Pendirian Sanatorium Pakem berkaitan dengan meningkatnya kasus tuberkulosis di Hindia Belanda pada awal abad ke-20, ketika obat dan vaksin untuk penyakit tersebut belum ditemukan. Pada masa itu, sanatorium dibangun sebagai sarana karantina untuk penderita tuberkulosis guna mencegah penularan dan mempercepat proses pemulihan. Gagasan pembangunan sanatorium di Indonesia muncul sekitar tahun 1900-an, seiring dengan pandangan medis Eropa bahwa tuberkulosis jarang terjadi di wilayah tropis tetapi memerlukan perhatian khusus di daerah yang padat penduduk.
Kompleks Sanatorium Pakem direncanakan untuk mengatasi keterbatasan kapasitas rumah sakit zending di berbagai kota seperti Surakarta, Klaten, dan Yogyakarta. Lokasi di Pakem, sekitar 19 kilometer di utara Kota Yogyakarta, dipilih karena berada di daerah yang relatif sejuk, tenang, dan jauh dari keramaian kota.
Pembangunan
Pembangunan Sanatorium Pakem dimulai pada Oktober 1935 dan dirancang oleh Kantoor voor Architectuur Sindoetomo. Fasilitas ini mencakup instalasi listrik dan sistem perpipaan air. Sanatorium diresmikan pada 23 Juni 1936 oleh Sultan Hamengkubuwono VIII, dengan dihadiri oleh Residen Yogyakarta, J. Bijleveld, dan Direktur Petronella Hospitaal, Dr. K.P. Groot.
Fasad GKJ Pakem
Pembangunan kompleks dilakukan secara bertahap karena pengaruh krisis ekonomi dunia pada dekade 1930-an. Bangunan gereja merupakan bagian terakhir yang dibangun, dengan peletakan batu pertama dilaksanakan pada 11 April 1940 oleh Maria Martha Groot, putri Dr. K.P. Groot.
Arsitektur
Gereja Kristen Jawa Pakem merupakan bangunan satu lantai dengan denah berbentuk persegi dan orientasi menghadap ke barat. Arsitekturnya menampilkan gaya tropis modern, dengan atap gambrel (perpaduan antara atap limas dan pelana) yang ditutupi genteng, dinding dari batu bata, serta sudut bawah bangunan yang dilapisi batu kali. Pintu menggunakan jenis pintu papan, sementara jendela berupa panel kaca berbingkai kayu. Lantai gereja menggunakan tegel semen (Portland Cement), dan plafon dibuat dari anyaman bambu.
Di atas pintu masuk terdapat inskripsi dari Injil Petrus 2:21 bertuliskan:
"Kristoes Woes Nandang Sangsara Karana Kowe. Christus Heeft Voor U Geleden."
Di sisi kanan pintu masuk terdapat prasasti yang berbunyi:
"Dit Eerste Steen Van Dit Gebouw Is Gelegd Op 11 April 1940 Door Maria Martha Groot Oud 5 Jaar," yang menandai peletakan batu pertama gereja tersebut.
Ruang utama gereja berbentuk memanjang ke arah timur–barat, digunakan untuk kegiatan kebaktian dengan arah pandang jemaat ke timur. Di bagian belakang mimbar terdapat ruang pertemuan yang berfungsi untuk penatua dan persiapan pendeta. Beberapa elemen interior asli, seperti mimbar dan kursi kayu, masih dipertahankan hingga saat ini.
Inskripsi ambang pintu gereja
Prasasati pembangunan gereja
Bagian samping gereja
Kompleks Panti Asih Pakem
Kompleks Panti Asih Pakem.
Kompleks Panti Asih Pakem yang kini menaungi gereja ini terdiri atas beberapa bangunan peninggalan sanatorium, antara lain bangunan administrasi, paviliun A, B, dan C, ruang isolasi, bekas rumah dinas dokter, binatu dan dapur, serta gereja. Awalnya seluruh kompleks berfungsi sebagai fasilitas kesehatan khusus untuk penderita penyakit paru-paru, sebelum kemudian beralih fungsi seiring dengan perubahan kebutuhan institusional dan sosial di wilayah tersebut.