Alauddin Sulaiman Ali Iskandar Syah – Sultan (1795–1823) yang memerintah pada masa transisi menuju kekuasaan Hindia Belanda. Tekanan politik dan militer mulai meningkat, terutama di wilayah pesisir barat. Ia melanjutkan konflik di Barus (1839, 1843), Singkil (1843, 1848), Lagundi (1846), dan Sumatra Timur (1854), menandai meningkatnya penetrasi militer Belanda di wilayah taklukan Aceh.
Kepala nisan Sultan Ibrahim Mansur Syah.
Sultan Ibrahim Mansur Syah – Sultan (1857–1870) yang paling aktif menghadapi ekspansi Belanda, terutama di wilayah timur seperti Deli, Serdang, dan Tamiang. Selain konflik militer, ia juga mengupayakan dukungan internasional untuk mempertahankan kedaulatan Aceh. Ia aktif menghadapi Belanda dalam konflik di Lagundi (1856–1861), Leulawaue (1856–1861), Kluang (1858), Batu Bara (1860), Sumatra Timur (1861–1865), Asahan (1865), Hilibobo, Orahili, Botohisi (1863), serta Tamiang–Langkat (1865–1869), menunjukkan intensitas perebutan pengaruh di pantai timur Sumatra.
Sultan Mahmud Syah II.
Sultan Mahmud Syah[2] – Sultan (1870–1874) yang memerintah saat pecahnya Perang Aceh melawan Belanda. Pada masanya terjadi serangan besar Belanda ke wilayah inti kerajaan, termasuk pantai Aceh, Masjid Raya Baiturrahman, dan kraton selama Ekspedisi Aceh Pertama (1873). Masa ini ditandai oleh pertempuran di Pantai Aceh, Pantai Ceureumen, Ulee Lheue, Meuraxa, Lamteumen, Masjid Raya I, Kraton Aceh I, Kuala Gigieng, dan Peunayong (1873) serta Masjid Raya II, Kraton Aceh II, Lam Pulo, Garot, Kota Radja Bedil I, Surien, Peukan Aceh, Lambhuk–Beurawe, dan Kuta Alam (1874). Gugur karena wabah kolera pada 28 Januari 1874.[3]
Foto Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah di Jatinegara, sebelum beliau meninggal pada tahun 1939.
Sultan Muhammad Daud Syah (POW)[4] – Sultan terakhir Kesultanan Aceh, memimpin perlawana di fase akhir Perang Aceh. Ia ditangkap dan dipaksa berdamai pada 1903 setelah sejumlah anggota keluarganya ditawan di Glumpang payong Pidie. Sultan diasingkan ke Maluku dan kemudian ke Meester Cornelis, Batavia (sekarang Jatinegara, Jakarta) hingga meninggal dunia pada 6 Februari 1939.
Tuanku Hasyim Banta Muda.
Tuanku Hasyim Banta Muda – Gubernur Aceh Timur & Sumatera Timur, Wakil Sultan, Wali Negara, Perdana Menteri Kesultanan Aceh dan Wazirulharb (Menteri Perang) sekaligus Panglima tertinggi Perang Aceh. Pensiun dari jabatannya karena usia dan meninggal dunia pada 22 Januari 1897 Padang Tiji, Mukim VII, Pedir (Pidie).
Habib Abdurrahman az-Zahir di Istanbul pada 1873.
Habib Abdurrahman Az-Zahir
– Mangkubumi merangkap Menteri Luar Negeri Kesultanan Aceh. Menyerah dan diasingkan ke Jeddah kemudian ke Hijaz, Kekaisaran Utsmaniyah. Meninggal dunia di Makkah pada 1896.
Panglima Polim VIII Ibrahim Muda Kuala – Petinggi Kesultanan Aceh, Uleebalang, Panglima Dalam (Istana) dan Sagoe XXII Mukim di Aceh Besar. Ayah dari Panglima Polim IX Muhammad Daud. Melawan Belanda sejak Ekspedisi Aceh Pertama hingga gugur pada tahun 1891.
Panglima Polim VII Sri Imam Muda Mahmud Arifin Cut Banta – Petinggi Kesultanan Aceh, Uleebalang, Panglima Dalam (Istana) dan Sagoe XXII Mukim di Aceh Besar. Melawan Belanda sejak Ekspedisi Aceh Pertama hingga gugur pada tahun 1879.
Tuanku Itam – Gugur dalam Pertempuran Gunong Biram 1878.
Teuku Nanta Seutia ⚔ – Panglima dan Uleebalang VI Mukim. Ayah dari Cut Nyak Dhien, berjuang hingga akhir hayatnya. Ia gugur bersama menantunya Teuku Ibrahim Lamnga dalam Pertempuran Gle Tarum pada 29 Juni 1878.
Tuanku Bentara Keumangan – Tercatat pernah menjalin aliansi dengan Habib Abdurrahman untuk memperkuat pasukan perlawanan militer Aceh di wilayah timur melawan ekspansi Belanda sekitar tahun 1877.
Tuanku Mahmud Banta Keucik Kadirsyah
– Wazirul Mizan (Menteri Kehakiman), Wazirul Dakhiliyah (Menteri Dalam Negeri), Wazirul Kharijiah (Menteri Luar Negeri) merangkap Wakil Kepala Pemerintahan (Wakil Sultan) sekaligus Perdana Menteri terakhir Kesultanan Aceh. Adik dari Tuanku Hasyim Banta Muda. Menyerah pada Januari 1903.
Teuku Muda Bintang ⚔ – Gugur mempertahankan Dalam (istana) dan Masjid Raya Baiturrahman pada 1873.
Teuku Panglima Duapuluh Enam –
Sri Setia Ulama –
Teuku Rama Setia ⚔ – Panglima Pasukan Khusus Pengawal Sultan dan Wazir Rama Setia (Sekretaris Negara). Gugur pada 9 April 1873 selama Ekspedisi Aceh Pertama.
Teuku Ajat Muda Ie Alang ⚔ – Gugur saat mempertahankan Dalam (istana) dan Masjid Raya Baiturrahman pada 1873 selama Ekspedisi Aceh Pertama.
Teuku Keunalo Seulimum ⚔ – Panglima pasukan Seulimum, Uleebalang dari Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Gugur dalam mempertahankan Masjid Raya Baiturrahman sekitar 1873 atau 1874.
Teungku Imum Lueng Bata ⚔ – Panglima Dalam, ulama, sekaligus pemimpin kemukiman Lueng Bata. Ia juga sering disebut sebagai tokoh yang membunuh Jenderal Belanda Johan Harmen Rudolf Köhler pada 1873, meskipun identitas penembak Köhler dalam sumber-sumber sejarah tidak sepenuhnya pasti. Ia melawan Belanda sejak Ekspedisi Aceh Pertama hingga gugur sekitar 1874.
Teuku Nek Purba Wangsa – Uleebalang IX Mukim Lam Kunyet/Lhoknga. Aktif berjuang dan memimpin wilayahnya pada masa Perang Aceh pertama (1873).
Teuku Cut Jak Cadek – Panglima artileri Kesultanan Aceh. Dikenal sebagai sosok yang sangat ahli dalam mengendalikan meriam. Ia aktif bahu-membahu dengan Panglima Dalam dalam memimpin barisan meriam untuk mempertahankan wilayah vital, termasuk area di sekitar Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi pusat pertempuran sengit pada masa Agresi Belanda Pertama.
