Het Groote Mekka-Feest (terj. har.'Pesta Besar Makkah') adalah sebuah film dokumenter tahun 1928 karya George Krugers. Terbagi dalam empat babak, film ini dibuka dengan sekelompok pria Muslim asal Hindia Belanda yang menunaikan ibadah haji. Film ini kemudian menampilkan unsur kehidupan sehari-hari dan ibadah di negeri Hijaz, termasuk ibadah haji. Karena Makkah umumnya terlarang bagi non-Muslim, Krugers menyamar sebagai seorang Muslim untuk mendokumentasikan ibadah haji dalam video dan foto. Dalam hal ini, ia disambut baik oleh orang-orang di Hindia Belanda dan Hijaz.
Krugers awalnya berharap film ini akan diputar di Pameran Kolonial Paris. Film ini disambut dengan baik pada penayangan perdana di hadapan penonton Belanda pada 9 November 1928. Namun, setelah penayangan perdana, film ini jarang ditayangkan kembali. Film ini disebut sebagai film dokumenter pertama tentang ibadah haji dan merupakan satu-satunya karya Krugers yang diketahui masih bertahan. Film ini telah dianalisis dalam konteks jaringan dan kontrol pemerintah kolonial atas proses haji serta sebagai dokumentasi langsung yang memberikan wawasan tentang pengalaman jamaah haji pada masa itu.
Ringkasan
Sekelompok pria dari pedesaan di Hindia Belanda membeli tiket ibadah haji. Mereka melakukan perjalanan dari Tanjung Priok ke negeri Hijaz dengan kapal SS Madioen. Kapal tersebut singgah di Palembang untuk mengangkut lebih banyak penumpang dan di Sabang untuk pemeriksaan kesehatan. Setelah menaikkan lebih banyak penumpang di Pulau Perim, mereka tiba di Jeddah dan turun dari kapal.
Di Jeddah ("pelabuhan Makkah"), film ini menampilkan berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk arsitektur setempat, para pekerja harian dan keberadaan hewan ternak. Terlihat pula jamaah haji dari semua lapisan masyarakat. Rombongan ini berangkat ke Makkah dengan menunggang unta atau berjalan kaki. Mereka tiba di kota tersebut dan film ini menampilkan bangunan-bangunan penting di Makkah seperti Ka'bah dan Sumur Zamzam. Jamaah haji memenuhi jalan-jalan, dan Raja Ibnu Saud tiba.
Het Groote Mekka-Feest difilmkan dan diproduksi oleh George Krugers. Film ini adalah produksi pertamanya di bawah naungan Krugers Filmbedrijf, perusahaan yang ia dirikan setelah menangani sinematografi dalam Loetoeng Kasaroeng (1926) dan menyutradarai Eulis Atjih (1927) untuk Java Film Company.[1] Menurut Rukayyah Reichling, pakar film, ia berpendapat bahwa Kruger memilih ibadah haji sebagai subjek karena ia menyadari kelayakan komersial dari ibadah ini karena orang Barat penasaran dengan Makkah sementara hanya sedikit Muslim di Hindia Belanda yang mampu membiayai perjalanan tersebut.[1] Dukungan kemungkinan datang dari perusahaan pelayaran besar di Hindia Belanda, yang ingin melegitimasi peran mereka dalam mengangkut jamaah haji.[2] Menjelang tahun 1928, sekitar 50.000 jamaah dari Hindia Belanda melakukan perjalanan tersebut setiap tahun.[3]
Kota Makkah telah tertutup bagi non-Muslim selama berabad-abad.[4] Beberapa orang non-Muslim asal Eropa telah mencoba masuk, tetapi hanya sedikit yang berhasil.[3] Krugers kemudian mempersiapkan diri untuk menyamar sebagai seorang Muslim. Ia mengadopsi nama Muslim, Abdul Wahid, dan disunat.[4] Untuk lebih memahami proses ibadah haji, ia berbicara dengan Agus Salim, tokoh dari Sarekat Islam yang merupakan sebuah organisasi sosial-politik Islam dan menerima surat rekomendasi sehingga mempermudah ia masuk ke Makkah.[4] Seperti halnya dengan Christiaan Snouck Hurgronje, orientalisBelanda, ia mungkin mengaku telah memeluk Islam.[5] Meskipun, klaim tersebut dibantah oleh keluarga Krugers.[6]
Kamera yang digunakan untuk merekam
