George Edward Albert Krugers (24 November 1890 – 10 Agustus 1964) adalah seorang pembuat film yang aktif di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Lahir di Banda Neira, ia pindah ke Jawa pada tahun 1920-an dan sempat tinggal di Surabaya sebelum menetap di Bandung. Di kota tersebut, ia bekerja bersama L. Heuveldorp dalam produksi Loetoeng Kasaroeng, yang dikenal sebagai film cerita panjang pertama di Hindia Belanda. Selanjutnya, Krugers memulai karir penyutradaraannya pada tahun 1927 melalui Eulis Atjih. Pada tahun berikutnya, ia mendirikan Perusahaan Film Krugers; melalui perusahaan ini, ia mengikuti perjalanan haji pada 1928 untuk membuat Het Groote Mekka-Feest (Perayaan Besar Makkah), yang dianggap sebagai film dokumenter pertama tentang ibadah haji.
Pada 1930, Krugers mulai memproduksi film suara. Filmnya, Karnadi Anemer Bangkong (Karnadi si Kontraktor Kodok), kerap disebut sebagai film suara domestik pertama di Hindia Belanda. Setelah film tersebut gagal secara komersial, Krugers mulai bekerja untuk Tan's Film, tempat ia terlibat dalam dua film. Di tengah Depresi Besar, Krugers pindah ke Hong Kong dengan harapan memperoleh pekerjaan, tetapi tidak berhasil. Ia kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Belanda dan sering mengalami kesulitan keuangan. Selain Het Groote Mekka-Feest, semua filmnya dianggap sebagai film hilang.
Biografi
Kehidupan awal dan karier
Krugers lahir di Banda Neira, sebuah pulau di Hindia Belanda yang kini menjadi bagian dari Indonesia, pada 24 November 1890.[2] Ia adalah putra Johan Krugers, seorang guru kelahiran Belanda, dan Aline Burgemeestre, yang keluarganya telah menetap di Hindia Belanda sejak abad ke-18.[3] Krugers dibesarkan di tengah komunitas Kristen yang cukup besar di pulau tersebut.[2] Tidak banyak catatan mengenai masa kecilnya. Ia memiliki minat terhadap teknologi sejak kecil, mempelajari arsitektur, serta mengenal fotografi, film, dan perekaman suara.[4] Film impor telah diperkenalkan di Hindia Belanda sejak 1896, sedangkan produksi film dokumenter di Kepulauan Indonesia mulai dilakukan sejak 1911.[5]
Krugers kemudian pindah ke Surabaya di Jawa Timur, tempat ia sempat bekerja sebagai insinyur pengairan.[2] Sekitar 1925, ia pindah ke Bandung di Jawa Barat.[2] Di sana, ia menikah dengan Elisabeth Schut, putri dari keluarga yang aktif di bidang pelayaran.[6] Di sana, Krugers juga memimpin laboratorium di N.V. Java Film.[7] Menurut ahli kajian pascakolonial A. Budi Susanto, Krugers merupakan salah satu pendiri perusahaan tersebut, bersama L. Heuveldorp.[8] Perusahaan itu awalnya hanya memproduksi film dokumenter hingga 1926,[7] ketika Heuveldorp menyutradarai Loetoeng Kasaroeng, film cerita panjang pertama di Hindia Belanda. Krugers bertugas sebagai juru kamera untuk film yang diangkat dari cerita rakyat Sunda itu, sekaligus memproses filmnya di laboratorium miliknya.[9] Meskipun karya tersebut dikritik karena mutu teknisnya, film Loetoeng Kasaroeng mendapat pemutaran khusus untuk Gubernur Jenderal Andries Cornelis Dirk de Graeff.[10]