Panglima Arif Montasik – Pemimpin di wilayah Montasik, Aceh Besar, Sagi XXII Mukim dibawah Panglima Polem. Ia menyambut jenazah Teuku Ibrahim Lamnga yang dibawa ke Montasik setelah gugur dalam Pertempuran Gle Tarum pada Juni 1878. Ia aktif sejak Ekspedisi Aceh Pertama.
Teungku di Meulek Said – Wazir Rama Setia Khatibul Muluk (Sekretaris Negara), Letnan Jenderal, Wakil Panglima Besar Perang Aceh, Wazir Badrul Muluk (urusan dalam dan luar negeri). Pada 1855 ia disebut menjadi anggota delegasi Kesultanan Aceh ke Pariaman, Padang, dan Tiku untuk perundingan dengan pihak pemerintah Belanda di Sumatra Barat. Said Abdullah di Meulek gugur saat mempertahankan pertahanan utama sekitar Masjid Raya Baiturrahman dan Dalam (istana) pada 1873.
Teuku Nyak Makam.
Teuku Nyak Makam ⚔ – Berperan dalam konflik di Sumatra Timur dan menahan Belanda di Aceh Tamiang. Aktif bertempur di Aceh Timur, Tamiang dan Langkat. Ia dibunuh saat sedang beristirahat karena sakit keras pada 21 Juli 1896 di Lamnga, kepalanya dipenggal dan diarak Belanda keluar kota di Kuala Gigieng, Aceh Besar pada 22 Juli 1896.
Teuku Ibrahim Lam Nga ⚔ – Memimpin perlawanan di wilayah VI Mukim dan sekitarnya, suami pertama Cut Nyak Dhien. Gugur dalam Pertempuran Gle Tarum 1878, jenazahnya dimakamkan di Montasik, Aceh Besar bersama dua orang rekannya Teuku Rajoet, dan Panglima Nyak Man.
Pocut Meuligoe – Srikandi Perang Aceh, Pemimpin Kerajaan Samalanga. Terlibat dalam Ekspedisi Samalanga I, II, dan III. Setelah Samalangan jatuh pada 1904 dalam Pertempuran Batee Illiek, sosoknya menghilang dan tidak lagi diketahui keberadannya.
Dari kiri: J.H. Ebbink, Kapten H. Colijn, Panglima Polèm, Tuanku Raja Keumala, Pengawas Dankmeyer Tuanku Mahmut.
Tuanku Raja Keumala atau Tuanku Musa (POW) – Bangsawan, pemimpin gerilyawan, ulama, pembaharu pendidikan Aceh, dan Mufti terakhir Kesultanan Aceh. Ia memimpin pasukan menghadapi serangan Belanda di bawah Jenderal Van Heutsz, termasuk saat mempertahankan wilayah Garot dan Kuta Panglima Polem di Padang Tiji. Ia ditawan dan dipaksa menyerah kepada Belanda pada Januari 1903.
Teuku Umar dan pengikutnya.
Teuku Umar ⚔[5] – Amirulbahri (Panglimat Laut) Kesultanan Aceh untuk wilayah Aceh Barat, Panglima dan pemimpin perlawanan dari Aceh Barat, gugur pada 11 Februari 1899 di Meulaboh.
Potret Cut Nyak Dhien tertangkap pada 1905.
Cut Nyak Dhien[6] – Srikandi Perang Aceh, pemimpin perlawanan di wilayah Beutong Ateuh dan Seunagan. Tertangkap pada 1905 dan kemudian diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.
Pang Nanggroe ⚔ – Suami kedua Cut Nyak Meutia. Ia memimpin perlawanan di wilayah Aceh Utara–Aceh Timur, terutama di wilayah Keureutoe. Ia digambarkan sebagai panglima yang menonjol dalam taktik perang bergerak, sehingga dalam ingatan populer ia kerap disebut dijuluki “Napoleon Aceh” dan "Watergeus van Atjeh" (merujuk pada kelompok pejuang laut Belanda dalam Perang Delapan Puluh Tahun yang terkenal sebagai gerilyawan laut) oleh pihak Belanda. Pang Nanggroe gugur pada 26 September 1910 dalam Pertempuran Paya Cicem, daerah perbukitan Hague, Aceh Utara.
Lukisan Cut Nyak Meutia.
Cut Nyak Meutia ⚔ – Srikandi Perang Aceh, memimpin perlawanan di wilayah Keureutoe, Pirak, Aceh Utara dan Aceh Timur bersama suaminya. Pada 24 Oktober 1910, terjadi pertempuran sengit di Alue Kurieng antara pasukan Belanda dan pasukan Cut Meutia. Dalam pertempuran tersebut, Cut Meutia gugur.
Panglima Polem IX.
Panglima Polem IX Muhammad Daud (POW) – Panglima pasukan Kesultanan Aceh dari 1891 hingga 1903, Panglima Sagi XXII Mukim, dan Wazirulazmi. Ia terpaksa berdamai dengan Belanda pada 7 September 1903, setelah sejumlah anggota keluarga Kerajaan ditawan. Pemerintah Hindia Belanda mengasingkannya ke Ambon dan terakhir dipindahkan ke Batavia bersama Sultan.
Pocut Baren (WIA) – Srikandi Perang Aceh, memimpin perlawanan di wilayah Gome, Sungai Mas, Aceh Barat. Sosoknya terkenal dalam Pertempuran Gunong Mancang, ia menyerang Belanda melalui gua dengan jebakan-jebakannya. Pocut Baren terluka dalam sebuah serangan di Gunong Mancang, dimana Belanda mengalirkan 1200 kaleng minyak tanah ke arah gua lalu dibakar. Banyak jatuh korban karena penyerangan ini. Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya sehingga perlawanannya terpaksa berhenti. Karena cedera, ia tertangkap dan ditahan di Kutaraja, tetapi anak buahnya tetap melanjutkan perlawanan.
Pocut Meurah Intan – Ia merupakan putri bangsawan dari Keujruen Biheue, Sagi XXII Mukim, Aceh Besar (kemudian menjadi bagian dari XXII mukim: Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng). Ia juga dikenal sebagai Pocut di Biheue, bertempur melawan Belanda pada 1902 dan mengalami luka parah, sebelum akhirnya diasingkan bersama Tuanku Budiman dan Tuanku Ibrahim ke Blora, Jawa Tengah pada 6 Mei 1905. Ia wafat di pengasingannya pada 19 September 1937.
Tuanku Muhammad Batee – Anak dari Tuanku Abdul Majid dan Pocut Meurah Intan. Melakukan perlawanan bersama orangtuanya. Pada bulan Februari 1900, Tuanku Muhammad Batee tertangkap oleh satuan Marsose Belanda yang beroperasi di wilayah Tangse, Pidie. Pada tanggal 19 April 1900, karena dianggap berbahaya, Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Tondano, Sulawesi Utara
Teuku Ben Mahmud bersama awak kapal van Doorn dalam perjalanan menuju tempat pengasingan di Maluku.
