Guru Gembul (lahir 1985)[4] adalah seorang guru sejarah, dan pembuat konten asal Indonesia, yang dikenal dengan konten bertema filsafat sosial.
Kehidupan
Ia merupakan lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia.[5] Guru Gembul menyatakan bahwa ia adalah seorang pengajar di salah satu sekolah di Bandung, sementara pendapatan per bulan dari kanal YouTube-nya diperkirakan mencapai $1.7K sampai $27.2K atau jika dirupiahkan sekitar Rp26.134.100 sampai Rp372.026.600. Dengan demikian, penghasilannya dalam setahun sekitar $20.4K sampai $326.1K atau jika dirupiahkan sekitar Rp313.609.200 sampai Rp5.013.135.300.[6]
Sebelum aktif di kanal YouTube, Guru Gembul aktif di media sosial Facebook dengan username "Ka Jo" yang merupakan akronim dari Kak Johan Riadi.[7]
Nama asli Guru Gembul yang diyakini secara luas oleh media adalah Johan Riadi,[8] seorang lulusan pendidikan sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) tahun 2008.[7] Nama dan foto Johan Riadi sebagai direktur lembaga pendidikan Boemi Matahari[9][10] terpublikasikan pernah menjadi nara sumber di acara televisi MQTV[11] yaitu acara bincang unit pers mahasiswa UPI pada 2016.[12] Skripsi Johan berjudul "Dampak Pemikiran Al-Ghazali terhadap Perkembangan Aliran Pemikiran Teosofi (1111-1640)".[13][14]
Johan tercatat menjadi guru honorer sejarah di SMA Negeri 16 Bandung sejak 1 Juli 2017,[15][16] dan SMP Citra Cemara Bandung.[17][18][19] Salah seorang pengguna Quora pada 2021 juga menulis bahwa Guru Gembul mengajar sejarah di SMA Negeri 16 Bandung dan aktif menjadi pembicara pendidikan.[20][21] Dalam siniar bersama Richard Lee, Guru Gembul mengakui bahwa ia merupakan seorang guru honorer.[22]
Aktivitas
Guru Gembul memulai kariernya di YouTube dengan membuat video pembahasan mengenai ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat sosial, teori konspirasi dan sejarah Indonesia maupun global. Pemikirannya tentang Islam moderat dan kritiknya terhadap komunitas-komunitas keagamaan di Indonesia membuat kontennya cukup diminati di Indonesia.[23] Guru Gembul menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang Sunni ataupun Syiah, dan bahwa dirinya tidak mengikuti denominasi Islam manapun.[24]
Konfliknya dengan Bahar bin Smith dimulai ketika Guru Gembul memperhatikan bahwa Bahar tidak bisa membaca kitab kuning, perangkat teks pendidikan berbahasa Arab dalam kurikulum Islami yang umum digunakan di pesantren di Indonesia.[25][26] Guru Gembul menyayangkan hal ini, dan menyebut Bahar bin Smith sebagai "ulama gadungan", serta meragukan nasab Bahar sebagai seorang habib.[27] Guru Gembul kemudian menyoroti penggunaan hadis palsu dalam pernyataan Bahar yang digunakan Bahar untuk menegaskan bahwa ia benar-benar keturunan dari nabi IslamMuhammad.[28][29]Rhoma Irama dan Zein Assegaf, tokoh publik lain yang saat itu juga berkonflik dengan Bahar, menyetujui pernyataan Guru Gembul, menyayangkan hal ini terjadi.[30] Lebih lanjut, Rhoma Irama dan Guru Gembul menantang Bahar untuk membuktikan keaslian nasabnya melalui tes DNA, hal ini membuat Bahar tersinggung, tetapi menyatakan bahwa ia bisa saja menyanggupinya dengan sejumlah syarat.[31]
Dalam sebuah seminar di Bandung, Guru Gembul mengkritik sistem pendidikan di Indonesia yang dianggapnya hanya terlalu berfokus pada hal-hal administratif, ia kemudian mendorong perubahan pada sistem pendidikan.[32] Ia juga mengkritik pemberian gaji rendah terhadap guru-guru di Indonesia, yang menurutnya hal inilah yang memicu penurunan kualitas pendidikan Indonesia.[33]
Pada tahun 2023, sebagai akibat kritiknya terhadap guru dan pendidikan di Indonesia, lima aktivis pendidikan melayangkan surat terbuka berisi somasi kepada Guru Gembul atas pernyataannya dalam gelar wicara pendidikan nasional yang ditayangkan di BTV edisi 1 Juni 2023. Para aktivis menilai pernyataan Guru Gembul tentang kompetensi guru telah melecehkan profesi guru. Dalam klarifikasinya, Guru Gembul mengatakan bahwa dirinya hanya mengkritik Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menyiapkan para guru, lebih lanjut menyatakan bahwa pernyataannya telah disalahpahami dan tidak seharusnya berujung pada somasi.[34] Masalah ini kemudian diselesaikan dengan damai, dengan semua pihak sepakat bahwa "hanya sebagian guru yang tidak kompeten".[35]
Menyatakan sistem indrawi sering bohong
Pada tahun 2024, Guru Gembul pernah menyatakan,
Semua sistem indrawi kita ini sering bohong atau dikibulin atau eror, kalau begitu maka dia tidak layak, tidak cocok untuk menjadi sumber informasi yang terpercaya.