Pada tahun berikutnya, Krugers menyutradarai filmnya sendiri, Eulis Atjih (1927). Dalam film tersebut, ia juga berperan sebagai penulis skenario dan sinematografer.[11] Berdasarkan novel karya Joehana,[12] film ini mengisahkan seorang perempuan bernama Eulis Atjih yang jatuh miskin setelah ditinggalkan oleh suaminya.[13] Diproduksi dengan anggaran terbatas dan menggunakan aktor amatir,[11] film tersebut berhasil secara komersial dalam pemutaran domestik. Namun, pemutaran internasional yang menekankan aspek etnografi film ini tidak memperoleh keberhasilan serupa.[14] Atas pekerjaannya dalam film tersebut, Krugers mendapat pujian dari perintis film Belanda Willy Mullens; menurut sejarawan Rukayyah Reichling, pujian ini mendorong Krugers untuk meninggalkan Java Film.[4]
Krugers mendirikan perusahaannya sendiri, Krugers Filmbedrijf atau Perusahaan Film Krugers, pada tahun 1928.[7] Ia dilaporkan pernah mengerjakan adaptasi film dari cerita rakyat Roro Mendut dan Prono Tjitro, meskipun tidak diketahui apakah kedua proyek tersebut diselesaikan.[15] Selain itu, ia menyelesaikan film dokumenter berjudul Het Groote Mekka-Feest (Perayaan Besar Makkah), yang mengikuti perjalanan jamaah haji dari Hindia Belanda menuju Makkah. Ketika membuat film ini, Krugers mengikuti perjalanan haji, kemungkinan dengan dukungan cendekiawan Islam Agus Salim serta perusahaan pelayaran Belanda yang menangani perjalanan haji.[16] Setelah diputar di Hindia Belanda,[17] film Het Groote Mekka-Feest diputar di Leiden, Belanda, mulai tanggal 8 November 1928. Pemutaran perdana dihadiri sejumlah tokoh elite Belanda, termasuk Putri Juliana, dan diperkenalkan oleh orientalis Belanda Christiaan Snouck Hurgronje.[18]
Film suara dan kehidupan kemudian
Film-film suara pertama yang diputar di Hindia Belanda, yaitu Fox Movietone Follies of 1929 dan The Rainbow Man, berasal dari Amerika Serikat dan mulai ditayangkan pada akhir 1929.[19] Kehadiran film suara impor mendorong Krugers untuk membuat Karnadi Anemer Bangkong (Karnadi si Kontraktor Kodok),[a][14] yang dikenal dalam bahasa Belanda sebagai Een Moderne Indonesische Don Juan (Don Juan Indonesia Modern), pada 1930.[20] Film komedi ini diadaptasi dari novel berbahasa Sunda Rasiah nu Goreng Patut (Rahasia Si Buruk Rupa) karya Joehana dan Sukria.[b] Film tersebut dibuat dengan kamera sistem tunggal yang diperoleh Krugers berkat keanggotaannya dalam Society of Motion Picture and Television Engineers. Film ini sering disebut sebagai film suara produksi lokal pertama yang dirilis di Hindia Belanda.[c][21] Film ini dikritik karena mutu teknisnya yang buruk,[22] dan juga menimbulkan kontroversi karena alurnya. Sutradara sezaman Joshua Wong menyatakan bahwa penerimaan buruk tersebut sebagian disebabkan tokoh utamanya memakan katak, sesuatu yang dianggap haram bagi umat Islam.[14]
Setelah kegagalan tersebut, Krugers membuat film dokumenter Atma de Vischer (1931), yang mengikuti Ratu Wilhelmina dan Pangeran Hendrik dalam perjalanan melalui Den Haag.[14] Ia kemudian menandatangani kontrak dengan Tan's Film,[23] dan membuat dua film bersama perusahaan tersebut. Pertama, ia menyutradarai dan memproduksi Huwen op Bevel (Dipaksa Menikah; 1931),[d] gagal secara komersial meskipun penuh dengan lagu dan komedi. Krugers kemudian ditugaskan menangani sinematografi dalam film suara Njai Dasima (1932) karya Bachtiar Effendi,[24] sebuah adaptasi dari novel Tjerita Njai Dasima (1896) karya G. Francis.[25] Krugers tercatat merencanakan dua film lain, De Nona (Tentang Para Nona) dan Raonah, tetapi keduanya tidak pernah dibuat.[14]