Teuku Ben Mahmud (POW) – Uleebalang dan Wakil Sultan Aceh di Blangpidie. Ia dikenal sebagai tokoh yang menolak keras Korte Verklaring dan jabatan Zelfbestuurder, serta memimpin perlawanan di wilayah pesisir barat Aceh hingga ke dataran tinggi Gayo, Tanah Alas, dan perbatasan Tanah Batak. Teuku Ben Mahmud juga menjalin aliansi strategis dengan pejuang Batak, Sisingamangaraja XII, sebagai simbol solidaritas antaretnis dalam perjuangan melawan penjajahan. Karena pengaruhnya yang luas, ia akhirnya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Maluku Utara. Di sana, ia tetap menjadi pemimpin moral dan dikenal oleh masyarakat setempat sebagai "Tete Aceh". Ia wafat pada 28 Maret 1974 dalam usia sekitar 114 tahun, dan dimakamkan di Bukit Rahmat, Saramaake, Wasile Selatan, Halmahera Timur.
Teuku Chik di Tunong Cut Muhammad ⚔ – Uleebalang Keureutoe yang sangat gigih melawan penjajahan Belanda, suami kedua Cut Nyak Meutia. Bersama Cut Nyak Meutia, beliau memimpin taktik perang gerilya dan spionase yang sangat efektif di wilayah Aceh Utara. Salah satu serangan terkenalnya terjadi pada tahun 1902 terhadap detasemen infantri Belanda yang mengakibatkan kerugian besar di pihak musuh. Ia tertangkap pada 5 Maret 1905 oleh pasukan kolobial dan wafat pada tanggal 25 Maret 1905 setelah dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda. Awalnya beliau dijatuhi hukuman gantung, namun Gubernur Militer Van Daalen mengubahnya menjadi hukuman tembak mati sebagai bentuk penghormatan atas keberaniannya sebagai pejuang. Beliau dimakamkan di Gampong Mon Geudong, Lhokseumawe.
Teuku Paya Simpang Ulim – Ketua Dewan Delapan, Panglima Simpang Ulim, Saudagar, Pengusaha lada dan Perwakilan Aceh di Penang, Straits Settlements, British Malaya. Ia berkontribusi terhadap sumbangan harta dan persenjataan kepada pejuang Aceh. Teuku Paya telah berkonflik dengan Belanda sebelum Perang 1873 pecah. Kapal Penang Beaty yang juga milik Teuku Paya pernah dibakar oleh Belanda pada 1872. Ia pulang ke Aceh dan berjuang di Aceh Timur (terutama di Simpang Ulim dan Idi Rayek) hingga wafat.
Teuku Raja Pakeh Dalam Pidie – Ulee Balang XII Mukim Pidie, Panglima Barisan dari Pidie. Ia memimpin perlawanan di Lambuek.Teuku Pakeh Dalam juga yang mengusulkan kepada Sultan agar utusan Belanda Mas Sumo dibunuh. Karena ini lah membuat Belanda marah dan pihak kolonial memutuskan mendatangkan satu eskader angkatan lautnya ke Pidie untuk menghancurkan negeri itu dengan pemboman, sebagai "serangan hukuman" kepadanya. Serangan ini membuat benteng Kuta Asan, Sigli direbut hingga akhirnya ia angkat tanganpada tanggal 28 Februsari tahun 1876.
Teuku Muda Cut Lateh Meureudu – Wakil kepala staf Amirul Bahri wal Barri (mengurusi laut dan perairan) di zaman Sultan Ibrahim Mansur Syah (1857-1870), Panglima Pasukan dari Meureudu, Pidie dan Melawan Belanda sejak Ekspedisi Aceh Pertama. Ia pernah ditugaskan untuk mengawasi markas pertahanan di perbatasan Aceh dengan Sumatera Timur, khususnya di markas Pulau Kampai. Pada tahun 1900, ia mendengar bahwa Belanda akan mendarat di Bireuen, dan beliau jatuh sakit berat. Beliau akhirnya meninggal dan dimakamkan di Kampung Teupin Mane, Bireuen.
Teuku Nyak Lam – Uleebalang Teunom, panglima barisan Aceh Besar.
Teuku Syah Idrus ⚔ – Gugur pada 12 Desember 1873 di III Mukim Tungkop
Teuku Muhammad Arif Montasik ⚔ – Panglima dari Montasik, Aceh Besar, gugur pada 1875.
Teuku Ali Baet ⚔ – Uleebalang Baet XXII mukim. Ia pernah membantu Sultan dalam memobilisasi pasukan di IX Mukim Garot. Ia juga dikenal aktif membantu Cut Nyak Dhien. Pada tahun 1901, beliau menjadi target operasi militer Belanda di wilayah pantai barat Aceh. Ia pernah berjuang bersama Teukoe Imeum Ripin setelah tokoh tersebut kembali dari Pidie menuju pantai barat. Pasukan Belanda di bawah komando Kapten P.A.H. Heldens dari Korps Marechaussee melakukan pengejaran intensif terhadap beliau setelah berhasil memukul mundur pasukan Teukoe Imeum Ripin pada pertengahan Juli 1901.
Teuku Raja Abdullah Panglima Polem ⚔ – Gugur dalam Pertempuran Aneuk Galong 1878.
Teuku Raja Abdullah Lam Kabeue ⚔ – Gugur dalam Pertempuran Gle Yeung 1878.
Teuku Muda Ben ⚔ – Adik Panglima Polem, berjuang hingga akhir hayatnya.
Teuku Raja Bintang ⚔ – Paman Panglima Polem, berjuang hingga ajalnya.
Teuku Muda Haji ⚔ – Saudara Panglima Polem, berjuang hingga ajalnya.
Teuku Cut Blang ⚔ – Saudara Panglima Polem, berjuang hingga ajalnya.
Teuku Muda Lateh Lam Leuot ⚔ – Berjuang sampai ajalnya.
Teuku Po Amat Lam Nga ⚔ – Ayah dari Teuku Ibrahim Lam Nga, gugur di permulaan Aresi ke II.
Teuku Ujung Arun ⚔ – Ayah Panglima Teuku Nyak Makam, gugur dalam permulaan Aresi ke II.
Teuku Hasan Bin Teuku Paya ⚔ – Gugur di Ulee Lheue.
Teuku Muhammad Batèë – Gugur di Batèë, Pedir (Pidie).
Tuanku Nurraden – diasingkan oleh pihak Kolonial Belanda.
Teuku Ibrahim Montasik ⚔ – Gugur.
Teuku Johan Lam Pase – Ditawan dan diasingkan Belanda.
Teuku Polem Dalueng ⚔ – Gugur.
Teuku Bentara Seumasat Glumpang Payong Haji Gam – Diasingkan pihak kolonial ke Pulau Jawa.
Teuku Keumangan Pocut Usman
Teuku Keumangan Abdul Latif – Diasingkan ke Batavia.
Pocut Dirambung – Diasingkan ke Batavia.
Teuku Muda Dalam Lam Beusoe
Teuku Maharaja Mansur Meureudu ⚔ – Gugur.
Teuku Chik Lam Pisang Cot Lam Gle ⚔ – Gugur.
Teuku Ben Peukan Meureudu – Diasingkan ke Batavia
Peutua Gam Masin ⚔ – Gugur.