Syuting film dokumenter ini dimulai di Bandung, Jawa Barat pada 3 Februari 1928.[7] Dengan menggunakan kamera merek Bell & HowellEyemo35 mm,[7] Krugers memulai perjalanan ke Makkah melalui Jeddah menumpangi SS Madioen milik Royal Rotterdam Lloyd. Reichling berpendapat bahwa Krugers pasti mempunyai jaringan informan yang membantunya dalam memberikan informasi tentang sudut kamera yang bagus dan berita lokal. Pihak berwenang setempat dikabarkan telah diberi tahu mengenai proyek pembuatan film tersebut dan konsul Belanda, Daniel van der Meulen aktif dalam pembuatan film.[4] Pada saat yang sama, Krugers menjaga jarak dari beberapa tempat suci. Pakar film, Sandeep Ray mencatat bahwa Ka'bah hanya ditampilkan dari sudut pandang yang tinggi, bukan dari sudut pandang di tengah keramaian.[8]
Saat syuting film dokumenter, Krugers juga mengambil banyak foto yang mendokumentasikan ibadah haji. Foto-foto ini terdiri dari beberapa potret jamaah haji serta pemandangan masyarakat setempat.[9] Ia kembali ke Bandung pada 8 Juli 1928 dan menyunting film di sana.[10] Ia menyiapkan 113 antarjudul untuk film tersebut,[11] yang mencakup empat gulungan dan berdurasi 72 menit. Het Groote Mekka-Feest terdiri dari empat babak:[12] perjalanan dari Hindia Belanda, Jeddah, kegiatan haji dan kembali ke Hindia Belanda.[13]
Penayangan dan penerimaan
Het Groote Mekka-Feest ditayangkan di Hindia Belanda sejak tanggal 17 Agustus 1928 dan ditayangkan di Decca Park di Batavia.[10] Penayangan seperti ini tidak biasa dilakukan untuk film dokumenter yang diproduksi di Hindia Belanda. Ray berpendapat bahwa satu-satunya film yang mendapat penayangan teatrikal serupa adalah De Pest Op Java (Wabah Di Pulau Jawa, 1926) karya Willy Mullens.[14] Krugers segera memulai persiapan untuk pemutaran film di Eropa. Ia dan keluarganya berangkat ke Belanda pada 12 September 1928[15] dan berharap film tersebut pada akhirnya akan cukup dikenal untuk diputar di Pameran Kolonial Paris.[16]
Film dokumenter ini ditayangkan perdana di Eropa di Stadsgehoorzaal[nl] di Leiden, Belanda pada tanggal 8 November 1928. Pemutaran film ini dihadiri oleh banyak sosialita Belanda, termasuk Juliana, mantan ratu belanda yang saat itu masih menjabat sebagai seorang putri, Menteri Koloni, Jacob Christiaan Koningsberger, dan mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg.[17] Banyak penonton merupakan anggota Perhimpunan Oriental di Belanda.[18] Film ini diperkenalkan oleh Orientalis Belanda Christiaan Snouck Hurgronje,[19] pemimpin Perhimpunan Oriental Belanda,[18] yang menyoroti pentingnya ibadah haji dalam Islam.[17] Beberapa foto yang diambil oleh Krugers digunakan sebagai bahan pemasaran[9] dan film tersebut kemudian dipromosikan oleh pemerintah.[20]
Penerimaan surat kabar terhadap film tersebut secara umum positif dengan banyak ketertarikan pada kesan "terlarang" dari situs tersebut.[21] Sebuah surat kabar menyatakan:
[Menyamar menjadi seorang Muslim dapat] memberikan kesempatan untuk membuat rekaman para wali yang paling wali, kala sekarang orang-orang dapat melihat gambar-gambar yang jika tidak [direkam], akan tetap tersembunyi sepenuhnya dari orang-orang non-Mohammedan [...] Jika [Krugers] ditemukan, ia pasti akan menerima hukuman mati..[22]
Elemen lain dari film tersebut mendapat pujian. Het Vaderland menyoroti keindahan alam Laut Eritrea, serta pemandangan Makkah itu sendiri dalam film tersebut.[17]De Tijd melaporkan bahwa penonton mengikuti pertunjukan tersebut dengan penuh minat dan bahwa Krugers telah "mengubah segalanya menjadi keseluruhan yang bagus". Nieuwe Haarlemsche Courant menekankan pentingnya perkenalan Snouck Hurgronje, yang dirangkum dalam ulasannya untuk memberi konteks film tersebut.[23] Namun, beberapa surat kabar mengkritik aspek teknis film tersebut, termasuk pencahayaan dan temponya.[21]
Warisan
Pemandangan Ka'bah dalam film. Krugers menjaga jarak dari beberapa subjek.
