Firman Dwi Cahyono (lahir 30 Maret 1974) adalah seorang perwira tinggi TNI-AU yang sejak 15 Agustus 2025 mengemban amanat sebagai Kepala Dinas Operasi dan Latihan TNI AU (Kadisopslatau).
Firman merupakan lulusan AAU 1996. Jabatan terakhir jenderal bintang satu ini adalah Staf Khusus Kasau.
Tidak hanya itu, Firman juga berhasil menjadi lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara angkatan pertama tahun 1993 sehingga mendapat anugerah Bintang Garuda Trisakti Tarunatama Emas.[2]
Pada tanggal 20 Agustus 2014, dia berhasil mencatatkan rekor meraih 2000 jam terbang dengan menggunakan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.[3]
Karena dinilai berjasa besar kepada TNI, Kolonel Pnb Firman Dwi Cahyono dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya oleh Presiden RI Joko Widodo. Penganugerahan tersebut dilakukan bertepatan dengan Upacara Peringatan ke-77 Hari TNI Tahun 2022 di halaman Istana Negara.[4]
Jet tempur F-16 Fighting Falcon bernomor registrasi TT-1643 yang diterbangkan oleh Letkol Penerbang Firman Dwi Cahyono meledak dan terbakar di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada 16 April 2015 pukul 08.20 WIB saat akan take off. Rencananya, pesawat tersebut akan ikut fly pass pada acara pembaretan PresidenJoko Widodo sebagai Warga Kehormatan Pasukan khusus TNI di Mabes TNI, Cilangkap.
Nahas, Firman yang punya callsign Foxhound ini gagal terbang. Mesin F-16 Blok 15 yang dipilotinya terbakar dan roda bagian kirinya copot.[6] Terjadi kebakaran mesin tetapi penerbang berhasil keluar dari dalam pesawat. Firman mengalami luka ringan.[7]
"Saya memuji pilot dengan aksinya sehingga tidak menyebabkan korban yang besar."
Agus mengatakan, saat melihat ada masalah dalam mesin pesawat, Firman langsung mengarahkan pesawat menjauh dari pemukiman penduduk. Manuver Firman yang 'banting setir' itu berimbas pada munculnya percikan api dari gesekan roda dan aspal pembatas, terlebih tengki pesawat masih terisi penuh bahan bakar.
Keputusan Firman itu merupakan langkah tepat saat situasi darurat untuk meminimalisir jumlah korban.[9]