Teuku Bentara Titeue ⚔ – Gugur.
Teuku Imum Lam Ara ⚔ – Gugur.
Teuku Keuchik Ali Mamprei ⚔ – Gugur.
Teuku Amad Krueng ⚔ – Gugur.
Keuchik Him ⚔ – Gugur pada 1900.
Teuku Amad Gle Cut ⚔ – Gugur
Raja Mude Uwen Atan –
Reje Suib dari Likat –
Inem Manyak Tri ⚔[7] – Srikandi Aceh, gugur di Kutaraja.
Datuk Pending II[7] –
Panglima Raja Lelo ⚔ –
Teuku Cut Ali ⚔[7] –
Teuku Raja Angkasah ⚔[7] – Gugur pada 1925 di hutan Bukit Gadeng, Bakongan, Aceh Selatan.
Teuku Uleebalang Baro Krueng Geukueh, gugur.
Teuku Beurahim Blang Me, gugur.
Teuku Alibasyah, Geudong, Lam Kabeue, Aceh Besar, gugur.
Teuku Muda Lateh, Lam Kabeue, Aceh Besar, gugur.
Teuku Daud, Lam Kabeue, Aceh Besar, gugur.
Teuku Husin Blang Gapui, gugur.
Teuku Keujruen Krueng Kala Lhong, gugur di Gayo pada 1901 .
Teuku Pidie, tewas di Buloh Meulaboh, gugur.
Teuku Manyak Keumala, gugur 1903.
Teuku Mahmud Keumala. gugur 27 Maret 1903.
Keuchik Puteh Blang Guci, gugur.
Keuchik Usman Tiro, gugur pada 1903,
Teuku Keuiruen Musa, gugur.
Teuku Rajeue, gugur pada 1903.
Teuku Bentara Blang Peudue, gugur pada Juli 1903.
Teuku Raja, gugur di Lageun pada Juli 1903.
Teuku Beurdan, gugur di Lageun pada Juli 1903.
Teuku Manyak, gugur di Keumala pada 5 Oktober 1902, .
Teuku Ibrahim Montasik, gugur pada Maret 1904, di Geum Panglima
Teuku Ubit, gugur pada Mei 1904 di Aron.
Keujruen Daud, gugur pada Desember 1904 di Cotmurong.
Teuku Haji Gantoe, Pieung, gugur pada 1904.
Teuku Panglima Ma’e Trienggadeng, ditawan, kemudian dibebaskan.
Teuku Di Klibeuet, gugur pada 4 Agustus 1904.
Pocut Husin III Mukim Kayee Adang, gugur pada 4 Agustus 1904.
Teungku Mude Bujang Kebayakan, gugur di Pertempuran Bur Kul
Teungku Kemala Reje, gugur di Pertempuran Bur Kul.
Empon Gayo, gugur di Pertempuran Bur Kul
Empun Negeri, gugur di Pertempuran Kanis.
Teuku Keuiruen Meukek, gugur pada Mei 1904 di Meukek.
Teuku Keumangan Meurah Puteh, gugur pada Mei 1904 di Meukek.
Tuanku Ahmad Batee, gugur pada Mei 1904 di Batee, Pidie.
Tuanku Ibrahim Abdulmajid, gugur pada Mei 1904 di Batee, Pidie.
Teuku Keuiruen Ubit Tangse, gugur di Pidie.
Keuchik Seuman, gugur pada 1907 bersama tiga anak buahnya, dalam penyerbuan tangsi Belanda di Kutaraja.
Teuku Ben Seuleumak, gugur pada 1907 di Lhokukon.
Teuku Sabon, gugur pada 1907, di Lhosukon.
Teuku Chik di Tunong Cut Muhammad, gugur pada 1905, ditembak Belanda di Lhokseumawe.
Teuku Gam Keujruen Ruah, gugur pada 1905.
Teuku Muda Rayek, gugur.
Imum Bale Tuha, Hakim Krueng, gugur.
Waki Him Meulaboh, gugur pada1909.
Rajo Dibukit Panglima Nain, gugur pada 1909.
Teuku Keujruen Leupo Geumpang, gugur pada 1910.
Teuku Usuh, gugur pada 1910.
Teuku Sabi, gugur pada 1910.
Teuku Raja Sabi, Keureutoe, diasingkan.
Teuku Makam, gugur pada 1910 di Keureutoe.
Cut Puteh, gugur pada 1910 di Pirak Haji
Raje Puteh, gugur pada 1910.
Kali Blangcut, gugur pada 1910.
Teuku Peundeng, gugur.
Keupala Mansur, gugur.
Reje Kahar Gayo, gugur pada 1911 di Gayo.
Teuku Mulod, gugur pada 1926.
Teuku Cut Ali, gugur pada 1926.
Teuku Nago, gugur pada 1926.
Teuku Muda Lambeusou, gugur pada 1926.
Teuku Mat Usuh Lamsiron, gugur pada 1926.
Teuku Putih Trumon, gugur pada 1926.
Datuk Nyak Neh, gugur pada 1926.
Teuku Nyak Dalam Keumire, gugur 1926.
Teuku Chik Lampisang Cot Lam Gle, gugur.
Teuku Muda Nyak Malem Simpang Ulim, gugur.
Teuku Bentara Peukan Julok Rajeu’, diasingkan ke Maluku.
Teuku Panglima Nyak Bugam Idi Cut, gugur.
Teuku Syamsarif Idi Cut, diasingkan ke Boven Digul, Papua.
Teuku Bukit Pala Idi, gugur.
Teuku Panglima Kaum Lam Baet Peudawa, gugur.
Teuku Abu Peudawa.
Teuku Panglima Nyak Muhammad Peureulak, gugur.
Teuku Meudagu Peureulak, gugur.
Teuku Chik Bintara Blang Langsa, diasingkan ke Ternate.
Tuanku Ibrahim Manyak Payed.
Teuku Banta Afanad Sungai Iyu, gugur.
Teuku Panglima Dalam Mat Saleh Sungai Iyu, gugur.
Pocut Raja Ahmad Bendahara, Gugur.
Datuk Bongkok Bendahara, gugur.
Teuku Jurong Panyang, gugur.
Tokoh Agama, Ulama dan Pemimpin Perang Sabil
Teuku Imeum Lam Krak (Teungku Ahmad) ⚔ – Wakil komandan pasukan Teuku Rama Seutia yang bertugas mempertahankan wilayah strategis di Peukan Aceh (Pasar Aceh), ulama sekaligus pemimpin mukim (Imeum Mukim) dari Lam Krak, Aceh Besar. Pada tahun 1840-an, pasukan di bawah kepemimpinannya sempat berhasil merebut kembali wilayah Barus dari tangan Belanda sebelum akhirnya jatuh kembali. Gugur pada 9 April 1873 selama Ekspedisi Aceh Pertama dalam Pertempuran Pante Ceureumen.
