Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat ditandai dengan warna biru. Perdana Menteri Shinzo Abe menyatakan bahwa tujuan Kuadrilateral adalah untuk mendirikan "Lengkungan Demokrasi Asia."
Tanggal pendirian
2007, 2017 (didirikan ulang usai negosiasi pada bulan November)
Dialog Keamanan Kuadrilateral (Quadrilateral Security Dialogue, disingkat QSD, juga dikenal sebagai Quad)[1][2] adalah sebuah dialog strategi informal antara Amerika Serikat, Jepang, Australia dan India yang disampaikan melalui perbincangan antar negara-negara anggota. Dialog tersebut diinisiasikan pada 2007 oleh Perdana Menteri Shinzo Abe dari Jepang,[3] dengan dukungan Wakil
Presiden Dick Cheney dari Amerika Serikat, Perdana Menteri John Howard dari Australia dan Perdana Menteri Manmohan Singh dari India.[4] Dialog ini terjadi barengan dengan latihan militer bersama Latihan Malabar. Serangkaian kegiatan diplomatik dan militer ini dinilai sebagai respon untuk menekan pengaruh ekonomi dan militer Tiongkok.
Forum ini sempat dibubarkan akibat penarikan Australia pada masa pemerintahan Kevin Rudd mencerminkan ambivalensi dalam kebijakan Australia atas meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Indo-Pasifik. Setelah Rudd digantikan oleh Julia Gillard, kerja sama militer Australia-Amerika dilanjutkan, mengakibatkan berdirinya markas pasukan AS di Darwin, Wilayah Utara menghadap Laut Timor dan Selat Lombok. Sementara itu, latihan bersama militer India, Jepang dan Amerika Serikat terus berlanjut.
Pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN 2017 di Manila, semua mantan anggota Quad yang dipimpin oleh Abe, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden AS Donald Trump sepakat untuk menghidupkan kembali Quad untuk menangkal Tiongkok secara diplomatik dan ekonomi di kawasan Indo-Pasifik, menyebabkan kekhawatiran bahwa akan ada "Perang Dingin II" di wilayah tersebut.[5][6][7][8][9] Pemerintah Tiongkok merespon dengan mengirimkan nota protes diplomatik kepada seluruh anggotanya, memanggil organisasi tersebut sebagai "NATO cabang Asia".[10]