Kariernya beragam, Ia memulai menjajaki dunia kerja di bidang militer dengan bergabung bersama RAF sebagai pilot jet tempur.[1] Namun, setelah itu Ia bekerja di Reuters pada tahun 1961 dan di BBC pada tahun 1965 pada saat itu Ia menjadi asisten koresponden diplomatik.[1]
Kariernya dibidang jurnalistik semakin serius tatkala Ia secara intens melaporkan tentang kejadian percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Charles De Gaulle.[2] Selain itu, Ia juga pernah dikirim untuk meliput perang sipil yang terjadi di Nigeria, yaitu perang antara kaum Biafra dan Nigeria.[2] Dan dia di lokasi tersebut bertindak sebagai koresponden.[2] Selama enam bulan Ia menjalani masa-masa peliputan pada tahun 1967, tetapi tak ada seorang pun yang mengira bahwa perang tersebut berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.[2] Hal ini dikarenakan persiapan dari pihak Biafran kurang, dan suplai senjata yang dimiliki pun cenderung murahan dan sedikit.[2] Setelah beberapa lama melaporkan berbagai peristiwa tersebut, Ia pun enggan untuk kembali pulang padahal telah diminta untuk kembali.[2] Alasannya Ia masih ingin menguak segala hal yang tersimpan hingga tuntas.[2]
Permintaannya pun dikabulkan dan berkat hal itu Ia dapat menulis buku hasil pengalamannya menghadapi keadaan perang di Nigeria, buku tersebut berjudul "The Biafra Story" pada tahun 1969.[1]
Dia juga sempat menjadi komentator isu politik di beberapa stasiun radio, dan menulis beberapa berita di koran sepanjang kariernya termasuk halaman mingguannya yang berjudul Daily Express.[1] Pada tahun 2003, dia mengkritik para anti gay gereja di koran The Guardian.[1] Dia juga penulis cerita beberapa film dokumenter seperti [2]Jesus Christ Airlines, Soldiers, a history of men in battle dan I Have Never Forgotten You: The Life & Legacy of Simon Wiesenthal.[2]