Teungku Chik Abbas di Kutakarang ⚔ – Qadhi Malikul Adil Kesultanan Aceh, ulama multidisipliner, ahli ilmu falak (astronomi), tabib, penulis kitab Ar-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah sekaligus tokoh kunci dalam strategi militer Perang Aceh. Selama Perang Aceh, beliau menjadi penasihat perang bagi Teungku Chik di Tiro. Melalui kitab Tazkirat ar-Rakidin, beliau menyebarkan pemikiran antipenjajahan dan memfatwakan bahwa membantu "kaum kafir" (penjajah) hukumnya haram, yang membakar semangat jihad rakyat Aceh. Di masa gerilya, beliau juga berkolaborasi dengan Teuku Umar dalam melancarkan berbagai serangan terhadap pasukan Belanda. Beliau wafat pada bulan November 1895 dalam masa pengasingan dan peperangan. Makamnya terletak di Gampong Kuta Karang, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.
Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee – Ulama kharismatik, Qadhi Rabbul Jalil (Hakim Agung) Kesultanan Aceh, ahli strategi perang, dan kolektor manuskrip Islam terkemuka asal Aceh. Beliau menimba ilmu di Mekkah selama bertahun-tahun dan sempat menjadi teman sepengajian ulama besar asal Banten, Syekh Nawawi al-Bantani. Ia merupakan pemimpin Dayah Tanoh Abèë di Seulimeum, Aceh Besar, yang pada masanya menjadi pusat pendidikan Islam dan perpustakaan naskah kuno terbesar di Asia Tenggara. Beliau wafat pada tahun 1894 Masehi (1314 H) dalam masa pengasingan akibat perang. Jasadnya dimakamkan di Gampong Tanoh Abèë, Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar.
Teungku Chik Pante Kulu – Ulama besar, pujangga, dan pejuang Aceh yang paling dikenal sebagai pengarang Hikayat Prang Sabi. Karya sastranya ini menjadi "senjata" psikologis yang sangat ampuh dalam membangkitkan semangat jihad rakyat Aceh melawan penjajah Belanda. Beliau menghembuskan napas terakhirnya pada 1891 di kawasan Kuta Cot Glie, Aceh Besar.
Teungku Chik Pante Geulima
Teungku Chik Pante Geulima ⚔ – Ulama besar, sastrawan, dan panglima perang disegani dari Pidie yang memimpin perlawanan terhadap Belanda sejak 1873. Ia dikenal sebagai strategi militer yang memimpin pasukan hingga ke tanah Batak/Karo dan gugur dalam Pertempuran Batee Iliek di Samalanga pada 1901.
Teungku Said Abdullah Aman Nyerang – Ulama dan panglima perang legendaris dari dataran tinggi Gayo yang memimpin gerilya melawan penjajahan Belanda selama lebih dari dua dekade. Ia dikenal melawan Belanda selama Ekspedisi Gayo-Alas-Batak. Beliau menjadi tokoh sentral perlawanan di wilayah pedalaman Gayo, Alas, hingga Serbojadi. Beliau memimpin kelompok pejuang yang dijuluki Belanda sebagai "Gerombolan Samarkilang". Beliau gugur pada 1922 dalam sebuah penyergapan yang dilakukan oleh pasukan Marechaussee (Marsose) pimpinan Letnan Jordans di hulu sungai Serbojadi.
Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman.
Teungku Chik di Tiro ⚔ – Wali Negara Aceh, ulama dan pemimpin perang sabil. Dibunuh dengan cara diracun pada 31 Januari 1891 di Benteng Aneuk Galong.
Habib Teupin Wan.
Habib Teupin Wan ⚔ – ulama dan pejuang asal Aceh yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling gigih dalam Perang Aceh melawan kolonial Belanda. Ia memimpin perlawanan bersenjata selama lebih dari 38 tahun (1873-1911), menjadikannya salah satu panglima perang dengan masa perjuangan terlama dalam sejarah perlawanan di Aceh. Basis perjuangannya berada di wilayah Tangse, Pidie dan sekitarnya.
Teungku Fakinah (POW) – Panglima pasukan srikandi Aceh, Ulama perempuan, pemengaruh. Ia memimpin perlawanan di empat benteng utama di Aceh Besar, diantaranya; Kuta Lamsayeuen, Kuta Cot Garot, Kuta Cot Weue, dan Kuta Bak Balee. Setelah Seulimeum jatuh, ia memindahkan basis perlawannya di Tangse hingga tertangkap disana. Ia kemudian kembali ke Lam Krak pada 1911 dan membuka dayah disana. Pada 1914 ia pergi ke Hijaz sekaligus menunaikan Haji dan menuntut ilmu disana, lalu pulang pada 1917 dan wafat di Lambeunot (Lam Krak) pada 1938.
Teungku Muhammad Amin –
Teungku Beb –
Muhammad Amin Saman Tiro ⚔ – Gugur dalam Pertempuran Aneuk Galong 1896
Abdussalam Saman Tiro ⚔ –
Sulaiman Saman Tiro ⚔ –
Ubaidillah Saman Tiro ⚔ –
Mahjuddin Saman Tiro ⚔ –
Muaz Amin Tiro ⚔ –
Teungku Di Mata le ⚔[7] –
Teungku Tapa ⚔ –
Teungku Haji Ali ⚔ – Gugur pada 13 Desember 1873 di Cot Paya Tungkop.
Teungku Chik Umar Lam U ⚔ – Gugur di Lam U.
Habib Meulaboh ⚔ – Gugur.
Teungku Cot Plieng ⚔ – Gugur pada 1904.[8]
Teungku Kubat ⚔ – Gugur
Teungku Chik Di Ribee ⚔ – Gugur.
Teungku Alue Keutapang ⚔ – Gugur.
Teungku Cot Cicem ⚔ – Gugur.
Teungku Leman Tong Peria ⚔ – Gugur.
Teungku Imeum Ripin Lam Sujen ⚔ – Gugur.
Teungku Muhammad Ali Di Tiro ⚔ – Gugur pada 21 Mei 1910.
Teungku Harun ⚔ – Gugur.
Teungku Haji Muda Muhammad Hanafiah ⚔ – Gugur pada 1901.
Teungku Muda Usuh Lam Siron ⚔ – Gugur.
Teungku Nyak Hasan Lam Nyong ⚔ – Gugur.
Teungku Nyak Dalam Keumire ⚔ – Gugur.
Teungku Mu’id Lhong ⚔ – Gugur.
Imum Lam Ara ⚔ – Gugur pada 1899.
Teungku Mat Amin Lam Birah ⚔ – Gugur pada 1899.
Syekh Toe ⚔ – Gugur pada 1899 di Pertempuran Jreue.
Teungku Mustapa –
Teungku Mude Telaga Makar –
Teungku di Alue Keutapang ⚔[7] –
Teungku Kadli ⚔[7] –
Teungku di Cot Cicem ⚔[7] –
Teungku Leman ⚔[7][7] –
Teungku Chik Paya Bakong ⚔[7] –
Teungku di Buket ⚔[7] –
Teungku di Kunat ⚔[7] –
Teungku di Reubee ⚔[7] –
Habib Ahmad ⚔[7] –
Teungku Saleh ⚔[7] –
Teungku Kalipah ⚔ –
Teungku di Barat ⚔ –
Teungku Peukan ⚔ –
Teungku Amin di Tapak Tuan[7] –
Teungku Ali Gle Yeueng, Gugur.
Teungku Di Aceh, Gugur.
Teungku Haji Harun – Gugur di Rigaih pada 1903
Imum Gam Lam Kunyet, tewas di Tangse, Gugur.
