Grubi dikenal dengan sebutan yang berbeda di beberapa wilayah, seperti walangan atau carang mas. Meskipun namanya tidak sama, kudapan ini tetap menawarkan cita rasa yang konsisten, yaitu kombinasi manis legit dan gurih. Keunikan rasa grubi berasal dari perpaduan gurihnya ubi yang menjadi bahan utama, dengan manisnya karamel gula jawa asli yang melapisi bola-bola makanan ini.[4]
Desa Menoreh di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, merupakan daerah asal kepopuleran Grubi dan bahkan diberi julukan kampung grubi. Produksi makanan ini sudah dimulai di Menoreh sejak tahun 1980-an, dan kini menjadi tumpuan ekonomi utama bagi warga lokal.[5]
Pembuatan
Grubi atau Carang Mas
Ubi dikupas tipis tipis dan direndam dalam air garam agar ubi tidak berwarna hitam, sekaligus menambah cita rasa sedikit asin. Ubi tersebut kemudian digoreng dalam minyak panas hingga kering dan berwarna coklat keemasan. Ubi yang telah digoreng kemudian dibaluri cairan gula merah yang telah dipanaskan menggunakan wajan. Gula merah yang dipanaskan harus larut dan tidak menggumpal. Gula merah tersebut kemudian dicampur dengan gula pasir secukupnya hingga campuran tersebut mendidih dan membentuk banyak gelembung udara (sering disebut dengan mata ulo). Ubi yang telah dicampur dengan gula merah dicetak dengan cetakan bulat dan didinginkan. Grubi yang telah dingin dikemas dalam wadah yang kedap udara.[6]
↑"Grubi". kbbi.kemdikbud.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 1 Februari 2024.
↑Ricklefs, M. C.,. " "Centhini, Serat", in: Encyclopaedia of Islam". referenceworks.brillonline.com. Encyclopedia of Islam. Diakses tanggal 29 Januari 2024.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)