George naik takhta Britania Raya berdasarkan Undang-Undang Pewarisan 1701 yang membatasi suksesi takhta Inggris kepada penganut Protestan. Hal ini bertujuan mencegah pewarisan oleh penganut Katolik Roma. Ibunya, Sophia dari Hanover, cucu James I dari Inggris, adalah kerabat Protestan tedekat Ratu Anne, sehingga George berhak atas takhta. Meskipun ia adalah penerus sah terdekat yang memenuhi syarat, George naik takhta dengan dukungan yang lemah, terutama di Skotlandia dan Irlandia, di mana Wangsa Stuart masih memiliki basis pendukung yang kuat dan berupaya mengambil alih takhta Britania Raya sepanjang masa pemerintahan George I hingga penerusnya.
George I meninggal pada 1727 dan digantikan oleh putranya, George II. Tiga raja Britania Raya berikutnya mengambil nama regnal George, sehingga periode ini dikenal pula sebagai Era Georgian, yang ditandai dengan meningkatnya kekuatan ekonomi, politik, dan budaya Britania Raya, imperialisme Britania, hingga Revolusi Industri.[2]
Pada usia muda, ia terlibat dalam politik Jerman dan memainkan peran dalam konflik-konflik regional, termasuk Perang Suksesi Spanyol. Ia juga aktif di medan perang dalam beberapa konflik di daratan Eropa.[2]
Pernikahan dan keluarga
Pada tahun 1682, George menikahi sepupunya, Sophia Dorothea dari Celle, untuk memperkuat aliansi antara dua cabang Wangsa Brunswick-Lüneburg. Mereka memiliki dua anak:
Namun, pernikahan mereka memburuk akibat perselingkuhan. George berselingkuh dengan Melusine von der Schulenburg; sementara Sophia Dorothea dengan bangsawan Swedia, Philip Christoph von Königsmarck. Skandal ini berujung pada perceraian dan pengurungan Sophia Dorothea di Kastil Ahlden sejak 1694 hingga akhir hayatnya.
Naik Takhta Britania Raya
Setelah kematian Ratu Anne pada 1714 tanpa keturunan, George menjadi pewaris berdasarkan Undang-Undang Pewarisan 1701. Meskipun ada lebih dari 50 kerabat Stuart yang memiliki klaim lebih dekat, mereka didiskualifikasi karena menganut Katolik Roma. James Francis Edward Stuart, saudara tiri Anne dan putra tertua James II, berupaya mengklaim takhta Britania Raya untuk dirinya dan Wangsa Stuart melalui serangkaian pemberontakan Jacobitisme sejak 1715 hingga 1746. Namun, rangkaian pemberontakan itu berhasil dipadamkan sehingga Wangsa Stuart gagal kembali ke takhta.
George diproklamirkan sebagai raja sesaat setelah kematian Anne pada 1 Agustus 1714. Namun, ia baru tiba di London dari Den Haag pada 18 September karena cuaca yang kurang bagus. Penobatannya pada 20 Oktober 1714 di Westminster Abbey menandai dimulainya era baru dalam sejarah monarki Britania. Kedatangannya di Inggris disambut dengan skeptisisme oleh rakyat yang menganggapnya sebagai orang asing karena ia berbicara bahasa Inggris dengan buruk dan lebih menyukai bahasa Jerman.
Pemerintahan
Awal pemerintahan
George I memulai pemerintahannya dalam suasana politik yang penuh ketegangan. Partai Whig mendukungnya, sedangkan Partai Konservatif menunjukkan simpati kepada Wangsa Stuart. Ini memuncak dalam Pemberontakan Jacobite 1715, yang berusaha mengembalikan James Francis Edward Stuart ("Pretender Tua") ke takhta. Pemberontakan ini gagal, tetapi ketegangan politik terus berlangsung sepanjang pemerintahannya.
Peran sebagai raja konstitusional
Sebagai raja yang lebih banyak mengurus Hanover dibandingkan Britania Raya, George menyerahkan sebagian besar kekuasaan eksekutif kepada para menteri, terutama Robert Walpole. Sir Robert Walpole secara de facto menjadi perdana menteri pertama Britania Raya dalam sistem parlementer. Hal ini mengokohkan tradisi pemerintahan parlementer di Britania Raya, di mana kekuasaan raja dibatasi pada urusan seremonial dan sebagai simbol negara. Meski demikian, George juga masih melibatkan diri dalam pemerintahan, terutama berkaitan dengan kebijakan luar negeri Britania Raya.
Hubungan luar negeri
Kebijakan luar negeri George berfokus pada keamanan Hanover di Eropa. Ia mendukung aliansi dengan Austria dan Prusia serta terlibat dalam berbagai konflik Eropa untuk melindungi kepentingannya di Jerman.
Kematian
George I meninggal mendadak akibat stroke dalam perjalanan ke Hanover pada 11 Juni 1727. Ia dimakamkan di kapel keluarga di Istana Leineschloss, Hanover. Makamnya kemudian dipindahkan ke kompleks makam Ernest Augustus di Herrenhausen, Hanover. Ia adalah raja Britania Raya terakhir yang dimakamkam di luar negeri. Putranya, George II, menggantikannya sebagai raja.
Referensi
12Sepanjang masa kehidupan George I, Britania Raya menggunakan penanggalan Kalender Julian. Hanover mulai menggunakan Kalender Gregorian pada 1 Maret 1700 (penanggalan baru)/18 Februari 1700 (penanggalan lama). Penanggalan lama (Old Style, O.S.) digunakan untuk tanggal-tanggal dalam artikel ini kecuali bila disebutkan lain; akan tetapi tahun-tahun diasumsikan dimulai tanggal 1 Januari dan bukan 25 Maret, yang merupakan Tahun Baru Inggris.