Artikel ini bukan mengenai akson, suatu proyeksi dari neuron, atau Exxon, merek bahan bakar yang dijual oleh ExxonMobil, atau hekson, sebuah protein virus.
Ekson adalah bagian dari gen yang akan menyandi bagian dari RNA matang akhir yang dihasilkan oleh gen tersebut setelah intron telah dihilangkan oleh penjalinan RNA (RNA splicing). Istilah ekson mengacu pada urutan DNA dalam gen dan urutan yang sesuai dalam transkrip RNA. Dalam penjalinan RNA, intron dihapus dan ekson secara kovalen bergabung satu sama lain, menghasilkan RNA duta matang. Sama seperti seluruh rangkaian gen yang dimiliki suatu spesies membentuk genom, seluruh rangkaian ekson membentuk eksom.
Sejarah
Istilah ekson berasal dari wilayah yang diekspresikan dan dibuat oleh ahli biokimia Amerika Walter Gilbert pada tahun 1978: "Gagasan cistron ... harus diganti dengan unit transkripsi yang berisi daerah yang akan hilang dari duta matang–yang saya sarankan kita panggil intron (untuk wilayah intragenik)–bergantian dengan daerah yang akan diekspresikan–ekson. "[1]
Definisi ini awalnya dibuat untuk transkrip pengode protein yang dijalin sebelum ditranslasi. Istilah ini kemudian mencakup urutan yang dihapus dari rRNA[2] dan tRNA,[3] kemudian juga digunakan untuk molekul RNA yang berasal dari berbagai bagian genom yang kemudian disatukan dengan trans-splicing.[4]
Dari semua gen eukariotik di GenBank, ada rata-rata 5,48 ekson per gen (pada tahun 2002). Setiap ekson rata-rata menyandikan 30-36 asam amino.[6] Sementara ekson terpanjang dalam genom manusia memiliki panjang 11555 bp, beberapa ekson memiliki panjang hanya 2 bp.[7] Ekson yang terdiri dari satu nukleotida telah dilaporkan dari genom Arabidopsis.[8]
Struktur dan fungsi
Ekson dalam prekursor RNA duta (pre-mRNA). Ekson dapat mencakup urutan yang mengkode asam amino (merah) dan urutan yang tidak ditranslasi (abu-abu). Intron — bagian-bagian pre-mRNA yang tidak ada di mRNA — (biru) dihilangkan, dan ekson digabungkan bersama-sama (dijalin) untuk membentuk mRNA fungsional akhir. Ujung 5′ dan 3′ dari mRNA ditandai untuk membedakan dua daerah yang tidak ditranslasi (abu-abu).
Dalam gen pengkode protein, ekson meliputi urutan pengkode protein dan daerah 5′ dan 3′ yang tidak ditranslasi (untranslated region, UTR). Sering kali ekson pertama mencakup 5′-UTR dan bagian pertama dari urutan pengode, tetapi ekson yang hanya berisi daerah 5′-UTR atau (lebih jarang) 3′-UTR terjadi pada beberapa gen, yaitu UTR dapat berisi intron.[9] Beberapa transkrip RNA non pengode juga memiliki ekson dan intron.
mRNA matang yang berasal dari gen yang sama tidak perlu menyertakan ekson yang sama, karena intron yang berbeda dalam pra-mRNA dapat dihilangkan dengan proses penjalinan alternatif.
Eksonisasi adalah penciptaan ekson baru, sebagai hasil mutasi pada intron.[10]
Pendekatan eksperimental menggunakan ekson
Penjebakan ekson (exon trapping) atau 'penjebakan gen' adalah teknik biologi molekuler yang mengeksploitasi keberadaan penjalinan intron-ekson untuk menemukan gen baru.[11] Ekson pertama dari gen yang 'terjebak' terjalin ke dalam ekson yang terkandung dalam DNA insersional. Ekson baru ini berisi ORF untuk gen reporter yang sekarang dapat diekspresikan menggunakan enhanser yang mengontrol gen target. Seorang ilmuwan tahu bahwa gen baru telah terperangkap ketika gen reporter diekspresikan.
Penjalinan dapat dimodifikasi secara eksperimental sehingga ekson yang ditargetkan dikeluarkan dari transkrip mRNA matang dengan memblokir akses partikel ribonukleoprotein nukleus kecil (small nuclear ribonucleoprotein particle, snRNP) yang mengatur penjalinan ke pra-mRNA menggunakan oligomer antisense Morpholino.[12] Ini telah menjadi teknik standar dalam biologi perkembangan. Oligomer Morpholino juga dapat ditargetkan untuk mencegah molekul yang mengatur penjalinan (mis. enhanser penjalinan, supresor penjalinan) untuk berikatan dengan pra-mRNA, sehingga mengubah pola penjalinan.
↑Liu AY, Van der Ploeg LH, Rijsewijk FA, Borst P (June 1983). "The transposition unit of variant surface glycoprotein gene 118 of Trypanosoma brucei. Presence of repeated elements at its border and absence of promoter-associated sequences". Journal of Molecular Biology. 167 (1): 57–75. doi:10.1016/S0022-2836(83)80034-5. PMID6306255.
↑Morcos PA (June 2007). "Achieving targeted and quantifiable alteration of mRNA splicing with Morpholino oligos". Biochemical and Biophysical Research Communications. 358 (2): 521–7. doi:10.1016/j.bbrc.2007.04.172. PMID17493584.
Pustaka umum
Zhang MQ (May 1998). "Statistical features of human exons and their flanking regions". Human Molecular Genetics. 7 (5): 919–32. doi:10.1093/hmg/7.5.919. PMID9536098.
Thanaraj TA, Robinson AJ (November 2000). "Prediction of exact boundaries of exons". Brief. Bioinform. 1 (4): 343–56. doi:10.1093/bib/1.4.343. PMID11465052.