Fungsi
Mengikuti penekanan yang ditentukan oleh Konsili Vatikan Kedua[3] dan oleh Paus Paulus VI[4] mengenai pentingnya kebudayaan bagi perkembangan penuh manusia, Dewan Kepausan ini dibentuk untuk membina hubungan antara Injil dan berbagai kebudayaan, dan untuk meneliti fenomena ketidak-pedulian (indifference) dalam hubungannya dengan agama. Dewan ini juga membina hubungan antara Tahta Suci dengan para wakil dunia kebudayaan, serta memajukan dialog dengan berbagai kebudayaan kontemporer.[5][6]
Dewan ini memiliki dua bagian: Seksi Iman dan Kebudayaan berkonsentrasi pada kegiatan dewan sebelum Dewan untuk Yang Tidak Percaya digabungkan dengannya, sementara seksi Dialog dengan Kebudayaan meneruskan kegiatan dari dewan yang bergabung tadi tersebut, membuka dialoh dengan dengan pihak-pihak yang tidak percaya akan Tuhan atau menyatakan dirinya tidak memiliki agama, tapi yang terbuka untuk kerja-sama yang tulus.
Dewan ini bekerja-sama dengan berbagai konferensi episkopal (gerejawi), universitas dan organisasi internasional seperti UNESCO dalam hubungannya dengan ruang lingkupnya.
Para pegawai tetap yang berkantor di kantor pusat dewan ini hanya terdiri atas sekitar selusin orang, termasuk sang presiden (saat ini Gianfranco Ravasi, sekretaris dan wail sekretarisnya. Dewan ini memiliki sedikit lebih banyak anggota, kardinal dan uskup yang ditunjuk oleh Sri Paus untuk jabatan selama lima tahun, yang bertemu dalam rapat umum tiga tahunan untuk mengevaluasi kerja harian dari dewan ini dan untuk mempertimbangkan berbagai masalah khusus yang penting. Sri Paus juga menunjuk para konsultan, yang jumlahnya lebih banyak lagi, yang bisa sewaktu-waktu dimintai pendapat dan bantuan.[7]