Ritual dole-dole dapat dilakukan mulai sejak bayi berumur satu bulan.[2] Biasanya, orang tua melakukan ritual ini ketika anak mengalami gangguan seperti gatal-gatal atau masalah kulit, yang dalam bahasa lokal disebut kaepeta. Dalam beberapa kasus, dole-dole juga dilakukan ketika seseorang yang telah dewasa dianggap mengalami gangguan atau kesulitan hidup, atas permintaan keluarga.[1]
Sejarah
Ritual dole-dole diasumsikan berawal dari "kisah empat orang" (mia patamiana). Diceritakan bahwa Kerajaan Buton didirikan oleh empat tokoh: Sipajonga, Simalui, Sitanamajo, dan Sijawangkati. Sipajonga menikah dengan Sibanang, saudara perempuan Simalui, dan dari pernikahan itu lahir seorang anak bernama Betoambari. Namun, Betoambari mengalami kondisi kulit seperti gatal-gatal dan kudis. Setelah bermeditasi, orang tuanya memperoleh petunjuk untuk melakukan prosesi dole-dole. Setelah pelaksanaan ritual itu, Betoambari dikabarkan pulih. Berdasarkan pengalaman tersebut, Sipajonga menganjurkan agar ritual pengobatan ini dilakukan masyarakat Buton.[2]
Persiapan
Sebelum pelaksanaan ritual dole-dole, masyarakat perlu menyiapkan bahan dan peralatan ritual. Dupa yang disiapkan berasal dari tumbuhan lokal seperti kunyit, kemenyan, pinang, dan sirih, serta bahan lain seperti benang putih, cincin, kapur, telur, dan rokok. Adapun peralatan yang diperlukan untuk tradisi ini berupa tiga buah kendi dari bahan kuningan maupun tanah liat, panci serta nampan untuk proses haroa (pembacaan doa). Kendi yang akan digunakan diisi dengan saba (ubi dan kelapa), pisang, ubi jalar, serta batang lauro bawine. Panci yang digunakan dalam ritual juga dialasi dengan daun lauro bawine. Sementara itu, pada nampan doa ditaruh nasi putih, pisang, ubi jalar, minyak kelapa serta lauk seperti ikan bobara, ikan katamba, dan telur.[4]
Pelaksanaan
Pelaksanaan dole-dole melibatkan seorang bisa’ (dukun) yang memimpin kegiatan berupa pembacaan doa dan pemberian persembahan hasil bumi dan laut.[1]Bisa' memulai acara dengan proses pengusapan (dipanimpa) anak dengan menggunakan dupa. Setelah diusap, bisa' melumuri miyak kelapa di atas nampan sambil membaca doa. Kemudian, anak dimandikan menggunakan air campuran bunga cempaka, kembang merak (kamba manure), puring, kenop, andong (nike), benalu, benang putih, dan cincin. Tanaman yang tidak tersedia dapat dilengkapi dengan doa.[4]