Bangunan cagar budaya
Kompleks RSJ Grhasia terdiri atas beberapa bangunan yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai rumah sakit. Berdasarkan data yang ada pada Rumah Sakit Jiwa Grhasia terdapat 63 buah bangunan, yang terdiri atas bangunan baru dan bangunan lama. Bangunan lama yang masih ada yaitu: Tower air lama, bangunan pendhapa keasistenan, bangsal nakula, bangsal sadewa, bangunan untuk genset lama, doorlop di selatan kantor jaminan kesehatan dan pelayanan TB, dan doorlop di timur instalasi pemulasaraan jenazah. Semua bangunan lama tersebut berusia 50 tahun atau lebih, dan mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun. Hal tersebut ditandai dengan ciri arsitektur Indis, yaitu perpaduan antara kebudayaan Indonesia dan Eropa, serta merupakan kelanjutan kebudayaan Indonesia dari masa prasejarah, kebudayaan Indonesia Hindu, dan kebudayaan Indonesia Islam (Djoko Soekiman, 2000, hlm.306). Ciri Indis tersebut dapat dilihat dari atap tiang dan dinding, lantai bangunan, komponen bangunan lain seperti pintu dan jendela.
Rumah Sakit Jiwa Grhasia Mengembangkan infrastruktur dengan beberapa bangunan dengan ciri dinding berpilaster (tanpa kolom perkuatan), jendela dan pintu memakai krepyak, dinding mempunyai hiasan berupa tempelan batu pada dinding tembok, serta atap seperti bengunan Jawa tipe limasan dan kampung srontongan, disebut kampungsrontongan karena memiliki lebih dari 4 pengeret maka disebut srontongan dan merupakan kampung panjang. Kampung srontongan mempunyai 2 emper pada kedua sisi panjangnya. Ciri tersebut menjadi penanda anatara bangunan lama dan baru.[1][2]