Gletser batu adalah bentang alam geomorfologi yang terdiri atas puing-puing batu bersudut yang membeku di antara rongga es, sisa gletser sejati yang tertutup lapisan terbis, atau kombinasi keduanya. Bentuk lahan ini umum ditemukan pada wilayah dataran tinggi dan dapat memanjang ke luar serta menurun dari kerucut terbis, gletser, atau morena terminal. Dalam literatur awal, seperti Characteristics of Existing Glaciers[1], istilah yang digunakan untuk menyebut fitur ini bervariasi, antara lain sungai batu (stone rivers), aliran batu (rock flows), arus batu (rock streams), dan gletser batu (rock glaciers). Buku tersebut memuat peta dan foto arus batu dari daerah Silverton, Colorado, hasil survei Ernest Howe dan W. Cross dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Pada periode yang sama, Stephen Capps melaporkan bentang alam serupa di Pegunungan Wrangell, Alaska. Walaupun berbagai istilah digunakan pada masa itu, istilah gletser batu (rock glaciers) kemudian menjadi sebutan yang diterima secara luas dalam ilmu geomorfologi.[2]
Jenis dan Sebaran
Terdapat dua model utama pembentukan dan pergerakan gletser batu, yaitu gletser batu permafrost (dikenal juga sebagai gletser batu yang berasal dari talus) dan gletser batu glasial. Gletser batu glasial, seperti Gletser Timpanogos di Utah, terbentuk di wilayah bekas gletser yang telah mengalami kemunduran. Contoh lain dapat ditemukan di Gunung St. Helens,[3] di mana puing batuan menutupi gletser kecil sehingga membentuk gletser batu baru. Citra dari wahana antariksa Mars Reconnaissance Orbiter menunjukkan kemungkinan adanya fitur serupa gletser batu di permukaan Mars. Dalam beberapa kasus, longsoran batu dapat menyerupai gletser batu atau berkembang menjadi bentuk tersebut.[4]
Pembentukan
Faktor utama dalam pembentukan gletser batu adalah kecepatan aliran es yang rendah dan keberadaan ibun abadi. Sebagian besar gletser batu glasial terbentuk akibat kemunduran gletser yang tertutup oleh lapisan puing batuan.[5] Proses ini sering terjadi di cekungan lembah cerek, tempat material batuan dari tebing curam runtuh dan menumpuk di atas gletser es.[6] Seiring dengan penyusutan gletser, lapisan puing di permukaannya semakin tebal hingga menutupi seluruh es, meskipun inti es di bawahnya masih bergerak perlahan.[7]
Selain gletser batu yang berinti es, sebagian besar gletser batu merupakan hasil proses periglacial atau ibun abadi, yaitu proses nonglasial yang berhubungan dengan iklim dingin dan tanah beku. Gletser batu permafrost terbentuk melalui pembekuan terus-menerus di dalam massa talus tanpa melibatkan es glasial. Proses ini dapat dipengaruhi oleh pergantian antara aliran puing batuan dan endapan salju longsoran atau firn musim gugur.[8][9]
Kondisi Geologi
Kehadiran tebing curam di sekitar lokasi sering menjadi faktor penting dalam pembentukan gletser batu, karena memungkinkan akumulasi material batuan melalui erosi dan runtuhan. Banyak gletser batu terbentuk di lembah yang terbentuk akibat erosi glasial sebelumnya. Komposisi batuan penyusun gletser batu bergantung pada geologi setempat, dan dapat terdiri atas andesit, basal, granit, porfiri, kuarsit, atau batu pasir. Dalam beberapa kasus, gletser biasa dapat melintas di atas gletser batu dan menyerap sebagian materialnya. Di Eropa, banyak gletser batu yang terbentuk setelah berakhirnya zaman es kecil, ketika gletser yang menurun tertutup oleh lapisan puing batuan hasil pelapukan.[9][10]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.