Dermatitis adalah istilah umum yang digunakan untuk berbagai jenis peradangan pada kulit. Keluhan yang paling sering dirasakan meliputi rasa gatal, kulit kemerahan, dan munculnya ruam.[1] Pada kondisi yang bersifat akut dapat muncul lepuhan kecil, sedangkan pada kondisi kronis kulit cenderung menebal dan terasa kasar.[1] Luas area kulit yang terkena sangat bervariasi, mulai dari bagian kecil hingga hampir seluruh permukaan tubuh.[2] Dermatitis juga sering disebut sebagai eksim, meskipun dalam praktiknya istilah “eksim” kerap digunakan untuk merujuk secara khusus pada jenis yang paling umum, yaitu dermatitis atopik.[3]
Pencegahan dermatitis atopik umumnya berkaitan dengan pemenuhan asam lemak esensial.[4] Penanganannya meliputi penggunaan pelembap kulit dan krim kortikosteroid.[5] Krim steroid biasanya digunakan dengan kekuatan sedang hingga kuat dan tidak dianjurkan pemakaiannya lebih dari dua minggu berturut-turut karena berisiko menimbulkan efek samping.[6] Jika terdapat tandainfeksipada kulit, antibiotik dapat diberikan.[2] Pada dermatitis kontak, penanganan utama adalah menghindari zat yang menyebabkan iritasi atau alergi.[7][8] Penggunaan antihistamin dapat membantu memperbaiki kualitas tidur serta mengurangi kebiasaan menggaruk, terutama pada malam hari.[2]
Secara global, sekitar 245 juta orang diperkirakan mengalamai dermatitis pada tahun 2015, atau sekitar 3,34% dari populasi dunia.[9]Dermatitis atopik merupakan jenis yang paling sering dijumpai dan umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak.[1] Di Amerika Serikat, kondisi ini dialami oleh sekitar 10–30% penduduk.[2]Dermatitis kontak ditemukan dua kali lebih sering pada perempuan dibandingkan laki-laki.[10]Dermatitis kontak alergi dialami oleh sekitar 7% orang setidaknya sekali dalam seumur hidup, sedangkan dermatitis kontak iritan tergolong umum, terutama pada kelompok pekerjaan tertentu, meskipun angka kejadiannya belum diketahui secara pasti.[11]
Terminologi
Istilah dermatitis dan eksim sering dianggap memiliki arti yang sama dan kerap digunakan secara bergantian.[1][12] Namun, dalam medis, istilah eksim biasanya dipakai untuk menyebut jenis tertentu, yaitu dermatitis atopik atau eksim atopik.[3][13] Penggunaan kedua istilah ini juga dapat berbeda di tiap negara. Dalam beberapa bahasa, dermatitis dan eksim memiliki makna yang sama, sedangkan dalam bahasa lain dermatitis mengacu pada kondisi akut, sementara eksim merujuk pada kondisi peradangan kulit yang berlangsung lama atau kronis.[14]
Tanda dan Gejala
Dermatitis terdiri dari beberapa jenis, antara lain dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis stasis, dan dermatitis seboroik.[15] Gejala yang muncul dapat berbeda-beda, tergantung pada jenis dermatitis yang dialami. Meski demikian, ada sejumlah keluhan yang sering ditemukan pada hampir semua jenis dermatitis, seperti kulit tampak kemerahan dan bengkak, rasa gatal, serta munculnya lesi kulit.[16] Pada beberapa kasus, lesi tersebut dapat mengeluarkan cairan atau meninggalkan bekas luka. Lokasi kelainan kulit juga bervariasi, misalnya di leher, pergelangan tangan, lengan bawah, paha, atau pergelangan kaki, bergantung pada jenis dermatitis yang dialami.
Walaupun lokasi kelainan dapat berbeda, keluhan utama yang hampir selalu ada adalah rasa gatal pada kulit. Dalam kasus yang lebih jarang, dermatitis dapat mengenai area genital, seperti vulva atau skrotum.[17][18] Gejalanya bisa sangat berat dan sering kali muncul hilang-timbul. Pada dermatitis kontak iritan, rasa nyeri umumnya lebih dominan dibandingkan rasa gatal.
Pada dermatitis atopik, gejala dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain. Namun, keluhan yang paling sering dijumpai adalah kulit kering, gatal, dan kemerahan pada individu dengan kulit terang. Pada kulit yang lebih gelap, kemerahan sering tidak tampak jelas dan ruam justru dapat terlihat berwarna cokelat tua atau keunguan.[19] Area yang sering terkena meliputi lipatan siku, belakang lutut, pergelangan tangan, wajah, dan tangan. Istilah dermatitis perioral digunakan untuk menggambarkan ruam kemerahan dengan bintil-bintil kecil di sekitar mulut.[20]
Dermatitis herpetiformis ditandai dengan rasa gatal hebat, sensasi perih, dan rasa terbakar pada kulit. Pada kondisi ini sering ditemukan papul dan vesikel.[21] Bintil-bintil kecil berwarna merah, biasanya berdiameter sekitar 1 cm, dapat muncul berkelompok dan simetris, terutama di punggung atas atau bawah, bokong, siku, lutut, leher, bahu, serta kulit kepala.
Sementara itu, dermatitis seboroik umumnya berkembang secara bertahap. Gejalanya dapat dimulai dari sisik kulit kepala yang kering atau berminyak (ketombe), kemudian meluas ke area wajah dengan sisik yang kadang disertai gatal, tetapi biasanya tanpa kerontokan rambut.[22] Pada bayi baru lahir, kondisi ini dapat menyebabkan ruam tebal berwarna kekuningan di kulit kepala, yang sering disertai ruam popok. Pada kasus yang lebih berat, kelainan kulit dapat meluas ke garis rambut, belakang telinga, alis, pangkal hidung, sekitar hidung, dada, hingga punggung bagian atas.[23]
Kondisi yang terjadi adalah merah, bersisik, ruam dan gatal yang terjadi pada area wajah (khususnya terjadi pada hidung dan alis mata), terjadi juga pada area kulit kepala, dada dan punggung.[24] Hal ini sering terjadi bila seseorang dalam kondisi stress, dan mungkin terjadi pertumbuhan khamir berlebih pada kulit.[24] Obat-obatan kortikosteroid dan obat yang membunuh mikroorganisme dapat mengatasi penyakit ini.[24]
Dermatitis kontak
Dermatitis kontak terjadi karena terjadinya reaksi zat kimia yang mengalami kontak dengan kulit.[24] Penyebab umum adalah deterjen, nikel, tanaman tertentu, dan kosmetik.[24] Obat kortikosteroid yang topikal dapat menjadi solusi bagi penyakit ini.[24]
Fotodermatitis
Fotodermatitis terjadi pada orang-orang yang mengalami abnormalitas pada kulit yang sensitif dengan cahaya.[24] Sekumpulan titik dapat terjadi pada bagian kulit tertentu yang terkena cahaya matahari.[24]
Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi bila kulit yang gatal digaruk sehingga menimbulkan infeksi.[25]
12345Branch, NIAMS Science Communications and Outreach (2017-04-10). "Atopic Dermatitis". National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-14.
↑Ring, Johannes; Przybilla, Bernhard; Ruzicka, Thomas, ed. (2006). Handbook of Atopic Eczema. SpringerLink Bücher (Edisi Second Edition). Berlin, Heidelberg: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. ISBN978-3-540-23133-2.
↑Branch, NIAMS Science Communications and Outreach (2017-04-10). "Atopic Dermatitis". National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-14.