Aliran
Pemikiran-pemikiran baru dalam psikologi tumbuh dengan pesat pada abad ketujuh belas sampai abad kesembilan belas di negara-negara dunia Barat.[3] Pada abad kedelapan belas, filsuf Jerman yang bernama Christian Wolff membagi psikologi menjadi psikologi empiris dan psikologi rasional. Psikologi rasional adalah ilmu pasti yang mempelajari jiwa manusia, termasuk pikiran manusia. Sementara itu, psikologi empiris diidentifikasi sebagai prinsip-prinsip psikologi yang diteraapkan untuk mengatasi masalah konkret pada persoalan mengenai jiwa manusia.[4] Positivisme, materialisme, dan empirisisme adalah dasar filosofis sains psikologi baru.[5]
Positivisme
Paham ini dicetuskan oleh Auguste Comte yang sudah melakukan penelitian sistematis atas pengetahuan tentang manusia. Prinsip kerja Comte berdasarkan hal-hal yang bersifat ilmiah seperti fakta-fakta yang pasti dan didapatkan dari metode dalam sains. Jika fakta yang ditemui bersifat inferensial, menduga-duga, tidak berdasarkan bukti yang kuat, maka akan dibantahnya.[6]
Materialisme
Para pengikut paham materialis mengaitkan proses mental individu dengan struktur anatomis tubuh manusia serta fisiologis otak.[7]
Behaviorisme
Beberapa teori psikologis menjelaskan perilaku yang tampak dengan menempatkan kondisi psikologis internal dan struktur seperti kepercayaan, tujuan hidup, persepsi, kenangan, dan hal-hal lain yang memengaruhi kondisi mental. Teori psikologi yang didominasi oleh behavioris tidak akan menelaah kondisi mental jika hal tersebut sulit untuk diobservasi. Pada abad ke 20, paham behaviorisme sudah tertinggal jaman dan digantikan oleh kognitifisme berdasarkan pada penelaahan kondisi mental individu terkait dengan kognisi.[8]
Salah satu figur yang diasosiasikan dengan kejatuhan psikologi behavioris adalah Noam Chomsky yang memulai analisis psikologi perilaku individu dengan menggunakan pendekatan kebahasaan. Bahasa manusia merupakan sesuatu hal yang rumit dibandingkan dengan bahasa hewan.[9]
Hermeneutik
Fenomenologi hermeneutik merupakan suatu studi yang ditelaah oleh Martin Heidegger dalam tulisannya yang berjudul Being and Time.[10]
Salah seorang guru Heidegger yaitu Edmund Husserl yang juga menganalisis masalah fenomenologi. Dalam fenomenologi, karakter digambarkan dengan cara yang deskriptif.[11]
Heidegger melakukan interpretasi terhadap metode fenomenologi dengan cara menjelaskan atau menggambarkan segala sesuatu yang terlihat secara jelas, bukan hanya berupa kategori atau pelabelan. Namun demikian, Heidegger telah melampaui cara pandang Husserl. Baginya, fenomenologi pun harus dikaitkan dengan metode hermeneutik atau penafsiran. Dalam ilmu hermeneutik, fenomena manusia dipahami sebagai sesuatu yang sarat makna.[12]
Pemikiran Heidegger dikenal juga sebagai paham anti-Cartesian sebagaimana yang tercantum dalam karyanya yang berjudul Being and Time.[13]