Contoh genderang yang pernah digunakan dalam sejarah kuno misalnya junjung dari suku Serer di Afrika Barat. Regweda menggambarkan genderang perang sebagai simbol kepalan tangan Indra.[1]
Di Eropa pada Abad Pertengahan Awal, Kekaisaran Romawi Timur menggunakan genderang untuk mengiringi baris-berbaris,[2] serta sebagai senjata psikologis di medan perang sejak Akhir Abad Kuno.[3] Namun, di Eropa Barat, genderang jarang terlihat hingga masa Perang Salib[4] (hal.19)[5] Prajurit Eropa Barat kemungkinan melihat genderang yang digunakan oleh prajurit Bizantium dan Islam, yang terakhir terutama menggunakan semacam timpani dan pada masa pertempuran, pasukan tersebut merasa bunyi genderang yang dihasilkan memengaruhi kuda-kuda Prajurit Salib, yang belum pernah bertemu dengan mereka. Pada awal abad ke-13, Prajurit Salib mulai mengadopsi genderang dan membawa kembali praktik tersebut ke Barat.
Snare drum mulai digunakan di Eropa abad ke-13 untuk membangkitkan semangat jiwa korsa prajurit-prajuritnya, dan melemahkan moral musuh.[6]
Penggunaan untuk aba-aba militer
Genderang militer digunakan untuk memberi aba-aba dimulainya jam malam bagi para prajurit. Selain itu juga dapat digunakan sebagai tanda berkumpul.[7]
Korps tambur suling kuno serta korps genderang modern telah dibentuk oleh lembaga militer pada awal zaman modern untuk memberi aba-aba tertentu dan juga upacara. Kadang-kadang, alat musik ini dimainkan dalam konflik seperti Perang Saudara Amerika.
Penggunaan dalam peperangan modern awal
Sejak awal abad ke-16 dan seterusnya, genderang atau tambur menjadi alat musik untuk menyampaikan aba-aba di medan perang Eropa. Infanteri dan dragonder (infanteri berkuda) menggunakan snare drum dan timpani untuk tujuan tersebut dalam peperangan modern awal. Aba-aba yang diberikan oleh beberapa atau satu penabuh genderang misalnya "hormat gerak", "bersaf/berbanjar kumpul mulai", "bubar jalan", "siap gerak", " maju jalan", dll.[8]
Penggunaan terakhir dalam pertempuran
Pada saat pecahnya Perang Dunia I pada bulan Agustus 1914, genderang masih digunakan dalam dinas aktif oleh beberapa angkatan bersenjata Eropa yang lebih konservatif. Termasuk Angkatan Darat Austro-Hungaria, yang infanterinya membawa genderang aluminium yang dicat abu-abu selama minggu-minggu awal pertempuran. Ketidaksesuaian alat musik tersebut untuk peperangan modern dengan cepat disadari, dan pada bulan September 1914, genderang ditarik, dengan para penabuh genderang dipindahkan ke tugas lain. [9]
Musik sipil
Pada akhirnya, snare drum dan timpani diadopsi ke dalam musik untuk masyarakat sipil, termasuk musik klasik dan populer.
Metafora
Pada zaman modern, istilah menabuh genderang perang digunakan sebagai metafora yang dapat dimaknai sebagai "bersiap untuk perang".[10][11][12]