Doksologi (bahasa Yunani:δοξολογίαcode: el is deprecated , doksologia, gabungan kata doksa yang berarti 'kemuliaan' dan logia yang berarti 'ucapan')[1][2][3] adalah madah pendek kepada Allah di dalam berbagai bentuk ibadat Kristen. Doksologi sering kali ditambahkan pada akhir pendarasan atau pelantunan puji-pujian, mazmur, dan madah. Tradisi ini berasal dari amalan serupa di sinagogaYahudi,[4] yakni amalan melisankan beberapa versi Kadisy untuk mengakhiri setiap bagian ibadat.
Dalam Doa Bapa Kami kaum Kristen, terdapat pula kalimat doksologi "kar'na Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." Kidung Jemaat (KJ) 475 Ka'rna Engkaulah syair: Matius 6:13b perjanjian baru pada Alkitab terbitan LAI, Lagu: H.A. Pandopo 1980.
Gloria in excelsis Deo, yang disebut juga "Doksologi Besar", merupakan doksologi yang adalah himne yang dimulai dengan kata-kata yang dinyanyikan oleh para malaikat ketika kelahiran Kristus diberitakan kepada para gembala dalam Lukas 2:14. Doksologi ini umum digunakan sebagai bagian dari liturgi dalam misaKatolik.
Kemuliaan kepada Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.
Seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.
Amin
Versi Ortodoks
Kemuliaan bagi Sang Bapa, Sang Putera, serta Sang Roh Kudus,
sekarang dan selalu, serta sepanjang segala abad.
Amin.
Doksologi Doa Syukur Agung
Dalam Misa Katolik pasca-Konsili Vatikan II, terdapat sebuah kalimat doksologi yang mengakhiri Doa Syukur Agung. Doksologi ini biasanya dinyanyikan oleh Imamselebran bersama (para) Imam konselebran.
Teks Latin
Per ipsum, et cum ipso, et in ipso, est tibi Deo Patri omnipotenti in unitate Spiritus Sancti, omnis honor et gloria per omnia saecula saeculorum. Amen.
Teks Indonesia
Dengan pengantaraan Dia, bersama Dia, dan dalam Dia, bagi-Mu, Allah Bapa yang Mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa. Amin
Dalam Tata Perayaan Ekaristi 2005, kata Dia dalam "Dengan pengantaraan Dia, ..." menggunakan nama Kristus, sehingga awalnya seruan ini berbunyi "Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia, dan dalam Dia, ...."
Doksologi Doa Bapa Kami
Doksologi Doa Bapa Kami merupakan teks tambahan dalam doa Bapa Kami dalam Alkitab (Matius 6:13). Doksologi ini jarang digunakan dalam doa sehari-hari, dan penggunaan yang paling menonjol dalam peribadatan Katolik adalah pengucapan doksologi ini setelah embolisme dalam misa Katolik.
Liturgi Katolik
Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin.
Doksologi lain yang umum digunakan adalah melodi yang banyak digunakan dalam Gereja Kristen Protestan berbahasa Indonesia berasal dari lagu/melodi Old 100th atau Mazmur 100 yang dipercayai digubah oleh komposer Prancis Loys Bourgeois (c. 1510 - c. 1560). Lagu ini merupakan salah satu melodi yang paling sering dinyanyikan dalam tradisi musik Kristiani.
Melodi ini tadinya digunakan untuk versi bahasa Prancis dari Mazmur 134. Oleh Willian Kethe, melodi ini dipakai untuk lagu versi bahasa Inggris dari Mazmur 100. Melodi ini kemudian dikenal sebagai "The Hundredth" atau "Keseratus".
Terjemahan Indonesia
Ada paling sedikit tiga versi syair doksologi dalam bahasa Indonesia
Versi yang diambil dari buku himne Puji-Pujian Kristen (PPK) terbitan SAAT yang mengajarkan doktrin Tritunggal. Syair ini memakai klimaks "Pohon s'lamat sumber berkat". Istilah "pohon s'lamat" diambil dari Alkitab Terjemahan Lama yang berarti "Tuhan itu keselamatanku".
Versi yang diambil dari buku himne Kidung Jemaat (KJ) terjemahan Yayasan Musik Gereja (Yamuger) yang lebih mirip ke versi bahasa Inggris. Sajaknya adalah a-a-b-b
Versi baru yang diambil dari Kidung Puji-Pujian Kristen (KPPK) terjemahan tim SAAT yang sangat dekat ke versi bahasa Inggris, hanya saja sajaknya tidak puitis (a-b-a-c)
PPK Lama
KJ
PPK Baru
Puji Allah Bapa, Putra,
Puji Allah Roh'ul Kudus,
Ketiganya yang Esa,
Pohon s'lamat sumber berkat.
Amin.
Pujilah Khalik Semesta,
Sumber segala kurnia,
Sorga dan bumi puji t'rus,
Sang Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Amin.
Puji Allah sumber berkat,
Puji Dia s'mua ciptaan-Nya,
Puji Dia para malaikat,
Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Amin.
Kalimat Doksologi tersebut, yang dinyanyikan di beberapa gereja Kristen Protestan di seluruh dunia selama hampir 350 tahun ini, dituliskan pada tahun 1674 oleh Thomas Ken, seorang uskup Anglikan di Inggris. Uskup Thomas Ken ini sangat berani dan dengan terus terang menegur kerusakan moral dari siapa pun bahkan penguasa pemerintah saat itu.
Bishop Ken menulis beberapa himne. Dia rindu orang Kristen bisa menyatakan pujian mereka kepada Allah tanpa dibatasi hanya pada kalimat-kalimat kitab Mazmur dan kalimat pujian lainnya dalam Alkitab yang biasa dinyanyikan orang Kristen masa itu. Kalimat-kalimat yang tidak saja berupa pujian tetapi juga pengajaran. Dia adalah salah satu penulis himne pertama yang kalimatnya bukan dari Kitab Mazmur.
Salah satu himne yang ia ciptakan adalah Doksologi. Hymne ini ditulis untuk mengajarkan doktrin Tritunggal. Sebagai salah satu guru di Winchester College, ia mendorong para muridnya untuk bersaat-teduh / doa pagi setiap hari dan merenungkan kalimat Doksologi ini. Himne Doksologi ini kemudian hari disebut "Te Deum Laudamus Umat Protestan". Artinya "Himne Pujian Untuk Umat Protestan".