Teungku Haji Uma Peudue – Gugur di Leung Putu.
Habib Usuh – Gugur di Unoe, Pidie pada 1903
Teungku Ma’ Ali – Gugur pada 1903.
Teungku Mat Tahe – Gugur pada Juli 1903 di Bluek
Teungku Haji Kasem Cot Cicem – Gugur.
Teungku Daud – Gugur pada Juli 1903 di Cot Cicem.
Teungku Mat Seuman, Gugur 1903 di Didoh
Teungku Rahman Titeue – Gugur pada September 1903 di Mangki.
Teungku Dorahman – Gugur pada Maret 1904 di Geum Panglima
Teungku Ibrahim – Gugur pada Maret 1904 di Lam Meulo.
Teungku Lante Tiro – Gugur pada April 1904 di Panteraja.
Teungku Haji Seuman – Gugur pada 1904 di Bluek.
Teungku Aceh Busu – Gugur pada 1904.
Teungku Haji Him – Gugur pada 1904.
Teungku Haji Dullah – Gugur pada 1904.
Teungku Amat Diman – Gugur pada 1904.
Teungku Panglima Hasan Trienggadeng – Gugur.
Teungku Tanoh Mirah – Gugur pada 4 Agustus 1904.
Teungku Lambada Tiro – Gugur pada 4 Agustus 1904
Teungku Mat Ali Tirou – Gugur pada Mei 1904.
Teungku Di Paru – Gugur pada Mei 1904.
Teungku Di Peureumeue – Gugur pada Mei 1904.
Teungku Silang – Gugur pada Mei 1904.
Haji Gantoe – Gugur pada Mei 1904.
Teungku Haji Seuman – Gugur pada Mei 1904 di Bluek Lam kabeue.
Datuk Muhammad Zein Simeulue – Gugur pada 1904 di Sinabang.
Datuk Tapa – Gugur pada 1904 di Sinabang.
Teungku Alue Keutapang – Gugur pada 22 Oktober 1904 di Samalanga.
Teungku Mat Din – Gugur pada 22 Oktober 1904 di Pandrah
Teungku Chik Beureunuen – Gugur pada 22 Oktober 1904.
Habib Bin Habib Samalanga – Gugur pada 17 Oktober 1904 di Teupinmane.
Teungku Teungoh, Gugur di Pertempuran Kanis.
Teungku Dedu, Gugur di Pertempuran Kanis.
Teungku Lamcut Habib Teupin Wan, Gugur 1905, di Tirou.
Habib Umar, Gugur 1905 di Tirou.
Habib Husin, Lam Iliek, Gugur 1905, di Tirou.
Habib Gandu, Gugur di Pidie.
Habib Muhammad, syahid di Pidie.
Habib Amad, Gugur di Pidie.
Teungku Chik Syahkubat, Gugur di Pidie.
Teungku Nyak Aceh, Gugur di Pidie.
Teungku Di Lamlo, Gugur di Pidie.
Teungku Doraman, Gugur di Pidie.
Teungku Andib, Gugur di Pidie
Teungku Usuih, Gugur di Pidie.
Teungku Lambuga, Gugur di Pidie.
Teungku Ahmad Saleh, Gugur di Pidie.
Teungku di Bueng, Gugur di Pidie.
Teungku Leman, Gugur di Pidie
Teungku Pakeh, Gugur di Pidie
Teungku Meurandeh, Gugur di Pidie.
Teungku Chik Di Jambi, Gugur di Pidie.
Teungku Di Samad, Gugur di Pidie.
Teungku Mat Adnan Blang Rhiek, Gugur di Pidie.
Teungku Andah, Gugur di Pidie
Teungku Hasyem, Gugur di Pidie.
Teungku Cot Renem Di Tiro, Gugur di Pidie.
Teungku Abdurrahman, Gugur di Pidie.
Teungku Haji Bantan, Gugur di Pidie.
Teungku Haji Ahmad, Gugur di Pidie.
Teungku Polem Daluna, Gugur di Pidie.
Imum Raya Akub, Gugur 1907, di Peusangan, Bireuen.
Habib Umar, Gugur 1907 di Peusangan, Bireuen.
Imum Hasan Brigen Lhokseumawe Gugur 1907, di Lhokseumawe.
Imum Lah, Gugur 1907, di Lhoksukon.
Habib Jurong, Gugur 1909, di Samalanga.
Teungku Asan, Gugur di Pidie.
Habib Ahmad, Gugur di Pidie.
Mat Amin, Teungku di Aceh, Gugur 1909, di Lho’ Seumawe.
Teungku Di Lankahan, Gugur.
Teungku Raman, Gugur.
Teungku Pantonlabu, Gugur.
Teungku Di Jambo Aye, Gugur.
Teungku Imum Alue Keutapang, Gugur.
Teungku Cut, Gugur.
Teungku Ma’ Areh, Gugur.
Teungku Puteh Buah, Gugur.
Teungku Muhammad Nafiah, Gugur.
Teungku Leube Nga, Gugur.
Habib Hasyim, Gugur.
Teungku Muda Gantoe Keureutou, Gugur.
Imum Chik Matang Raya, Ara Keumudo, gugur.
Teungku Haji Adib, Matangkuli, Gugur.
Teungku Imum Blang Payabakong, Gugur.
Teungku Adam, Gugur.
Teungku di Buket, Gugur 1910, 21 Mei di Aceh Utara
Teungku Chik Harun, Gugur 1910 sda.
Teungku Ali Peutou, Gugur 1910 sda.
Teungku Ismail Glumpang Payong, Gugur 1910 sda.
Teungku Pi’i Iboih, Gugur 1910 sda.
Teungku Yet Lhokkayu, Gugur 1910 sda.
Teungku Dayah Geumpang, Gugur 1910 sda.
Teungku Saleh Tangse, Gugur 1910 sda.
Teungku Saleh Tangse, Gugur 1910 sda.
Teungku Rahman Tirou, Gugur 1910 sda.
Teungku Imum Ma’ Asan bin Putih, Gugur 1910 sda.
Habib Ahmad, Gugur 1910 sda.
Teuku Ben Uleebalang Samalanga, 37 Gugur 1910 di Peusangan.
Habib Musa, Gugur 1910 sda.
Teungku Di Payabakong, Gugur 1910 di B.B. Ara.
Teungku Di Andak, Gugur 1910 sda.
Teungku Di Barat, Gugur 1910 sda.
Imum Meunna, Gugur 1910 di Buloh Blang Ara.
Teungku Seupot Mata, Gugur 1910 sda.
Teungku Cut Hasyim, Gugur 1910 sda.
Teungku Banta, Gugur 1910 sda.
Teungku Lhon Keubeue, Gugur 1910 sda.
Teungku Di Aceh, Gugur 1910 sda.
Teungku Sumboe, Gugur 1910 sda.
Imum Abah, Gugur 1910 sda.
Teungku M. Saleh Bin Teungku Seupot Mata, Gugur 1910 sda.
Habib Jurong Samalanga, Gugur 1910 Juli di Samalanga.
Teungku Daud, Gugur 1910 di Mukim VII.
Teungku Asan Titeue, Gugur 1910 di Titeue.
Teungku Putih, Gugur 1910 sda.