Het Groote Mekka-Feest telah diidentifikasi sebagai film dokumenter pertama tentang ibadah haji.[23][24] Sebelumnya, dokumentasi mengenai ibadah haji hanya berupa foto yang diambil oleh insinyur Mesir Muhammad Sadiq Bey dan Snouck Hurgronje.[25] Ini adalah satu-satunya film Krugers yang tidak dianggap hilang.[a][26] Krugers menyimpan salinannya di Amsterdam, bermaksud untuk menggunakannya sebagai hadiah dan salinannya disumbangkan ke EYE Film Institute Belanda pada tahun 1964.[27] Gulungan nitrat asli juga disimpan di Institut Suara dan Visi Belanda di Hilversum.[12]
Film tersebut memang jarang diputar, tetapi pemutarannya tetap dilakukan hingga tahun 1938.[28] Pada tanggal 26 Desember 1938, film ini diperkenalkan oleh P.H. van der Hoog di Cinema Palace di Groningen dan diputar di sana.[29] Pada tahun 1933, diumumkan bahwa film tersebut akan ditayangkan kepada penonton akademis di Inggris, sekali lagi dengan perkenalan oleh Snouck Hurgronje.[30]Het Groote Mekka-Feest jarang mendapat sorotan akademis sampai tahun 2015,[24] ketika putra Krugers, Jan, diundang untuk mendiskusikan film tersebut di Universitas Leiden.[31]
Reichling berpendapat bahwa, sama seperti pemerintah di masa Kruger yang memposisikan diri mereka sebagai "penjaga haji yang waspada namun penuh perhatian", film Kruger mempunyai "pandangan penjajah" yang diambil dari jaringan aktor dan institusi kolonial yang sudah mapan.[32] Ia mencatat beberapa ketidakakuratan dalam penggambaran ritual haji dalam film tersebut, khususnya tidak adanya penggambaran bagian-bagian penting ibadah haji seperti Wukuf Arafah, Salat Id berjamaah, dan mencukur rambut dalam tahalul, serta kurangnya kegiatan perayaan.[13]
Ray berpendapat, film tersebut memberikan wawasan berharga tentang pengalaman jamaah haji, termasuk bertemu dengan umat Islam dari seluruh dunia. Film ini juga menampilkan unsur-unsur ibadah haji yang telah dihapuskan, seperti penyembelihan hewan di depan jamaah haji.[33] Pendekatan Krugers, tulisnya, "membuat film ini terkadang terasa begitu personal" sehingga memberikan wawasan kepada penonton tentang ibadah haji.[34] Namun, ia mencatat bahwa film tersebut memiliki keterbatasan. Krugers menjaga jarak dari beberapa subjeknya dan gagal mewakili pengalaman perempuan dalam haji.[35]
Catatan
↑Menurut putra Krugers, Jan, keluarganya meninggalkan Hindia Belanda pada 1935, saat Depresi Besar. Krugers berharap untuk menjual peralatan filmnya di Hong Kong, tetapi ini tak terwujud, dan film-filmnya hilang di kota tersebut (Woodrich 2017, hlm.10–11).
"'De Merapi Dreigt' en 'Mekka'"['De Merapi Dreigt' and 'Mekka']. Nieuwsblad van het Noorden (dalam bahasa Belanda). Groningen. 24 Desember 1938. hlm.2.
"Film-Nieuws: Mekka Film"[Film News: Mecca Film]. Nieuwe Haarlemsche courant (dalam bahasa Belanda). Haarlem. 9 November 1928. hlm.8.
"Het Groote Mekka Feest". Leiden: Leiden University. 22 Oktober 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Desember 2022. Diakses tanggal 4 Mei 2024.
Koolhaas, Marnix; van de Vooren, Jurryt (15 Oktober 2013). "Nederlandse Mekka-gangers: Snouck Hurgronje in 1885 en Krugers in 1928"[Dutch Mecca-Goers: Snouck Hurgronje in 1885 and Krugers in 1928] (dalam bahasa Belanda). Leiden: Nederland 24. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Februari 2014. Diakses tanggal 1 Februari 2014.
"Mekkafilm"[Meccafilm]. Het Vaderland (dalam bahasa Belanda). 's-Gravenhage. 15 Februari 1933. hlm.B3.
Reichling, Rukayyah (2021). "Zicht op een verboden stad: De eerste documentaire over de bedevaart naar Mekka"[View of a Forbidden City: The First Documentary about the Pilgrimage to Mecca]. ZemZem: Tijdschrift over het Midden-Oosten, Noord-Afrika, en Islam (dalam bahasa Belanda). 16 (2): 137–146. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)