Bakat seni Erika telah diasah sejak kecil, terinspirasi dari sang ibu dan kakek yang juga memiliki latar belakang seni. Namun, perjalanan awalnya tidak selalu mudah. Ia pernah mengalami pengalaman ditolak dalam pelajaran seni di sekolah dan karya-karyanya sempat diragukan. Meskipun demikian, Erika terus mengembangkan teknik melukis secara otodidak dan membagikan proses kreatifnya di media sosial sejak tahun 2018.[6]
Kehidupan pribadi
Erika Richardo lahir di Jakarta pada 2 Juni 2002. Ia merupakan anak ke dua dari empat bersaudara keturunan Kalimantan–Tionghoa. Selain dikenal karena konten melukis nya, ia juga dikenal sebagai kekasih Kreator KontenJerhemy Owen. Keduanya telah menjalin hubungan selama 5 tahun lebih sejak SMA.[7]
Nama Erika mulai dikenal publik saat ia aktif di TikTok melalui akun @erikarichardo, yang menampilkan proses melukis di berbagai media tidak konvensional seperti kaca, tembok, sepatu, pakaian, hingga mobil. Video-videonya yang bersifat storytelling dan visual yang berhasil menarik perhatian penontonnya. Ia juga dikenal karena konsistensinya dalam membuat konten.[9]
Ekspedisi: Misi ke Lukisan Tertua di Dunia
Pada awal tahun 2025, Erika Richardo melakukan sebuah ekspedisi ke Sulawesi Selatan, Indonesia, untuk mengunjungi dan mendokumentasikan salah satu situs seni prasejarah tertua di dunia, yaitu Gua Leang Tedongnge yang terletak di kawasan karst Maros–Pangkep.[10] Tujuan utama ekspedisi ini adalah untuk melihat secara langsung lukisan gua bergambar babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) dan jejak tangan manusia purba yang diyakini berasal dari sekitar 45.500 hingga 51.200 tahun yang lalu.[11] Lukisan tersebut dianggap sebagai salah satu karya seni figuratif tertua yang pernah ditemukan, dan telah menjadi subjek penting dalam studi evolusi budaya manusia.
Ekspedisi ini melibatkan tim kecil yang terdiri dari Erika, Jerhemy Owen (pasangannya), serta sejumlah peneliti lokal dan pendamping lapangan.[12] Mereka bekerja sama dengan juru pelihara situs, aparat keamanan hutan, serta pihak pemerintah daerah setempat untuk mendapatkan izin eksplorasi. Dalam prosesnya, Erika dan timnya harus menempuh perjalanan selama beberapa jam trekking, dan bahkan sempat mengalami keterlambatan akibat cuaca ekstrem dan masalah navigasi di daerah terpencil tersebut.[13]
Setibanya di dalam gua, Erika dan timnya melakukan dokumentasi terhadap lukisan tua yang ada di dinding gua tersebut. Dalam kontennya, Erika menekankan pentingnya melindungi situs seperti Gua Leang Tedongnge dari kerusakan lingkungan, vandalisme, dan eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Dalam beberapa pernyataannya, Erika menyebutkan bahwa pengalaman ini menjadi salah satu perjalanan paling reflektif dalam kariernya, karena memberikan pemahaman lebih dalam tentang hubungan antara seni, sejarah, dan peradabanmanusia purba.[14]
Rumah Lukis berfokus pada penyediaan fasilitas melukis gratis, termasuk perlengkapan dasar seperti cat, kuas, dan kanvas, bagi anak-anak yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas terhadap pendidikan seni. Erika secara langsung terlibat dalam pengadaan material dan pelaksanaan kegiatan melukis bersama anak-anak, baik di ruang publik seperti taman kota, desa-desa terpencil, maupun komunitas-komunitas lokal.[18]
Kolaborasi antara Cap Bali dengan Garuda Indonesia
Salah satu perusahaan fesyen dan mode asal Bali, yaitu Cap Bali berkolaborasi dengan Erika dan dan seniman Bali, Raka Jana merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80 dengan melukis salah satu unit maskapai Garuda Indonesia tipe Boeing 737-800NG. [20] Erika membuat livery pesawat dengan mengangkat tema "People with Culture" yang diluncurkan pada 15 Agustus 2025.[21]