Gereja Santo Matias Rasul berawal dari rencana pemekaran Gereja Santo Thomas Rasul, Bojong Indah ke arah barat. Hal ini didasari oleh penelitian geografis yang digagas oleh dilakukan oleh Uskup Agung Leo Soekoto, S.J. yang memimpin Keuskupan Agung Jakarta. Pada saat itu muncul potensi perkembangan jumlah umat yang besar akibat pertumbuhan penduduk di Jakarta Barat, terutama di wilayah-wilayah perumahan baru seperti Interkota Indah, Cantiga, Kresek, Kosambi Baru, dan Semanan Indah. Tugas tersebut diampu oleh R.D. Lodewijk Bambang Santosa Wiryowardoyo.[2]
Pada 9 September 1990, dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja (PPG) dengan Jopie Sarwono sebagai ketua umum. Panitia ini memulai upaya pencarian lokasi tanah untuk gereja, termasuk tanah seluas 4.500 m² di Perumahan Kosambi Baru, yang dimiliki oleh PT Metropolitan Development. Proses ini dilaporkan ke Keuskupan Agung Jakarta dan melibatkan beberapa kali pertemuan serta kunjungan lokasi oleh Vikaris Jenderal KAJ R.P. Martinus Soenarwidjaja, S.J. Namun demikian, pencarian lokasi gereja pada saat itu belum membuahkan hasil. Pada tahun 1995, Jopie Sarwono mengundurkan diri dari kepanitiaan atas alasan kesehatan, sehingga aktivitas PPG sempat terhenti. Upaya awal ini telah memberikan gagasan penting tentang kebutuhan pemekaran paroki untuk mendukung pertumbuhan jumlah umat yang pesat di wilayah tersebut.[3]
Pembangunan gereja
Kegiatan pembangunan dilanjutkan kembali pada masa R.D. Thomas Aquino Murdjanto Rochadi Widagdo, yang menjadi Pastor Kepala Paroki Bojong Indah. Panitia pembangunan gereja dibentuk ulang, kali ini dipimpin oleh Benny Tany. Pada masa R.D. Martinus Hadiwijoyo, yang menggantikan Pastor Rochadi, surat edaran diterbitkan pada 20 Agustus 2000 untuk melengkapi keanggotaan panitia. Panitia kembali mencari lahan dan menemukan tanah seluas 13.500 m² di Blok A Ext. 1, Perumahan Kosambi Baru. Izin pengadaan tanah diterbitkan oleh Keuskupan Agung Jakarta pada 6 Desember 2000, yang menjadi awal dimulainya penggalangan dana yang dimulai pada Januari 2001 dengan melibatkan umat.
Arsitek Lily Sulistiawati Kastono (Lily Kartomo)[4] dari tim teknis Panitia Pembangunan Gereja (PPG) mulai merancang desain gereja dengan konsep arsitektur Tiongkok-Bali. Pada 16 Februari 2002, Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP) Santo Matias Rasul resmi didirikan melalui pengesahan oleh Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J., sesuai akta tertanggal 10 Maret 2001. Proses administrasi berlangsung intensif sepanjang tahun 2001, termasuk proses pengajuan izin ke Wali kota Jakarta Barat, persetujuan dari Keuskupan Agung Jakarta, dan pengikatan jual beli tanah dengan PT Metropolitan Development. Misa perdana dilaksanakan pada 2 Juni 2001 di Sekolah Santo Leo II, Kosambi Baru, yang dihadiri oleh sekitar 700 umat. Pada 3 Januari 2002, Gubernur DKI Jakarta menerbitkan surat persetujuan prinsip penyesuaian peruntukan lahan untuk sarana sosial ibadah. Pada 22 Desember 2002, misa mulai dilakukan di bangunan sementara (bedeng), meskipun kapasitasnya hanya untuk 700 orang, sementara jumlah umat yang hadir mencapai 1.000 orang.
