Gangguan stres pascatrauma kompleks atau dalam Bahasa Inggrisnya complex post-traumatic stress disorder (disingkat CPTSD) adalah gangguan mental yang terjadi sebagai respons atas trauma-trauma yang kompleks, biasanya terus-menerus dan berlanjut kepada berbagai kejadian yang traumatis, yang dirasakan oleh penyandangnya mustahil untuk dilewati.
Dalam klasifikasi ICD-11, CPTSD dikategorikan sebagai PTSD yang memiliki tiga kluster simptom tambahan, disregulasi emosi, kepercayaan atas diri yang negatif (seperti rasa malu, bersalah, atau gagal atas alasan-alasan yang tidak tepat), dan kesulitan berhubungan interpersonal, merasa sulit mendapat pertolongan, distorsi identitas atau pengenalan diri, dan kewaspadaan yang berlebihan. Gejala CPTSD mirip dengan gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiasi identitas, dan gangguan somatisasi.
Gejala
Gejala CPTSD mirip dengan PTSD, dengan tambahan sebagai berikut:
Kesulitan mengontrol emosi
Merasa marah dan sulit percaya kepada keseluruhan dunia
Merasa hampa dan putus asa
Merasakan kerusakan permanen di dalam diri atau tidak berguna
Merasa sangat jauh berbeda dengan orang lain
Merasa tidak ada orang yang mau mengerti
Menghindari pertemanan dan hubungan, atau merasa sulit membangun hubungan
Sering merasa gejala disosiasi, depersonalisasi, atau derealisasi
Gejala fisik seperti sakit kepala, pusing, sakit di dada, atau sakit perut
Empat penanganan yang sangat disarankan untuk CPTSD adalah Cognitive Behavioural Therapy yang berfokus kepada trauma, eye movement desensitisation and reprocessing (EMDR), dan bisa pula diiringi penanganan depresi dan kecanduan alkohol.[2]