Fajar Adriyanto (20 Juni 1970–3 Agustus 2025) adalah seorang perwira tinggiTNI-AU yang menjabat sebagai Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Kodiklatau sejak 6 Desember 2024 hingga kematiannya pada 3 Agustus 2025.[2]
Beberapa penghargaan ia terima diantaranya, Brevet "Tanggap Tangkas Tangguh" dari BNPB, serta predikat tesis terbaik pada pendidikan pascasarjana di Universitas Pertahanan.[8]
Ia menempuh pendidikan tingkat pascasarjana di Program Studi Manajemen Bencana Universitas Pertahanan pada tahun 2010 hingga 2012.[9] Pada saat menempuh pendidikan tersebut, dalam Rapat Koordinasi dan Pelatihan Penanggulangan Bencana tingkat nasional yang berlangsung di Hotel Mercure Jakarta Utara, Fajar menjadi salah satu dari enam perwakilan yang menerima Sertifikat dan Brevet "Tanggap Tangkas Tangguh" yang diberikan oleh Kepala BNPBSyamsul Ma'arif.[10]
Ia menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Bencana dengan predikat tesis terbaik. Tesisnya berjudul "Pengerahan Kekuatan Udara (Air Power) dalam Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana di Daerah Terpencil", membahas peran kekuatan udara dalam mendukung respons darurat di wilayah-wilayah yang sulit diakses.[8]
Militer
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas pada tahun 1989, ia melanjutkan ke Akademi Angkatan Udara, dan diselesaikan pada tahun 1992.[3] Setelah lulus, ia mengikuti Sekolah PenerbangTNI AU pada tahun 1995 dan melanjutkan dengan program konversi pesawat F-16 Fighting Falcon pada tahun 1997. Lima tahun kemudian, pada 2003, ia menempuh pendidikan di Sekolah Instruktur Penerbang. Jenjang pendidikan berikutnya ia tempuh di Seskoau, dan lulus pada tahun 2006,[11] kemudian di Sesko TNI pada tahun 2014 hingga 2015. Terakhir, pada tahun 2021, ia mengikuti Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas).
Fajar termasuk salah satu pilot F-16TNI AU yang pernah terlibat dalam peristiwa duel udara dengan pesawat-pesawat F/A-18 Hornet, Angkatan Laut Amerika Serikat yang terjadi di wilayah udara Pulau Bawean, pada 3 Juli 2003. Pada saat itu radar Komando Pertahanan Udara Nasional dan Pusat Operasi Pertahanan Nasional menangkap ada lima titik mencurigakan yang terbang dalam formasi rapat dan tidak teridentifikasi. Namun ketika satu flight pesawat tempur TNI AU dikirimkan untuk melakukan identifikasi, tidak ditemukan objeknya. Dua jam kemudian, terlihat manuver-manuver pesawat terbang tanpa identitas dan ada laporan dari para penerbang pesawat Bouraq Indonesia Airlines, bahwa manuver-manuver mereka yang berkecepatan tinggi sudah membahayakan kesalamatan dan keamanan penerbangan sipil berjadual. Pesawat-pesawat itu juga tidak melakukan komunikasi dengan menara pengatur lalu-lintas penerbangan nasional.[12][13][14][15][16]
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional, saat itu dijabat Marsekal Muda TNITeddy Sumarno, mengirimkan dua F-16 B untuk melakukan misi mencegat, mengidentifikasi dan mengusir mereka dari wilayah udara nasional. Penerbangan ini memiliki call sign Falcon Flight. Pemimpin penerbangan bersandikan Falcon 1, bernomor ekor TS-1603 yang diawaki oleh Kapten PNBIan Fuady dan Kapten PNB Fajar Adriyanto. Falcon 2, bernomor ekor TS-1602, diawaki oleh Kapten PNBMohamad Tonny Harjono dan Kapten PNBM. Satrio Utomo. Dalam misinya, mereka bertugas untuk identifikasi visual dan menghindari konfrontasi, dengan cara tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam.[12][13][16][14][15]
Ketika Falcon Flight tiba di lokasi, mereka langsung disambut oleh dua pesawat F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat sehingga mereka terlibat dalam perang radar (radar jamming). Dalam peristiwa itu, salah satu penerbang tempur TNI AU sudah dalam posisi terkunci secara radar oleh penerbang tempur A AL AS. Sedang pesawat lainnya sedang saling berkejaran dalam posisi dog fight cukup ketat. Pesawat TNI AU kemudian berinisiatif melakukan gerakan menggoyang sayap (rocking wing) yang menyatakan bahwa mereka tidak dalam posisi mengancam pesawat AL AS.[12][13][16][14][15]
Ketika komunikasi berhasil dibuka, diketahui bahwa kedua pesawat AL AS dan jajaran kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Carl Vinson (CVN-70), merasa bahwa mereka berlayar di wilayah perairan internasional dan meminta agar kedua pesawat TNI AU untuk menjauh. Namun disampaikan oleh pesawat TNI AU bahwa mereka, pesawat-pesawat AL AS berada dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia sesuai dengan Deklarasi Djuanda. Falcon Flight meminta mereka untuk segera mengontak ke ATC setempat, Bali Control, yang hingga saat itu tidak mengetahui keberadaan mereka. Mengetaui adanya itu, pesawat-pesawat AL AS itu kemudian terbang menjauh.[12][13][16][14][15]
Pesawat lepas landas dari Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja pada pukul 09.08 WIB dalam rangka menjalankan misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara. Latihan ini merupakan bagian dari program rutin pembinaan kemampuan personel FASI, organisasi olahraga dirgantara nasional yang berada di bawah pembinaan TNI Angkatan Udara.
Sekitar pukul 09.19 WIB, pesawat dilaporkan hilang kontak. Tak lama kemudian, pesawat ditemukan jatuh di dekat TPU Astana. Dua awak pesawat, yaitu pilot Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto dan kopilot bernama Roni segera dievakuasi ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. M. Hassan Toto. Namun, Fajar Adriyanto dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit.[20]
Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto dimakamkan pada Senin, 4 Agustus 2025, di Tempat Pemakaman Umum Monyetan, Jalan Bengawan Solo, Kota Probolinggo, Jawa Timur, di samping makam ayahnya, Kusindriyoto.[21]
Peraih penghargaan Pengelolaan BMN Terbaik saat menjabat sebagai Pangkalan TNI Angkatan Udara Manuhua, Biak dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), Biak Numfor pada 28 Februari 2018.[23]
1234Dudi, Sudibyo (07 Juli 2003). "Perang Elektronika di Kawasan Bawean: Beberapa manuver dalam perang elektronika antara F-16 TNI AU dengan F-18 Hornet AL AS". KOMPAS.;
1234Dudi, Sudibyo (04 Juli 2003). "Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean". KOMPAS.;
↑TNI, Dinas Penerangan (05 Mei 2010). ""HYENA" Gantikan "RED WOLF"". TNI MIL ID. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-19. Diakses tanggal 10 Juli 2020.;
↑NAD/BAM (4 Agustus 2025) "Pesawat Latih Jatuh, Satu Perwira AU Meninggal" Kompas. hal 15
Bachtiar, Imelda (2018). DARI CAPUNG SAMPAI HERCULES, 70 TUTURAN TENTANG CHAPPY HAKIM. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN978-602-412-343-7.
Hakim, Chappy (2018). Bachtiar, Imelda (ed.). DARI SEGARA KE ANGKASA, DARI PRAJURIT UDARA KE PENULISAN DAN GURU. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN978-602-412-341-3.