Adiya Rahman Pradana (lahir 16 April 1989),[1] yang lebih dikenal sebagai Dono Pradana adalah pelawak tunggal, pemeran, penyiar radio, dan penyiniar berkebangsaan Indonesia.[2]
Kehidupan awal
Saat kecil, Dono dan keluarganya tinggal di sebuah indekos di lingkungan berekonomi rendah di Surabaya. Ia pernah ikut dengan teman-temannya yang mengamen untuk membantu orang tuanya supaya tidak dianggap berbeda oleh teman-teman di lingkungannya. Saat ibunya mengetahui ia mengamen, Dono dimarahi karena sesungguhnya keluarganya hidup berkecukupan. Namun, ia tetap mengamen karena mengikuti teman-temannya dan memilih tempat yang lebih jauh supaya tidak ketahuan. Dono berhenti mengamen karena diminta berhenti oleh sebuah yayasan anak. Karena saat itu ia beralasan ingin membantu orang tua dalam membayar uang sekolah, yayasan tersebut memberi beasiswa untuknya dari SD hingga SMA.[3]
Awal mula ketertarikannya pada dunia komedi adalah saat ia menonton Taufik Savalas melawak tunggal di acara Comedy Club yang ditayangkan di Trans TV. Dono tergabung ke dalam komunitas Stand Up Indo Surabaya, sehingga ia berhenti bekerja di sebuah perusahaan penyelenggara acara dan memulai karier sebagai seorang komika secara penuh. Pada tahun 2014, Dono bersama komunitasnya merencanakan untuk membentuk klub komedi yang diadakan bulanan. Karena terlalu lama hanya merencanakan, acara tersebut akhirnya dimulai Dono seorang diri dan berhasil terlaksana pada tahun 2016 dengan nama Comedy Sunday.[3][4]
Dono pernah mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim kelima namun tidak berhasil lolos. Kemudian, ia berhasil menjadi salah satu finalis 14 besar Stand Up Comedy Academymusim pertama yang tayang di Indosiar pada tahun 2015.[5] Dono juga menjadi seorang penyiar radio di program GMHR pada saluran Hard Rock FM Surabaya bersama Agustian Pratama pada tahun 2017 hingga 2019.[6]
Pada tahun 2019, Dono membawakan sebuah serial web dokumenter komedi berjudul Bondo Wani yang ditayangkan di kanal YouTube Majelis Lucu Indonesia. Serial yang membahas sisi lain kota Surabaya tersebut disutradarai oleh Karim Sujatmiko dan diproduseri oleh Dono bersama Karim. Pada episode pertamanya, Dono menjelajah prostitusi kelas bawah di Surabaya. Video tersebut mendapatkan sambutan positif dari penonton. Episode ketujuh dari serial tersebut yang membahas kehidupan para orang kaya di Surabaya telah ditonton lebih dari 6 juta kali. Hal tersebut membuat nama Dono semakin dikenal luas oleh masyarakat umum.[7]
Berkat popularitas video tersebut, Dono diajak untuk membintangi serial web arahan Fajar Nugros dan Bayu Skak, Yowis Ben the Series pada 2020. Kemudian, ia juga dipercaya untuk turut bermain di film Yowis Ben 3 dan Yowis Ben Finale (keduanya 2021).[8] Dono kembali diajak oleh Bayu Skak untuk membintangi film pertama Bayu sebagai sutradara tunggal yang berjudul Lara Ati pada tahun 2022.[9]
↑Djunaedy, Muhammad Fathi (26 Oktober 2020). "Komika MLI 'Koesroeh' di Malang". Kabar Malang. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-02-26. Diakses tanggal 9 Mei 2021.