Teungku Ali, Gugur 1910 sda.
Imum Alue Keutapang, syahid 1910 di Lho’ Sukon,
Teungku Cut, Gugur 1910 sda.
Teungku Imum Adeue Alue Lhok Gugur 1910 di Alue Lho’
Teungku Musa, Gugur sda.
Teungku ‘In, Gugur sda.
Teungku Adan; Gugur sda.
Teungku Akbar Bin Aliddin, syahid 1911 sda.
Teungku Ulee Tutue, Gugur sda.
Teungku Ma’ruf, Gugur sda.
Teungku Abdulwahab Tanoh Abee, .
Teungku M. Saleh Bin M. Amin Tiro, Gugur 1911 sda.
Teungku Chik Di Batee Tunggal Gugur 1926 sda.
Habib Mustafa Tapaktuan. Gugur 1926 sda.
Habib Putih, Gugur 1926 sda.
Teungku Muhammad Diah Simpang Ulim, Gugur.
Teungku Usuh Ulee Gajah, Gugur.
Panglima, Tokoh Lapangan dan Pejuang Aceh
Pang Laot Ali
–
Panglima Nyak Man
Pang Sane – Gugur.
Pang Andah – Gugur.
Panglima Dagang Blang Jeurat – Gugur.
Pang Bedok Mampang ⚔[7] – Gugur
Muhammad Din[7] –
Pang Akob[7] –
Panglima Mahusin –
Panglima Reje Bedussamad ⚔ –
Panglima Dasa dari Lengat –
Panglima Timbul dari Terutung Payung –
Panglima Maddarin dari Bambel –
Panglima Jibun dari Kisam –
Panglima Jibun dari Kisam –
Panglima Nejem –
Panglima Bedul dari Mamas –
Panglima Sagup dari Ngkeran –
Panglima Lima Laut dari Terutung Seperei –
Panglima Mamad dari Kuta Reh –
Panglima Tumbuh dari Tualang Lama –
Panglima Ajam dari Ngkeran –
Panglima Junim dari Pulonas –
Panglima Aman Jata dari Kute Lintang –
Teuku Idris ⚔ –
Bidin Keubay[7] –
Khadem Ambon Manggeng[7] –
Teuku Manan[7] –
Panglima Abas Montasik ⚔ – Gugur.
Pang Reudeuep ⚔ – Gugur.
Pang Amad Krueng Kale ⚔ – Gugur.
Imum Lam Teungoh ⚔ – Panglima Mukim VI, Gugur.
Said Ujud ⚔ – Gugur.
Panglima Mat Asan ⚔ – Gugur.
Pang Leman ⚔ – Gugur.
Pang Amad Lhoknga ⚔ – Gugur.pada 1899.
Nyak Leman ⚔ – Gugur dalam Pertempuran Jreue.
Pang Kaoy Krueng Raya, Aceh Besar, Gugur.
Pang Ubit, di Batee Iliek Gugur.
Pang Makam, di Batee Iliek Gugur.
Panglima Teungku Mata Ië, Gugur
Panglima Prang Beurahim, Gugur.
Nyak Mamad Peureulak. tewas di Gayo 1901 Gugur.
Pang Amin, tewas di Rigaih 1903 Gugur.
Panglima Mahmud, tewas di Rigaih 1903 Gugur.
Panglima Cut, tewas di Meulabah, Gugur.
Panglima Prang Meglih, Gugur
Panglima Asan, Gugur di Teupin Raya thn. 1903.
Pang Polem, Gugur di Lancok Pidie.
Pang Amat, Gugur 27 Maret 1903;
Pang Cut Ubit, Gugur 1903.
Pang Seuman Busu, Gugur 1903.
Pang Asan Busu, Gugur 1903.
Pang Njong, Gugur 1903.
Habib Wahab, Gigieng, Gugur 1903.
Pang Ngalan, Gugur 1903, Juli di Cot Cicem.
Pang Seuman, Gugur 1903, Juli di Cot Cicem.
Pang Asan, Gugur 1903, Juli di Cot Cicem.
Pang Ateuek, Gugur 1903, Juli di Cot Cicem.
Pang Andak, Gugur 1903, di Ieleubeue.
Nyak Muda Daud, Gugur 1903 di Ieleubeue.
Habib Garot, Gugur 1903, di Ieleubeua.
Pang Areh Gugur 1903, di Cot Cicem.
Panglima Prang Meureudu, Gugur 1903, Desember di Meureue.
Panglima Prang AH, Gugur 1904 di Pasi Lhok
Pang Dullah, Gugur 1904, Pebruari di Cot Trieng.
Pang Andak, Gugur 1904, Maret di Lam Meulo.
Pang Malem, Gugur 1904, Ma di Lam Meulo.
Pang Dadeh Gugur 1904 Juni di Panteraja.
Pang Polem, Gugur 1904 Mei di Aron.
Pang Arun, Gugur 1904, April di Panteraja.
Pang Akob, Gugur 1904, Juni di Aroja.
Pang Andak, Gugur 1904, Juni di Aron.
Pang Di Rangkang Timu, gugur 1904.
Pang Ulong, Gugur 1904.
Pang Saleum, Gugur 1904.
Pang Lah Peuduek, Gugur 1904, Agustus 9.
Panglima Prang Ekeh, Gugur di Aceh Utara.
Pang Reje Gembera, Gugur di Lukup.
Pang Teungku Lebet, Gugur di Tenge Besi.
Pang Penulu Aman Beuramat Gugur di Tenge Besi.
Pang Lebe Nenggeri, Gugur di Tenge Besi.
Pang Nyak Gerem, Gugur di Tenge Besi.
Pang M Sabil Kebayakan, Gugur di Mampak/Asir-asir.
Panglima Prang Amin, Gugur di Teungku Burnni Pante.
Pang Bedel, Gugur di Amuk Penyampuran.
Pang Ramung, Gugur di Amuk Penyampuran.
Aman jalil, Gugur di Amuk Penyampuran.
Petue Amin, Gugur di Atu SengkeHaji
Pang Sabil, Gugur di Lenang Isaq.
Panglima T. Raja Bedussamad Gugur 1904 di Bambel Tanah Alas.
Panglima Ma’ Husin, Gugur 1878 di Penosan Gayo Luas.
Panglima Guru Leman, Gugur 1906 di Kutacane.
Panglima Guru Edjem (Nejem) Gugur 1904 di Blang Kejeren.
Panglima Laot, Gugur di Aceh Tenggara.
Panglima Sagub, Gugur. sda.
Panglima Mamad, Gugur sda.
Panglima Tumbuk, Gugur sda.
Panglima Raja Mude wan Atan Gugur sda.
Panglima Raja Souib, Gugur sda.
Panglima Dasil, Gugur sda.
Panglima Metederil Gugur sda
Panglima Djiboen, Gugur sda.
Panglima Adjam, Gugur sda.
Panglima Djunim, Gugur sda.
Panglima Aman Djata, Gugur sda.
Panglima Keter, Gugur sda.
Panglima Titin, Gugur sda.
Panglima Dasin, Gugur sda.
Panglima Lebong, Gugur sda.
Panglima Mude Telaga Mekar, Gugur sda,
Panglima Bedu Mamas, Gugur sda.
