Ergofobia (juga disebut ergasiophobia atau ponophobia)[1] adalah ketakutan ekstrem dan melemahkan yang berkaitan dengan pekerjaan, baik pekerjaan manual maupun non-manual. Kondisi ini dapat berupa ketakutan untuk bekerja, ketakutan kehilangan atau mendapatkan pekerjaan, maupun ketakutan terhadap tugas-tugas tertentu di lingkungan kerja. Istilah ergofobia berasal dari bahasa Yunani ergon (kerja) dan phobos (takut).[2][3] Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), ergofobia tidak didefinisikan secara khusus, tetapi dapat dikategorikan sebagai fobia spesifik lainnya dengan kode 300.29 (F40.298).[4]
Ciri-ciri ergofobia sering kali mirip dengan fobia sosial atau kecemasan kinerja, terutama kecemasan irasional terhadap pekerjaan dan lingkungan kerja. Bentuknya dapat mencakup ketakutan akan kegagalan dalam menjalankan tugas, berbicara di depan umum di tempat kerja, kecemasan performa, ketakutan berinteraksi dengan rekan kerja, serta ketakutan akan cedera emosional, psikologis, maupun fisik di tempat kerja.[5]
Gejala
Ergofobia memiliki gejala fisik dan psikologis yang berkaitan dengan ketakutan dan penghindaran terhadap lingkungan kerja. Sebuah studi mengenai kelelahan kerja pada guru menemukan bahwa individu yang mengalami ergofobia memiliki skor kesehatan fisik yang lebih rendah dibandingkan rekan kerja mereka.[5][6] Gejala fisik ergofobia dapat mencakup detak jantung yang cepat, mulut kering, keringat berlebihan, rasa gelisah umum, serta serangan panik. Dari sisi psikologis, ergofobia dapat menyebabkan gangguan kinerja di tempat kerja, termasuk ketidakmampuan memenuhi tuntutan pekerjaan, kesulitan mempertahankan pekerjaan, penghindaran terhadap tanggung jawab tambahan, kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan situasi kerja yang negatif, serta penarikan diri dari lingkungan kerja.[5]
Sejarah
Ergofobia merupakan konsep yang masih diperdebatkan dalam psikologi klinis. Pada masa lalu, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai bentuk kemalasan. William Upson mendefinisikan ergofobia sebagai “seni bermalas-malasan” serta “ketakutan atau kebencian patologis terhadap pekerjaan”.[7] Istilah ergofobia pertama kali tercatat dalam laporan sebuah rumah sakit di New Jersey pada dekade 1860-an.[6]
Beberapa peneliti mengaitkan ergofobia dengan kelelahan kerja, yaitu kondisi yang timbul akibat stres kerja kronis yang tidak terselesaikan. Konsep burnout mulai dikenal secara luas pada tahun 1970-an di Amerika Serikat. Herbert Freudenberger memperkenalkan istilah tersebut untuk menggambarkan kelelahan fisik dan emosional yang disertai sikap negatif terhadap pekerjaan, terutama pada individu yang bekerja dalam bidang yang menuntut interaksi sosial intensif.[8] Kelelahan kerja lebih sering ditemukan pada profesi yang menuntut keterlibatan emosional tinggi, seperti tenaga kesehatan, pekerja sosial, profesional kesehatan mental, pengacara, serta karyawan di sektor bisnis dan organisasi sosial.
Meskipun ergofobia dan kelelahan kerja belum memiliki prosedur diagnosis resmi, beberapa instrumen psikologis digunakan untuk menilai tingkat keparahan kondisi tersebut. Alat ukur yang paling umum digunakan adalah Maslach Burnout Inventory (MBI), yaitu kuesioner introspektif yang menilai tiga dimensi utama: kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian pribadi. Instrumen ini sering digunakan bersama Areas of Worklife Survey (AWS) untuk mengidentifikasi kesesuaian antara individu dan lingkungan kerja. Kedua alat ukur tersebut dapat diterapkan baik pada tingkat individu maupun kelompok sebagai sarana penilaian kondisi psikososial di tempat kerja.[5]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.