Berbeda dengan derbi Indonesia antara Persib Bandung dan Persija Jakarta yang bisa dibilang sudah lama berlangsung, derbi Tangerang justru bisa dibilang masih tergolong baru. Persaingan antara kedua klub Tangerang bermula dari pemekaran wilayah Tangerang (yang saat itu masih berstatus kabupaten). Ketika masih bernama Kabupaten Tangerang, satu-satunya klub sepak bola yang ada adalah Persita Tangerang, yang telah berdiri sejak tahun 1953.[2]
Setelah pemekaran Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang resmi didirikan pada tahun 1993. Setelah berdirinya Kota Tangerang, kemudian disusul dengan inisiatif pembentukan klub sepak bola untuk Kota Tangerang, kemudian Persikota Tangerang didirikan pada tahun 1995. Melalui kongres tersebut Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengesahkan Persikota Tangerang dan berhak untuk berkompetisi di Liga Indonesia untuk musim 1996–97 atau satu tahun setelahnya.[2]
Pasca berdirinya Persikota Tangerang, publik sepak bola Tangerang terpecah belah, mereka yang mewakili Kabupaten Tangerang mendukung Persita Tangerang yang juga dikenal dengan nama Benteng Viola. Sedangkan pendukung Persikota Tangerang disebut Benteng Mania yang mewakili Kota Tangerang. Kedua kelompok pendukung ini sering bentrok satu sama lain, bahkan ketika tidak ada pertandingan derbi. Oleh karena itu, kerusuhan sering terjadi ketika kedua kelompok pendukung ini bertemu atau sekadar berpapasan.[3]
Fatwa haram
Kerusuhan yang terus berlanjut dan mengakibatkan hilangnya nyawa telah mengancam sepak bola Tangerang. Puncak kekisruhan ini adalah dikeluarkannya fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pertandingan sepak bola di Tangerang, khususnya pertandingan antara Persita Tangerang dan Persikota Tangerang. Tidak hanya pertandingan resmi yang dilarang, tetapi penyelenggaraan pertandingan sepak bola di Stadion Benteng juga dilarang. Fatwa haram ini muncul karena setiap kali ada pertandingan di Stadion Benteng, selalu terjadi kerusuhan dan mengakibatkan hilangnya nyawa. Kemudian akhirnya MUI memutuskan bahwa mengadakan pertandingan di Stadion Benteng akan lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Setelah fatwa dikeluarkan, dua klub Tangerang, Persikota Tangerang dan Persita Tangerang, terkena dampaknya dan harus memulai liga dari divisi bawah lagi.[4]
Kenangan
Meskipun derbi Tangerang berlangsung singkat, namun tetap meninggalkan kesan mendalam pada para pemain di lapangan. Salah satu mantan pemain tim nasional sepak bola Indonesia yang masih mengingat derbi Tangerang adalah Firmansyah, yang membela Persikota Tangerang selama 6 musim pada tahun 2000 hingga 2006. Selama berkarier di Persikota Tangerang, ia merasakan atmosfer luar biasa dari derbi Tangerang. Ia bahkan menjadi bagian dari skuad Persikota Tangerang saat mereka berada di puncak kejayaan.[5]