Makanan ini dibuat terutama dari susu padat, secara tradisional dari khoya, yaitu susu yang direduksi menjadi adonan lembut. Resep modern memerlukan susu kering atau susu bubuk sebagai pengganti khoya. Sering kali dihias dengan buah geluk kering seperti almond dan kacang mete untuk menambah rasa.
Asal-usul
Menurut sejarawan kuliner Michael Krondl, Manasollasa abad ke-12 menyebutkan resep bola goreng yang terbuat dari keju chenna dan tepung beras serta direndam dalam sirop beraroma kapulaga, namun resep ini tidak menggunakan sirop air mawar (gulab).[1][2] Makanan penutup Arab abad ke-13, luqmat al-qadi, memiliki tampilan yang mirip dengan gulab jamun, meskipun dibuat dari adonan yang sama sekali berbeda dari gulab jamun tetapi direndam dalam sirop beraroma air mawar (gulab), satu-satunya koneksi Persia mungkin adalah penggunaan sirop air mawar secara umum.[3] Gulab Jamun muncul di India abad pertengahan selama periode masuknya Islam, memadukan pengaruh Persia dengan pengaruh lokal yang akhirnya menjadi gulab jamun.[4] Kata "gulab" berasal dari kata Bahasa Persiagul ("bunga") dan āb ("air"), mengacu pada sirop beraroma air mawar; serta "Jamun" atau "jaman" adalah kata Bahasa Hindi untuk jamblang, buah dengan ukuran dan bentuk serupa yang biasa dikenal dengan sebutan "prem hitam".[5] Jamun juga diartikan sebagai kelezatan yang digoreng dengan sirop gula.[6]
Pembuatan
Di anak benua India, susu dan padatan keju dibuat dengan memanaskan susu di atas api kecil hingga kandungan airnya menguap sehingga hanya tersisa padatan susu yang disebut khoya. Padatannya diremas dengan tepung maida, dan bola-bola kecil dari adonan ini digoreng dalam minyak atau minyak samin dengan suhu rendah,[7] kemudian direndam dalam sirop gula ringan yang diberi rasa kapulaga hijau dan air mawar, kewra, atau safron.[8] Gulab jamun panas sering disajikan dengan es krim vanilla atau kulfi.
Dalam acara-acara khusus
Gulab jamun sering dihidangkan pada festival, ulang tahun, atau hari raya keagamaan seperti pernikahan, dua hari raya umat Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), serta hari raya Hindu Diwali dan Ganesh Chaturthi. Terdapat banyak jenis gulab jamun.
Variasi
India
Sebuah variasi gulab jamun yang disebut kala jamunGulab jamun ala Maharashtria
Gulab jamun berwarna merah kecokelatan karena kandungan gula dalam susu bubuk (khoya). Pada jenis gulab jamun lainnya, gula ditambahkan ke dalam adonan, dan setelah digoreng, karamelisasi gula menghasilkan warna gelap, hampir hitam, yang kemudian disebut kala jamun atau "jamun hitam". Sirop gula dapat diganti dengan sirup maple yang (sedikit) diencerkan untuk gulab jamun.
Gulab jamun buatan sendiri biasanya terbuat dari khoya, sedikit tepung terigu serbaguna/tepung gandum halus/tepung gandum (opsional), bubuk pengembang, dan mentega murni (minyak samin); susu diremas untuk membentuk adonan, dibentuk menjadi bola-bola, digoreng, dan dicelupkan ke dalam sirop gula yang mendidih.
Dalam bahasa Benggala, Gulab Jamun dikenal sebagai Kalo Jam atau Pantua, yang mirip dengan gulab jamun biasa, dan dapat disebut sebagai varian Benggala dari hidangan tersebut.[9] Ledikeni, variasi dari Pantua, adalah varian lain dari gulab jamun.[10]
Katangi, sebuah kota dekat Jabalpur terkenal dengan Jhurre Ka Rasgulla, yang telah dibuat di sana selama 100 tahun terakhir.[11][12] Ukurannya beberapa kali lebih besar dari gulab jamun biasa dan disiapkan dengan desi ghee lokal.[13]
Di Rajasthan, alih-alih merendam bola gulab jamun dalam sirop gula, bola-bola tersebut dimasak dalam kuah yang terbuat dari rempah-rempah, kacang-kacangan, dan tomat untuk membuat Gulab Jamun ki Sabzi yang populer.
Di Madhya Pradesh Barat dan Malwa, Mawa Bati populer sebagai versi lokal Gulab Jamun. Berbeda dengan Gulab Jamun dari segi ukuran, isi, dan jumlah kemanisan, Mawa Bati biasanya tidak direndam dalam sirop gula dan sedikit lebih besar dari Gulab Jamun.[14]
Bangladesh
Hidangan Benggala serupa gulab jamun, terbuat dari tepung kacang arab, yang disebut Pantua.
Di Bangladesh, Pantua tersedia hampir di mana-mana di seluruh negeri, yang dapat disebut sebagai variasi Gulab Jamun dalam bahasa Benggala. Selain itu, ada dua jenis jamun yang terkenal yakni Golap Jam (গোলাপ জাম) dan Kalo Jam (কালো জাম).
Nepal
Makanan manis ini dikenal sebagai Lal Mohan (लालमोहन) dalam bahasa Nepal dan tersedia di hampir setiap toko makanan. Penjualan makanan ini biasanya meningkat secara signifikan selama festival seperti Tihar, Dashain, dll.[15]
Galeri
Gulab jamun yang dihidangkan di gelas
Gulab jamun sering kali dilengkapi dengan sirop chashni
↑Michael Krondl (2011). Sweet Invention: A History of Dessert. Chicago Review Press. hlm.7-8. ISBN978-1-55652-954-2. In another recipe he gives directions for a syrup-soaked fritter many modern Indians would recognize. To make it, the cook is told to curdle warm milk by adding buttermilk, then strain it to remove the liquid. (Nowadays this fresh cheese would be called chhana.) The resulting curds are then mixed with a little rice flour, formed into balls, and fried in ghee. Finally, they are soaked in syrup.
↑Michael Krondl (1 June 2014). The Donut: History, Recipes, and Lore from Boston to Berlin. Chicago Review Press. hlm.7–8. ISBN978-1-61374-673-8. To make it, you form balls out of a dough of fresh cheese curds mixed with rice flour, fry these in ghee, and then soak them in cardamom-scented syrup. I imagine the king feeding the morsels—tender, buttery, and dripping with the perfumed syrup—to his favorite as she lies resplendent on a silk-lined bed. Most of these fritters still exist and in more than one variation.
↑Michael Krondl (2011). Sweet Invention: A History of Dessert. Chicago Review Press. hlm.38. ISBN978-1-55652-954-2. A fitters of very similar appearance is made in the Middle East under the name Luqmat Al Qadi. It is conceivable that they both developed from an earlier Persian antecedent. Gulab comes from the Persian word for rosewater, while Jamun refers to a local fruit of roughly this size. The two batters are made entirely differently, though, so the only Persian connection may be the common use of rosewater syrup.
↑Michael Krondl (2011). Sweet Invention: A History of Dessert. Chicago Review Press. hlm.38. ISBN978-1-55652-954-2. The two batters are made entirely differently, though, so the only Persian connection may be the common use of rosewater syrup...Gulab comes from the Persian word for rosewater, while jamun refers to a local fruit of roughly this size."
↑[Banerjee, A; Dasgupta, N; De, B (2005). "In vitro study of antioxidant activity of Syzygium cumini fruit". Food Chemistry. 90 (4): 727. doi:10.1016/j.foodchem.2004.04.033]