Dhirar bin Al-Azwar Al-Asadi (bahasa Arab:ضرار بن الأزور الأسديcode: ar is deprecated ) atau Dirar (nama asli Dhirar bin Malik), adalah seorang pejuang terampil sejak sebelum masa Islam yang berpartisipasi dalam penaklukan Muslim Awal dan seorang sahabat nabi Islam Muhammad. Dhirar dikenal oleh sukunya, Bani Asad, sebagai al-Azwar.[1]
Silsilah
Dhirar bin Al-Azwar, namanya adalah Malik bin Aus bin Jadzimah bin Rabi'ah bin Malik bin Tsa'labah bin Asad bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan al-Asadi.[2]
Biografi
Nabi pernah mengutus Dhirar ke beberapa orang kepercayaan Nabi yang ada di Bani Asad. Nabi memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang yang murtad. Kabar tentang kedatangan mereka membuat Thulaihah resah dan khawatir karena ia keluar dari Islam dan mengaku Nabi. Pasukan muslimin saat itu tiba di daerah Al Waridat, sedangkan pasukan musyrikin tiba di daerah Al Masir. Jumlah pasukan muslimin terus bertambah, sementara jurnlah pasukan musyrikin tenus berkurang. Kejadian itu terus berlangsung hingga Dhirar mendatangi Thulaihah dan pasukannya. Tidak ada satu pun di antara mereka kecuali berhasil ditaklukan dengan jalan damai.[3]
Thulaihah pemah ditebas dengan pedang, namun tidak mempan, dan kabar itu tersebar luas, hingga sebagian dari mereka berkata, "Sesungguhnya senjata tidak dapat melukai Thulaihah." Dalam kondisi demikian, pasukan muslimin mendapat berita tentang wafatnya Nabi. Cerita Thulaihah yang kebal senjata kian menambah pamor Thulaihah naik dan membuat jumlah pasukan muslimin berkurang, sebab sebagian dari mereka membelot ke Thulaihah.[3]
Dhirar ditakuti oleh tentara Bizantium dan diberi julukan Prajurit Bertelanjang Dada atau Sang Juara Bertelanjang Dada karena kecenderungannya untuk bertarung tanpa baju besi atau pakaian atas. Saat Pertempuran Qadisiyah di Persia (Irak), Dhirar merampas bendera kebanggaan Persia yang nilainya 30.000 dirham (sekitar 120 juta rupiah).[3] Saat Pengepungan Busra di Syam, ia menjadi komandan sayap kiri. Dhirar sebagian besar dikenal karena membunuh tiga lusin komandan dan juara dalam Pertempuran Ajnadayn, menjadi komandan sayap kiri[3] dan menghalangi pelarian musuh dalam Pertempuran Yarmuk.[4]
Pertempuran Ajnadayn
Sebelum perang bergejolak di Syam (Suriah) pada tahun 13 H atau 634 M, kedua pihak saling menawarkan agama masing-masing, namun sia-sia belaka. Dhirar bin Azwar, melakukan pengintaian ke barisan musuh atas perintah Khalid. Posisinya diketahui tentara Romawi sehingga ia dikejar oleh 30 kavaleri Bizantium. Dhirar berbalik mundur ke arah markas Muslimin. Saat posisinya lebih dekat dengan Muslimin, ia berbalik menyerang pasukan Romawi dengan tombaknya. Tentara romawi terdekat jatuh tersungkur, diikuti orang kedua, ketiga dan seterusnya sampai 19 orang romawi mati terkena serangan tombak dan pedang Dhirar sendiri.[5]
Pasukan romawi yang tersisa melarikan diri kembali ke markasnya. Cerita kehebatan Dhirar segera tersebar di kalangan Romawi pada malam harinya. Muslimin pun menjadi bersemangat mendengar cerita pertarungan Dhirar. Lain halnya dengan sikap sang panglima, Khalid, di mana Dhirar justru mendapat teguran keras karena melampaui tugas yang diberikan, yakni sekadar memata-matai musuh.[3]
Saat hari pertama pertempuran, pasukan muslimin bertahan dihujani ribuan panah pasukan Bizantium. Akhirnya Dhirar mendekat pada Khalid,
“Mengapa kita harus menunggu, sementara Allah Yang Maha Tinggi berada di sisi kita?” Demi Allah, mereka akan mengira bahwa kita takut terhadap mereka. Perintahkanlah serangan, dan kami akan berperang bersamamu!”[5]
Khalid memberi kesempatan kepada Dhirar untuk menunjukkan kehebatannya untuk berduel dengan pasukan Romawi. Tanpa membuang waktu, Dhirar menghentak kendaraannya maju ke tengah medan sendirian. Kali ini ia menggunakan pakaian pelindung dan helm karena terus menerus dihujani panah oleh musuh. Saat berada di tengah-tengah medan pertempuran, Dhirar berteriak lantang, “Aku adalah kematian dengan wajah pucat, aku adalah pembantai Romawi, aku adalah bencana yang dikirim kepadamu, aku, Dhirar bin Azwar!”[3]
Majulah beberapa jawara Romawi dan menjadi korban tebasan Zarrar (Dhirar). Beberapa di antaranya adalah para jenderal, Gubernur daerah Amman dan daerah Tiberias. Duel terus berlanjut antar kedua pihak hampir dua jam lamanya, baik perorangan maupun kelompok-kelompok dari barisan Romawi maju untuk menjajal sang penantang, Dhirar. Akibatnya banyak jawara Romawi yang mati. Sementara duel berlangsung, Khalid lalu memerintahkan serangan umum di siang hari.