Tan's Film tutup setelah rilis film Njai Dasima karena meningkatnya biaya produksi.[26] Sepanjang tahun 1934 hingga awal 1935, semua film cerita yang dirilis di Hindia Belanda diproduksi oleh The Teng Chun.[27] Ini disebabkan oleh beberapa faktor: Depresi Besar menyebabkan pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak, pengiklan meminta biaya lebih tinggi, dan bioskop menjual tiket dengan harga lebih rendah. Akibatnya, margin keuntungan untuk film lokal menjadi sangat kecil. Pada periode ini, bioskop-bioskop di Hindia Belanda terutama menayangkan film produksi Hollywood.[28] Di tengah tekanan ekonomi tersebut, yang membuatnya menyatakan pailit pada 12 Oktober 1932,[29] Krugers juga menghadapi kritik karena mutu film-film suaranya yang buruk.[30] Krugers sempat menghadapi masalah hukum karena dituduh mengakali biro sensor film dengan memasukkan kembali adegan yang telah dipotong dari Karnadi Anemer Bangkong, meskipun akhirnya ia dibebaskan.[31]
Pada 1935, Krugers meninggalkan Hindia Belanda bersama keluarganya. Ia pergi ke Hong Kong, tempat ia berencana untuk bergabung dengan sebuah perusahaan produksi film lokal. Calon mitra bisnisnya meninggal dunia saat makan malam ketika kontrak kerja sama akan ditandatangani. Karena kesulitan keuangan, Krugers dan keluarganya segera berangkat ke Belanda dengan kapal Nippon Yusen,[32] menggunakan sisa tabungan mereka untuk membayar perjalanan.[33] Di Belanda, Krugers menjalankan agen konstruksi dan kontraktor miliknya sendiri,[1] namun tetap mengalami kesulitan keuangan[34] sehingga kembali menyatakan pailit pada 1945.[1] Ia meninggal di Den Haag pada tanggal 10 Agustus 1964.[7]
Warisan
The Life and Times of G. Krugers (2017), film karya putra Krugers, Jan
Semua film Krugers kecuali satu dianggap sebagai film hilang.[e] Karena perpindahan keluarga Krugers dari Hong Kong terjadi secara mendadak, bahan-bahan yang ia bawa dari Hindia Belanda ditinggalkan. Namun, Het Groote Mekka-Feest tetap bertahan. Krugers menyimpan satu salinan film tersebut di Amsterdam dengan maksud memberikannya kepada calon Ratu Juliana.[30] Pada tahun 1988,[35] Elisabeth Krugers menyumbangkan salinan ini kepada EYE Film Institute. Arsip keluarga Krugers disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.[36]
Pembahasan akademik mengenai Krugers masih relatif terbatas.[33] Nama Krugers telah dicatat dalam buku-buku sejarah Indonesia setidaknya sejak 1986. Namun, informasi yang diberikan tidak selalu konsisten; arsiparis film Misbach Yusa Biran mencatat dua nama berbeda, sedangkan katalogis J. B. Kristanto menyebut Hong Kong sebagai tempat kelahiran Krugers.[37] Dalam kajian akademik Barat, karya Krugers juga tidak banyak mendapat perhatian. Perhatian terhadap karyanya meningkat pada 2015 setelah pemutaran Het Groote Mekka-Feest di Universitas Leiden.[38] Film ini telah diidentifikasi sebagai dokumentasi sinematik pertama mengenai ibadah haji.[39]
↑Judul ini didasarkan pada ingatan wartawan M. Enoh yang menulis pada tahun 1976 (Filmindonesia.or.id, Karnadi). Berdasarkan laporan sezaman, sejarawan film Kanada Christopher Woodrich menulis bahwa judul rilis film tersebut adalah Roesia Gadis Priangan (Rahasia Gadis Priangan) (Woodrich 2017). Judul ini juga dipasangkan dengan Een Moderne Indonesische Don Juan dalam iklan sezaman (De Indische Courant 1930, Centraal-Theater).