Panglima Tumbuh, Gugur sda.
Panglima Lengat Trt. Pedi, Gugur sda.
Pang Wahid, Gugur di Lhokseumawe.
Pang Cante, Gugur.
Pang Tahe, Gugur.
Pang Piah, Gugur.
Pang Daya. Gugur.
Pang Husin, Gugur.
Pang Lutan, Gugur.
Pang Syekh Maun, Gugur.
Pang Aron, Gugur di Blangmangat.
Pang Abah, Gugur.
Pang Beuramat, Gugur di Peu toe.
Pang Sin, Gugur 1910 Pebruari di Peusangan.
Pang Cut Ahmad Rambong, Gugur 1910 sda.
Panglima Meureudu, Gugur 1910 sda.
Pang Ben, Gugur 1910 di Blang Guron.
Pang Akob, Gugur 1910 sda. 372.
Panglima Blang Midan, Gugur 1910 sda.
Pang Lambot, internir.
Panglima Prang Lampucok’, Gugur 1910 sda.
Panglima Prang Nanggroe, Gugur 1910 sda.
Pang Thayeb, Gugur 1910 sda.
Pang Nalou Ambeue, Gugur sda.
Pang Ben Seugoe, Gugur 1910
Si Juba, Gugur 1910 sda.
Panglima Nyak Gayo, Gugur sda.
Pang Bintang, Gugur 1911 sda.
Pang Abaih XXV Mukim, Gugur 1911 sda.
Pang Mat Piyeueng, Gugur 1911 sda.
Pang Abaih Montasiek, Gugur.
Pang Reudeuep, Gugur.
Panglima Prang Hakim Julok Cut, Gugur.
Nyak Bahrum Idi, Gugur.
Nyak Umar Alue Nireh, Gugur.
Panglima Prang Beuni Bayeuen Gugur.
Panglima Sya’ban Bendahara.
Panglima Tanjung Bendahara.
Pang Hasan Bendahara, Gugur.
Pang Dasa, Gugur.
Panglima Sa’ad, Gugur.
Nyak Muda, Gugur 1904, April di Panteraja.
Nyak Muda Daud, Gugur 1904
Usman Lampong Minyak, Gugur di Aceh Besar.
Penghulu Kemili, Gugur di Tenge Besi.
Leube Syam, Matangseuleuma Gugur.
Keudjmen Bukit, Gugur.
Aman Beurani, Gugur 1910 di Gayo.
Lahidin, Gugur 1911 sda.
Lebe Grondong, Gugur 1911sda.
Pang Manap, Gugur 1914, Nopember sda.
Waki Tam, Gugur 1914 di Meureubo.
Muda Nyak Ben, Gugur 1914 sda.
Imum Sabi, Gugur 1926 sda.
Haji Yahya, Gugur di Aceh Selatan.
Nyak Aceh Trumon, Gugur 1926 sda.
Tokoh dan Pemimpin era Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Potret Teungku Daud Beureueh.
Teungku Muhammad Daud Beureu'eh – Gubernur militer Aceh, Langkat dan Tanoh Karo.
Teuku Mohammad Hasan
Teuku Nyak Arif
Syamaun Gaharu
Teuku Abdul Hamid Azwar
Achmad Soebardjo
B.M. Diah
Teuku Abdul Hamid Azwar
Kerajaan Belanda / Hindia Belanda (KNIL)

Cornelis de Houtman ⚔
Frederick de Houtman.
Frederick de Houtman (POW)
Paulus van Caerden
Jacob Cornelisz van Neck.
Jacob Corneliszoon van Neck
Laurens Bicker
Gerard de Roy
James Loudon.
James Loudon
Johan Wilhelm van Lansberge
Frederik s'Jacob
Otto van Rees
Cornelis Pijnacker Hordijk
Willem Rooseboom
Jan Jacob Roeps
Wilhelm Christiaan Nieuwenhuijzen
August Willem Philip Weitzel
J.H.R. Köhler ⚔
Jan van Swieten
J.L.J.H Pel ⚔
K. van der Heijden (WIA)
Haji Demmeni ⚔
J.J.K. De Moulin ⚔
Johannes Benedictus van Heutsz.
J.B. van Heutsz[9]
Hendrikus Colijn
J.C. van der Wijck[9]
Gotfried van Daalen[9]
George Frederik Willem Borel
Gerardus Wiggers van Kerchem
August J.F. Diemont
Abraham Pruijs van der Hoeven
Philip Franz Laging Tobias
Henri Karel Frederik van Teijn
Christoffel Deykerhoff
Jacobus Augustinus Vetter
Johannes Wouter Stemfoort
Peter Hermanus van der Wedden
C.P.J. Van Vliet
Henri Nicolas Alfred Swart
A.G.Haji Van Sluijs
A.M. Hans
O.M. Goedhart
A.H. Philips
A.P. Van Aken
J. Jongejans
J. Pauw
H.F.C. van Bijlevelt
M.B. Rost van Tonningen
Versvijek
Hans Christoffel[10]
W.B.J.A. Scheepens[10]
van Braam Moris[10]
J. Paris ⚔[11]
W.R. Winter[10]
GEB Watrin[10]
J.W. Ebbink[10]
HajiF. Aukes[10]
Creutsz Lechleitner[10]
Molenaar[10]
Lasonder[10]
Stolk[10]
de Graff[10]
Raden Ario Setjo Negoro[12]
Raden Ario Majang Koro[13]
P. Adinegoro[14]
R.A.P. Kromo[14]
Ariogondosisworo[14]
Teuku Nek Meuraxa[15]
Syahbandar Panglima Tibang Muhammad
Panglima Tibang sekitar 1895.
Lihat pula
Referensi
- ↑ "Konflik Aceh–Belanda (1599–1942)". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2026-02-24.
- ↑ Ibrahim (2001), p. 132
- ↑ tengkuputeh (2021-06-29). "SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR". Tengkuputeh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-16.
- ↑
- ↑ Anthony Reid (2005), p. 336
- ↑ Anthony Reid (2005), p. 352
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Sufi, Rusdi (1998). Gerakan Nasionalisme Di Aceh (1900-1942) (PDF). Banda Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. ISBN 979-95312-4-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Kisah Syahidnya Teungku Di Cot Plieng - Acehinfo". 2022-08-14. Diakses tanggal 2026-02-25.
- 1 2 3 Ibrahim, Alfian. "Aceh and the Perang Sabil." Indonesian Heritage: Early Modern History. Vol. 3, ed. Anthony Reid, Sian Jay and T. Durairajoo. Singapore: Editions Didier Millet, 2001. p. 132–133
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
- ↑ https://kumparan.com/acehkini/kematian-tragis-kapten-paris-usai-kelewang-aceh-membelah-dadanya-13-1wwPPus38uE
- ↑ https://historia.id/militer/articles/orang-madura-dalam-perang-aceh-vqZzZ
- ↑ https://tirto.id/raden-ario-majang-koro-komandan-barisan-pembela-hindia-belanda-dDyg
- 1 2 3 https://www.acehnews.id/news/tentara-jawa-dalam-perang-aceh/index.html
- ↑ https://peakd.com/sejarah/@temenggungadifa/teuku-nek-meuraxa

























