Edward Ochab ([ˈɛdvartˈɔxap]; 16 Agustus 1906 – 1 Mei 1989) adalah seorang politikus komunis Polandia dan pemimpin tertinggi Polandia sebagai Sekretaris Pertama Partai Buruh Bersatu Polandia (PZPR) selama periode singkat pada tahun 1956 [1].
Meskipun hanya menjabat selama tujuh bulan, masa kepemimpinannya sangat penting karena mencakup periode de-Stalinisasi dan kerusuhan buruh di Poznań yang membuka jalan bagi reformasi di bawah Władysław Gomułka[2].
Kehidupan Awal
Ochab lahir di Kraków dan bekerja sebagai buruh tani serta aktif dalam gerakan serikat pekerja sebelum bergabung dengan Partai Komunis Polandia (KPP) pada tahun 1929. Karena aktivitas politiknya, ia berulang kali dipenjara oleh otoritas Polandia sebelum Perang Dunia II [3]. Selama perang, ia melarikan diri ke Uni Soviet dan membantu mengorganisir tentara Polandia yang bertempur bersama Tentara Merah.
Kepemimpinan Tahun 1956
Setelah kematian mendadak Bolesław Bierut di Moskow, Ochab terpilih sebagai Sekretaris Pertama PZPR. Kepemimpinannya menghadapi tantangan berat:
Protes Poznań 1956: Pada bulan Juni, ribuan buruh turun ke jalan menuntut "Roti dan Kebebasan". Ochab awalnya menyetujui penggunaan militer untuk meredam protes, namun kemudian ia menyadari perlunya perubahan politik mendalam [4].
Oktober Polandia: Selama krisis bulan Oktober 1956, Ochab menunjukkan keberanian politik dengan menolak tuntutan intervensi militer dari Nikita Khrushchev dan memilih untuk menyerahkan kekuasaan kepada faksi reformis yang dipimpin Gomułka demi menghindari perang saudara [a].
Masa Pensiun dan Kematian
Setelah 1956, ia tetap aktif dalam politik dan menjabat sebagai Ketua Dewan Negara (Kepala Negara) dari tahun 1964 hingga 1968. Ia mengundurkan diri dari semua jabatan politiknya pada tahun 1968 sebagai bentuk protes terhadap kampanye anti-Semit yang dilancarkan oleh pemerintah saat itu [1]. Ochab meninggal di Warsawa pada tahun 1989, tepat sebelum runtuhnya rezim komunis di Polandia.
Catatan
↑Langkah Ochab untuk mundur secara sukarela demi Gomułka dianggap sebagai tindakan langka dalam politik Blok Timur, yang bertujuan mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.