Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Malang.[3] Selain itu, keberadaan gereja ini berdampingan dengan Kelenteng Pao Sian Lin Kong disebelah timur dan Masjid Baitul Arham disebelah selatan (sebrang).[4] Gereja ini menaungi TK dan SD Katolik Sang Timur yang berada di timur gereja; juga SMP Santo Yusuf di Desa Kolor yang berada di Jalan Trunojoyo No. 212 bersamaan dengan Biara dan KapelSanto Yusuf.[5]
Sejarah
Masa Hindia Belanda
Sebelum berdirinya Gereja permanen di Sumenep, jemaat Katolik setempat mengadakan ibadah di beberapa lokasi, termasuk di kediaman Asisten Residen di Pabian. Pada awal 1930-an, dengan bantuan pengusaha Belanda, Dirk Van Duyne, dibangun sebuah gereja permanen di desa Marengan, yang saat itu merupakan pusat bisnis di Sumenep. Gereja ini menjadi gereja Katolik pertama di Pulau Madura dan diberkati pada tahun 1937 setelah mendapat restu dari Vikaris Apostolik Malang. Romo Richard Visser OCram ditunjuk sebagai Romo kepala paroki St. Maria Gunung Karmel yang pertama. Romo Richard, bersama lima orang suster, juga merintis pendirian Sekolah Katolik di Pabian untuk memberikan pelayanan kepada jemaat.
Masa Penjajahan Jepang
Saat kedatangan Jepang di Pulau Madura, sekolah dan gereja katolik ini terpaksa tutup memberikan pelayanan pada tahun 1942. Hal ini membuat aset gereja katolik menjadi terbengkalai dan tidak terurus.
Masa Kemerdakaan
Aktivitas gereja katolik kembali pulih pada tahun 1949, dengan gereja darurat dibangun tak jauh dari sekolah yang dirintis oleh para suster sebelumnya. Untuk sekolah Katolik (TK dan SD Katolik Sang Timur) mulai aktif kembali pada tahun 1950 hingga kini.[6]
Karya Pelayanan
Komunitas Suster: Suster Sang Timur (Congregatio Pauperis Infantis Jesu/PIJ)
Karya Kesehatan: Klinik Sang Timur
Sekolah Katolik: TK Katolik Sang Timur, SD Katolik Sang Timur, SMP Katolik Santo Yusuf.
Kelompok Kategorial: Legio Maria, WKRI, Kelompok Doa Kerahiman Ilahi