Pernyataan ini membuat seorang alumnus Universitas Minnesota, Abdul Muin Banyal berkomentar bahwa indra manusia memang terbatas, namun keterbatasan itu bukan malah membuat indra manusia tidak layak dijadikan sumber informasi terpercaya seperti yang dikatakan oleh Guru Gembul. Menurut Abdul Muin, justru keterbatasan itulah yang mendorong manusia untuk menciptakan alat bantu yang bisa kita gunakan untuk memperluas indra manusia, bahkan setelah manusia membuat alatnya, manusia masih harus menggunakan indra mereka untuk mengamati fenomena di sekitar mereka.[36][butuh sumber nonprimer]
Respons saat debat dengan Muhammad Nuruddin
Guru Gembul mengalami kekalahan atas Muhammad Nuruddin mengadakan debat panas dengan tema "Bisakah Keshahihan Akidah Islam Dibuktikan Secara Ilmiah?". Debat panas melibatkan Guru Gembul dengan Muhammad Nuruddin telah digelar di Aula PSJ Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (UI), Depok. Guru Gembul menjelaskan bahwa Muhammad Nuruddin dalam urusan perdebatan sangat matang dari segi persiapan dan referensi. Ia menganggap Muhammad Nuruddin juga kerap kali mengenakan logika saat berdebat dengan dirinya karena didasari dengan kaidah keilmuan dan lain-lain.[37]
Ketika debat antara keduanya berlangsung, Guru Gembul tampak tidak siap menghadapi hujan referensi dan dalil yang dibawakan oleh Muhammad Nuruddin. Alih-alih merespons dengan argumen yang terstruktur dan berbasis ilmu, Guru Gembul lebih banyak membahas hal-hal di luar topik debat, mengalihkan pembicaraan, dan bahkan tidak menghormati moderator yang bertugas menjaga kelancaran diskusi. Gaya berbicaranya yang terkesan asal, tanpa dasar yang kuat, serta kurangnya referensi ilmiah yang mendukung pernyataannya, makin memperlihatkan bahwa ia tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai topik yang sedang dibahas.[38]
Buku tanpa referensi
Guru Gembul juga menjadi sasaran kritik terkait buku yang ditulisnya berjudul "50 Muslim Paling Berpengaruh dalam Sejarah Peradaban Islam - Sejarah Islam yang Disembunyikan". Sejumlah netizen mengungkapkan kekecewaan mereka karena buku tersebut dianggap tidak memiliki referensi yang jelas. Bahkan, banyak yang menyoroti isi buku yang dianggap tidak sesuai dengan judulnya. Foto-foto dalam buku tersebut diduga tidak menyertakan asal sumbernya. Misalnya dalam buku itu ada gambar yang mengambil dari lukisan karya Antoine Jean Gros pelukis Perancis, koleksi Musée de l'Histoire de France. Namun gambar tersebut malah diberi keterangan foto "Lukisan Napoleon ketika menaklukan mesir".[39]
Buku
Ngomongin Logical Fallacies: Memahami Cacat Logika dalam Kehidupan Sehari-Hari (2025)
Ngomongin Filsafat, Ah! (2025).
Beyond Belief: Fact or Fiction (2024).
50 Muslim Paling Berpengaruh dalam Sejarah Peradaban Islam: Sejarah Islam yang Disembunyikan (2024).
↑Ardiansyah, Muhammad (2024). "Representasi islam moderat dalam kanal youtube Guru Gembul perspektif teori fungsi interpretasi Hermeneutika Jorge J.E Gracia". UIN Sunan Ampel Surabaya.