Digali dari khazanah tradisi dan sejarah Timor, novel Orang-Orang Oetimu kemudian diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2019[2] serta sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman[3] dan Inggris[4], selain juga memenangkan antaranya Penghargaan Sastra 2021.[5]
Felix Kandidus Nesi lahir dan membesar dalam sebuah keluarga petani di Nesam, kampung kecil di Insana, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Tumbuh dalam masyarakat dengan tradisi bertutur yang kuat, Felix mulai suka menuliskan cerita-cerita yang pernah didengarnya sejak kelas 4 SD.[7]
Diharapkan dapat menjadi seorang pastur, oleh orang tuanya ia dimasukkan ke Seminari Lalian di Atambua. Namun, setamat sekolah menengah atas pada 2008, Felix memilih untuk merantau dan kemudian kuliah psikologi di Universitas Merdeka Malang.[8]
Di Malang, Felix semakin mendalami hobi menulisnya. Pada 2011, untuk pertama kali tulisannya dimuat surat kabarBali Post, sebuah puisi. Menyusul kemudian karya-karya lainnya muncul di Tempo, Malang Post, juga Kompas. Ia juga mencoba menerbitkan tulisannya secara mandiri.
Nama Felix mulai dikenal lebih luas setelah menjuarai Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2018. Selain penerbitan novel perdananya, kemenangan tersebut juga membuka kesempatan mengikuti program residensi kepenulisan di Amsterdam dan Iowa.
Karya
Novel
Orang-orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019)
Cerita pendek
Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra Malang, 2016)
Di Sarang Para Pencuri Cendana (penerbitan mandiri, 2017) – kumpulan cerita anak
Kode Etik Laki-Laki Simpanan (Buku Fanu, 2019) – ditulis memakai nama Robertus Aldo Nishauf