Menjelang hari kedua, komandan bizantium, Vardan merencanakan berpura-pura berdialog negosiasi sebelum pertempuran dimulai, namun mempersiapkan 10 orang pasukan rahasia di belakangnya bersembunyi dibalik gundukan tanah untuk menghabisi Khalid. Lalu ia kirim pembawa pesan, David, kepada Khalid. Ternyata David terkesan dengan Khalid dan masuk Islam serta membocorkan rahasia Vardan. Maka malamnya Dhirar sudah bereaksi menghabisi pasukan tersembunyi Vardan diam-diam. Begitu pagi Vardan menyerang Khalid duel satu lawan satu, Vardan lantas memanggil bantuan pasukannya, dan yang muncul malah Dhirar. Dhirar menghunuskan pedangnya sehingga membuat Vardan sangat ketakutan,“Aku mohon kepadamu, agar engkaulah (Khalid) yang membunuhku, jangan biarkan setan ini mendekatiku.” Khalid memberi isyarat pada Dhirar untuk menuntaskan tugasnya. Hanya dalam hitungan detik, kepala panglima Romawi, Vardan, terlepas dari badannya.[3] Pada hari kedua juga Dhirar membunuh komandan Dairjan dari Bizantium.
Dhirar adalah anggota unit kavaleri elit Rasyidun dan juga spesialis duel dari Tentara Rasyidun yang sebagian besar beroperasi di bawah jenderal terkenal Khalidbin Walid, yang memercayainya dalam berbagai tugas selama perang Ridda, penaklukan Muslim di Levant (Syam/Suriah), Persia, Afrika Utara, dan penaklukan Muslim di Mesir.
Pertempuran Yarmuk
Medan Yarmuk.
Pada hari terakhir pertempuran Yarmuk, hari ke enam, Dhirar dengan 500 kavaleri-nya mendapatkan tugas khusus ditempatkan jauh di belakang pasukan Bizantium di Wadi Raqad yang menyambut pelarian dari medan perang dan menghabisi ribuan pasukan romawi di lembah Yarmuk.[3]
Pengepungan Damaskus
Masjid Agung Umayyah Damaskus
Saat proses pengepungan Damaskus, tiba-tiba pasukan muslimin mendengar datangnya bantuan pasukan Bizantium dari arah utara, maka Khalid segera mengirim Dhirar untuk menghalanginya dengan 5.000 pasukan dan wakilknya, Rafi. Atas perintah Khalid mereka bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke Saniyat al-Uqab di utara, tempat mereka menyambut datangnya pasukan bantuan Bizantium. Pagi berikutnya mereka telah melihat rombongan pasukan musuh di kejauhan. Saat jarak keduanya telah dekat, Dhirar langsung memimpin serangan kilat ke arah musuh yang terburu-buru menyiapkan formasinya.[5]
Pertempuran keras segera merambat ke semua front, dimana jumlah musuh dua kali lipat besarnya. Dhirar mengobrak-abrik formasi musuh dengan menjatuhkan banyak lawannya. Beberapa pasukan Romawi mengenalnya yang lantas mengepungnya dengan ketat. Tarung satu lawan belasan bahkan puluhan Bizantium terjadi di tengah kecamuk perang. Orang-orang Bizantium berniat menangkap Dhirar hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Heraklius. Tangan kanan Dhirar terkena panah tetapi pergumulan terus berlanjut. Setelah mendapat banyak luka akibat serangan beramai-ramai musuh akhirnya Dhirar berhasil dijatuhkan dan dibawa musuh ke belakang barisan Bizantium.[3]
Kabar tertangkapnya Dhirar mengguncang mental Muslimin, namun Rafi segera mengambil alih pimpinan dan terus menggempur Bizantium. Rafi berjuang mati-matian menembus pertahanan musuh untuk menyelamatkan Dhirar tetapi gagal. Matahari telah berada tepat di puncak langit, Rafi segera mengirimkan utusan guna mengabarkan Khalid tentang situasi terakhir serta berita tertangkapnya Dhirar, entah masih hidup atau terbunuh. Khalid dengan beberapa pasukan khususnya lantas meninggalkan pos pengepungan dan secepat kilat mengejar menuju Emessa (Homs) dan berhasil membebaskan Dhirar.
Setelah kembali ke depan kota Damaskus, pada satu malam pasukan bizantium pimpinan Thomas, keluar dari salah satu gerbang dan menyerang pos muslimin pimpinan Yazid bin Abu Sofyan yang berjuang menahan gempuran Bizantium di gerbang selatan. Awalnya Yazid terdesak tetapi sungguh kebetulan, Dhirar sedang patroli di dekat Yazid sehingga secepat kilat Dhirar memburu prajurit Bizantium yang lari terbirit-birit ke dalam benteng begitu mengetahui lawannya Dhirar.[3]
Saat terjadi pertempuran kecil di Abla pimpinan Abdullah bin Ja'far yang diutus Abu Ubaidah, mereka nyaris dihancurkan bizantium, lalu Khalid dan Dhirar datang menyelamatkan di saat genting.[3]
Kematian
Para sejarawan sepakat bahwa Dhirar meninggal karena Wabah Amwas bersama Khalid dan Abu Ubaidah selama tahap akhir kampanye Levant.[4] Para cendekiawan dan penulis sejarah Muslim menghormati Dhirar karena statusnya sebagai Sahabat Muhammad dan selama era modern, keturunannya yang dikenal sebagai suku Dharri sebagian besar tersebar di Irak.[6]
12Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
123Grania, Abu Fatah (2008). Panglima Surga. Jakarta: Cicero Publishing. ISBN 9789791751285
↑al-Azzawi, Abbas (2005). "13". موسوعة عشائر العراق - الجزء4[Encyclopedia of the clans of Iraq - Part 4] (genealogy, encyclopedia, geography) (dalam bahasa Arab). الدار العربية للموسوعات. hlm.177. Diakses tanggal 17 Januari 2022.