↑Tidak jelas siapa Sukria, atau apakah nama ini merupakan salah satu nama pena Joehana. Terbitan aslinya menyatakan bahwa Soekria menulis cerita tersebut, sedangkan Joehana hanya berperan sebagai penyunting. Sarjana sastra Sunda Indonesia Ajip Rosidi menulis bahwa bahasa yang digunakan dalam buku itu jelas merupakan bahasa Joehana; jika ada seseorang bernama Soekria yang menyusun Rasiah nu Goreng Patut, ia kemungkinan hanya memberi unsur inti cerita. Namun, Rosidi juga mempertanyakan apakah Soekria benar-benar ada, karena nama tersebut sebelumnya digunakan untuk anak Eulis Atjih dalam Tjarios Eulis Atjih (Kisah Eulis Atjih) (Rosidi 2013, hlm.12).
↑Kehilangan seperti ini umum terjadi pada film-film yang diproduksi di Hindia Belanda. Film-film tersebut direkam menggunakan film nitrat yang sangat mudah terbakar. Setelah kebakaran menghancurkan sebagian besar gudang Produksi Film Negara pada 1952, film-film lama yang menggunakan bahan nitrat sengaja dihancurkan (Biran 2012, hlm.291). Karena itu, antropolog visual Amerika Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia sebelum 1950 telah hilang (Heider 1991, hlm.14). Namun, Katalog Film Indonesia karya J. B. Kristanto mencatat beberapa film masih bertahan di arsip Sinematek Indonesia, dan (Biran 2009, hlm.351) menulis bahwa beberapa film propaganda Jepang masih disimpan di Netherlands Government Information Service.
Biran, Misbach Yusa (2012). "Film di Masa Kolonial" [Film in the Colonial Period]. Indonesia dalam Arus Sejarah: Masa Pergerakan Kebangsaan[Indonesia in the Flow of Time: The Nationalist Movement] (dalam bahasa Indonesian). Vol.V. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm.268–293. ISBN978-979-9226-97-6. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Centraal-Theater"[Central Theatre]. De Indische Courant (dalam bahasa Dutch). Surabaya. 15 October 1930. hlm.11. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Centraal-Theater"[Central Theatre]. De Indische Courant (dalam bahasa Dutch). Surabaya. 17 October 1930. hlm.3. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Eulis Atjih". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 December 2013. Diakses tanggal 11 May 2026. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Faillissementen"[Bankruptcy Declarations]. Nederlandsche Staatscourant (dalam bahasa Dutch). The Hague. 25 April 1945. hlm.4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Filmografi G. Krugers"[Filmography for G. Krugers]. filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2026. Diakses tanggal 19 March 2026. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"G. Krugers". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2026. Diakses tanggal 19 March 2026. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Karnadi Anemer Bangkong". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfiden Foundation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 December 2013. Diakses tanggal 11 May 2026. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Kostelooze Plaatsing Wegens Overmogen"[Placement Free of Charge Due to Incapacity]. Vereenigde Katholieke Pers (dalam bahasa Dutch). Amsterdam. 7 June 1945. hlm.2. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
"Ontduiking van Film-Censuur. De Zaak tegen den Film-Fabrikant Kreuger"[Working Around the Censors: The Case against the Film Producer Kreuger]. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Dutch). Vol.21. Batavia. 25 January 1933. hlm.5. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Rosidi, Ajip (2013) [1983]. "Rasiah nu Goréng Patut-na Joehana" [Joehana's Rasiah nu Goréng Patut]. Rasiah nu Goréng Patut[Secret of the Ugly One] (dalam bahasa Sunda). Bandung: Kiblat. hlm.5–13. ISBN978-979-8002-31-1.
"Scala Bio"[Scala Theatre]. Sumatra Bode (dalam bahasa Dutch). Padang. 30 December 1930. hlm.3. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Susanto, A. Budi (2003). Identitas dan Postkolonialitas di Indonesia[Identity and Postcolonialism in Indonesia]. Yogyakarta: Kanisius. ISBN978-979-21-0851-4.
"Tan's Film". Encyclopedia of Jakarta (dalam bahasa Indonesian). Jakarta City Government. Diarsipkan dari asli tanggal 21 September 2010. Diakses tanggal 19 Juli 2012. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)