Evi Fitriani dilahirkan pada tanggal 20 Desember 1968 di Muntok, sebuah kota kecil di Pulau Bangka, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Muawanah dan Amron Usman. Evi mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar (SD) Peltim. Setelah lulus dari SD Peltim, ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Muntok. Beberapa bulan di SMP tersebut, ia bersama keluarganya pindah ke Pangkalpinang. Ia kemudian masuk ke SMP 1 Pangkalpinang sebelum keluarganya pindah kembali ke Jakarta.[1]
Evi lulus dari UI dengan gelar sarjana ilmu hubungan internasional pada tahun 1993. Setelah lulus, Evi menerima beasiswa Chevening untuk menempuh pendidikan magister di Universitas Leeds dan program beasiswa Fulbright untuk program magister di Universitas Ohio. Ia lulus dengan gelar magister dari Universitas Leeds pada tahun 1994 dan Universitas Ohio pada tahun 1995.[2][3] Evi kemudian meneruskan pendidikannya dengan menempuh studi doktoral di Universitas Nasional Australia. Ia memperoleh dukungan finansial melalui Australian Development Scholarship. Pembimbingnya selama menjalani studi doktoral adalah Andrew MacIntyre dan Jenny Corbett, dan Evi berhasil memperoleh gelar doktor pada tahun 2011.[2][4]
Karier akademik
Evi mulai mengajar ilmu hubungan internasional di Universitas Indonesia pada tahun 1996.[5] Evi juga terlibat dalam organisasi internal di UI dan ikut terlibat dalam pembentukan Kantor Internasional UI. Evi menjabat sebagai kepala kantor tersebut sejak berdiri pada tahun 2003[6] hingga tahun 2005[5] Dengan pembentukan kantor tersebut, UI mulai menerima mahasiswa dari luar Indonesia. Evi ditugaskan oleh Rektor UI saat itu, Usman Chatib Warsa, untuk memimpin proses seleksi masuk mahaiswa internasional.[7] Evi kemudian juga diangkat menjadi sekretaris senat akademik Universitas Indonesia dari tahun 2011 hingga 2012[5] dan anggota satuan tugas UI untuk urusan otonomi.[2]
Evi menjabat sebagai Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional UI dari tahun 2012 hingga 2016.[8] Selama masa jabatannya, Pusat Studi ASEAN berdiri sebagai hasil dari kerjasama antara Departemen HI, FISIP UI, dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.[9] Evi juga terlibat sebagai tim ahli yang bertugas untuk merumuskan isu-isu penting dalam debat pemilihan umum Presiden Indonesia 2014.[10]
Pada tahun 2021, Evi dicalonkan menjadi dekan FISIP UI[4] dan menjadi panelis untuk sesi yang bertemakan pertahanan dan keamanan, hubungan internasional, serta geopolitik, dengan fokus pada globalisasi dan politik luar negeri dalam acara debat pemilihan presiden Indonesia tahun 2024.[11]
Evi Fitriani bersama dengan guru besar ilmu komunikasi Universitas Indonesia, Donna Asteria.
Dalam pidato pengukuhannya, yang kemudian dipublikasikan sebagai artikel jurnal, Evi mendorong pengembangan paradigma non-Barat dalam ilmu hubungan internasional serta pembentukan mazhab ilmu hubungan internasional dari Indonesia. Evi mengusulakan pembentukan Mazhab Depok, yang dapat dijabarkan lebih lanjut melalui pemikiran Juwono Sudarsono mengenai keterhubungan antara lima aspek geografis: lokal, provinsial, nasional, regional, dan global, serta tiga dimensi isu: keamanan politik, ekonomi, dan sosial budaya.[15]
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia
Evi Fitriani (kiri) dengan Kepala BSKLN Kemlu Muhammad Takdir, 2026.
Pada tanggal 25 November 2025, Evi dipilih oleh Rektor Universitas IndonesiaHeri Hermansyah sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia setelah melalui tahapan asesmen[16] sejak Agustus 2025. Ia dilantik pada tanggal 8 Desember 2025.[17]