Pembangunan gereja berlangsung selama lebih dari dua tahun. Pekerjaan ini rampung dan kemudian diresmikan serta diberkati pada 8 Agustus 2008 oleh Uskup Agung Jakarta, Julius Kardinal Darmaatmadja.[7][8]
Pada 9 November 2014, Gereja Santo Matias Rasul menyelenggarakan Misa bersama Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminaris (GOTAUS) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yang dihadiri sejumlah uskup dari berbagai daerah di Indonesia.[9]
Bangunan
Gereja Santo Matias Rasul dibangun di atas lahan seluas 13.000 meter persegi.[10] Bangunan gereja berbentuk seperti elips (silinder).[11] Gereja ini bergaya modernis, dengan ditopang 12 pilar lengkung dan 8 tiang utama, serta 3 buah pintu utama. Adapun gereja ini menghadap ke arah timur.[4] Gedung utama gereja terdiri atas dua lantai, yakni lantai dasar dan juga balkon. Kapasitas gereja mampu mencapai 1.800 orang. Di belakang altar, terdapat patung Yesus yang tersalib yang ditopang oleh tiga utas kabel baja yang terkait diatas loteng gereja. Patung ini merupakan karya seni dari Agus Suwage. Patung ini bersifat omni-direksional (diapositif).[4]
Gereja ini menggunakan pencahayaan alami dari sinar matahari dan juga pencahayaan buatan. Konsep pencahayaan buatan yang digunakan dalam gedung gereja ini adalah "Light Comes from Above" dan dikerjakan oleh firma desain pencahayaan buatan, Lumina Group. Hal ini membuat konsep pencahayaan yang berbeda pada pagi/siang hari dan juga petang/malam hari.[12]
Di pelataran Gereja Santo Matias Rasul terdapat sebuah patung Santo Matias Rasul. Patung ini diresmikan pada 22 Oktober 2011 oleh Pastor Paroki, R.D. Aloysius Susilo Wijoyo. Pada patung ini, digambarkan Santo Matias memegang buku dengan tulisan Vos amici mei estis yang berasal dari Injil Yohanes bab 15 ayat 14, yang berarti Kamu adalah sahabat-Ku.[13]
Gereja Santo Matias Rasul juga memiliki Gedung Serba Guna Maria Ratu Rosari. GSG ini mulai dibangun pada 31 Oktober 2010 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh R.D. Aloysius Susilo Wijoyo dan R.D. Antonius Didit Soepartono. Gedung ini selesai dibangun dan diberkati pada 22 Oktober 2011 oleh Uskup Agung Ignatius Suharyo. Wali kota Jakarta Barat, Burhanuddin, turut hadir dan meresmikan kompleks gedung gereja tersebut.
Gereja ini juga memiliki Taman Jalan Salib Santo Matias Rasul yang merupakan hal pertama di wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Taman jalan salib ini diberkati pada 9 November 2014 pada saat para uskup di Indonesia merayakan Ekaristi di Gereja Santo Matias Rasul dalam rangka mendukung Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminari (GOTAUS) dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).[9]
Gua Maria yang awal, diberkati pada tanggal 8 November 2008 oleh Pastor Jacobus Tarigan yang merupakan Pastor Kepala Paroki. Gua Maria yang baru diberkati pada tanggal 11 Desember 2022 oleh Uskup Agung JakartaIgnatius Kardinal Suharyo, bersamaan dengan sakrarium dan juga ruang adorasi. Ruang adorasi di gereja ini terletak di belakang Gua Maria.
Peribadatan
Gereja ini menyelenggarakan misa harian dan misa mingguan. Misa mingguan berlangsung satu kali pada hari Sabtu sore. Pada hari Minggu berlangsung tiga kali misa. Misa harian dilaksanakan pada pagi hari pukul 06.00 (Selasa, Kamis, Sabtu) atau 19.00 WIB (Senin, Rabu, Jumat). Liturgi diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.
Umat
Umat Paroki Kosambi Baru terdiri dari aneka suku, kelas sosial-ekonomi, dan budaya yang tersebar dalam 17 wilayah dan 70 lingkungan. Meski mayoritas umat terdiri dari suku Tionghoa dan berasal dari Bangka, suku Jawa, Batak, Flores, dan Manado pun turut melengkapi kemajemukan etnis umat.[14] Terdapat sekitar 6.000 umat paroki pada tahun 2008.[15]
Imam
R.D. Jacobus Tarigan, pastor kepala paroki pertama Gereja Santo Matias Rasul.
↑User, Super. "Stefan Wylężek". Mabpz.org (dalam bahasa Polski). Diakses tanggal 5 November 2023.
↑Bahagia, diam di Rumah-Mu: Buku Kenangan Pembangunan Gereja Santo Matias Rasul. Jakarta: Tim PPG Paroki Kosambi Baru. 2008. hlm.14–30. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Untaian Syukur Gereja Santo Matias Rasul. Jakarta: Tim Panitia Lustrum ke-2 Paroki Kosambi Baru. 2015. hlm.8–50.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Trisno, Rudy; Antariksa; Salura, Purnama (2015). "The Harmony between the Sacred Function and the Expression Form in Santo Matias Rasul Church". Journal of Applied Environmental and Biological Science 5 (11): 100-104. ISSN2090-4274.
↑Wijoyo, RD. Aloysius Susilo; Hermawan, Edward; Mulia, Felix Ferdinand; Prabowo, Johanes (2017). Eddy Kristiyanto OFM, Rm. Antonius; Nugroho, Wisnu (ed.). KAJ 210: Perjalnan Gereja Katolik (di) Jakarta. Vol.Dekenat Jakarta Barat II. Jakarta: Keuskupan Agung Jakarta. hlm.239. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)