Gambuh Pedungan merupakan seni istana atau puri, terutama puri Satria dan puri Pemecutan. Gambuh ini mendapat perlindungan dan pengayoman dari raja. Pada waktu itu, raja tertarik melestarikan semua bentuk tradisi teater daerah. Gambuh Pedungan semakin tumbuh dan berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Kondisi tersebut juga telah menciptakan penari-penari Gambuh Pedungan.[4]
Dengan semakin memudarnya kekuasaan puri, maka semakin menipis pula keterkaitan Gambuh dengan puri. Dalam situasi yang demikian, Gambuh kemudian menjadi milik banjar atau desa yang bersangkutan. Sebagai milik desa, Gambuh kemudian hanya dilaksanakan di banjar dan pamaksan. Kemudian seni budaya tersebut di atas berlangsung sampai masa kolonial. Sesudah masa kemerdekaan mulai muncul berbagai karya seni yang berkembang di masyarakat.[5]
Ciri khas
Pertunjukan Gambuh Pedungan memadukan unsur tari dan dialog berbahasa Kawi dan Bali. Selain itu, musik pengiring menggunakan gamelan gambuh. Lakon yang sering masuk ke dalam tarian ini adalah tokoh Arya, Kakan-kakan, Condong, dan sebagainya.[2]
Daftar referensi
↑Mahendra, Rizky; Suwena, I W; Suarsana, I N (2020). [file:///Users/mac/Downloads/75380-1637-222721-1-10-20210711.pdf "Eksistensi Drama Tari Gambuh di Desa Adat Pedungan, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan"] (PDF). Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Unud. 4 (2): 2528–4517. doi:10.24843/SP.2020.v4.i02.p03.
12"Gambuh Pedungan". Budaya Data Kemdikbud. 2020. Diakses tanggal 13 November 2025.