ENSIKLOPEDIA
Dendroaspis polylepis
| Mamba hitam | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Reptilia |
| Ordo: | Squamata |
| Subordo: | Serpentes |
| Famili: | Elapidae |
| Genus: | Dendroaspis |
| Spesies: | D. polylepis |
| Nama binomial | |
| Dendroaspis polylepis | |
| Wilayah persebaran mamba hitam yang ditandai warna merah (area abu-abu menunjukkan data yang belum konklusif) | |
| Sinonim[3] | |
|
Daftar
| |
Mamba hitam (Dendroaspis polylepis) adalah spesies ular berbisa tinggi anggota famili Elapidae. Ular ini berasal dari sebagian wilayah Afrika sub-Sahara. Pertama kali dideskripsikan secara formal oleh Albert Günther pada tahun 1864, ular ini adalah ular berbisa terpanjang kedua setelah king kobra; spesimen dewasa umumnya memiliki panjang melebihi 2 m (6 ft 7 in) dan biasanya tumbuh hingga 3 m (9,8 ft). Spesimen berukuran 43 hingga 45 m (141 hingga 148 ft) pernah dilaporkan. Warnanya bervariasi dari abu-abu hingga cokelat tua. Mamba hitam muda cenderung berwarna lebih pucat daripada yang dewasa, dan menggelap seiring bertambahnya usia. Terlepas dari nama umumnya, mamba hitam tidak berwarna hitam; penamaan warna tersebut lebih menggambarkan bagian dalam mulutnya, yang diperlihatkan ketika ia merasa terancam.
Spesies ini bersifat terestrial (hidup di tanah) sekaligus arboreal (hidup di pohon); ia menghuni sabana, hutan jarang, lereng berbatu dan di beberapa wilayah, hutan lebat. Ular ini bersifat diurnal dan diketahui memangsa burung serta mamalia kecil. Di atas permukaan yang sesuai, ia dapat bergerak dengan kecepatan hingga 16 km/h (10 mph) untuk jarak pendek. Mamba hitam dewasa memiliki sedikit predator alami.
Dalam suatu tampilan ancaman, mamba hitam biasanya membuka mulutnya yang hitam pekat, merentangkan lipatan lehernya yang sempit, dan terkadang mendesis. Ia mampu mematuk pada jarak yang cukup jauh dan dapat memberikan serangkaian gigitan secara beruntun dengan cepat. Bisanya terutama terdiri dari neurotoksin yang sering memicu gejala dalam sepuluh menit, dan sering kali fatal kecuali antibisa diberikan. Meskipun memiliki reputasi sebagai spesies yang menakutkan dan sangat agresif, mamba hitam hanya menyerang manusia jika terancam atau terpojok. Ia dinilai sebagai spesies risiko rendah dalam Daftar Merah Spesies Terancam yang dirilis Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).
Taksonomi
Deskripsi formal pertama mengenai mamba hitam dibuat pada tahun 1864 oleh ahli zoologi Inggris kelahiran Jerman, Albert Günther.[2][3] Satu spesimen tunggal merupakan salah satu dari banyak spesies ular yang dikumpulkan oleh John Kirk, seorang naturalis yang mendampingi David Livingstone dalam Ekspedisi Zambesi Kedua tahun 1858–1864.[4] Spesimen ini adalah holotipe dan disimpan di Museum Sejarah Alam, London.[3] Nama genus spesies ini berasal dari kata dalam bahasa Yunani Kuno dendron (δένδρον), "pohon", dan aspis (ἀσπίς) "ular asp", dan julukan spesifik polylepis berasal dari bahasa Yunani Kuno poly (πολύ) yang berarti "banyak" dan lepis (λεπίς) yang berarti "sisik".[5] Istilah "mamba" berasal dari kata dalam bahasa Zulu "imamba".[6] Di Tanzania, nama lokal dalam bahasa Ngindo adalah ndemalunyayo ("pemotong rumput") karena ular ini dianggap memangkas rumput.[7]
Pada tahun 1873, naturalis Jerman Wilhelm Peters mendeskripsikan Dendraspis Antinorii dari spesimen di museum Genoa yang telah dikumpulkan oleh penjelajah Italia Orazio Antinori di tempat yang sekarang menjadi bagian utara Eritrea.[8] Ini kemudian dianggap sebagai subspesies[3] dan tidak lagi dipandang berbeda.[2] Pada tahun 1896, ahli zoologi Belgia-Inggris George Albert Boulenger menggabungkan spesies Dendroaspis polylepis secara keseluruhan dengan mamba hijau timur (Dendroaspis angusticeps),[9] sebuah diagnosis penggabungan (lumping) yang tetap berlaku hingga tahun 1946 ketika herpetolog Afrika Selatan Vivian FitzSimons memisahkan mereka kembali menjadi spesies yang berbeda.[10] Sebuah analisis genetik tahun 2016 menunjukkan bahwa mamba hitam dan mamba hijau timur adalah kerabat terdekat satu sama lain, dan berkerabat lebih jauh dengan mamba Jameson (Dendroaspis jamesoni), seperti yang ditunjukkan pada kladogram di bawah ini.[11]
Deskripsi
Mamba hitam adalah ular bertubuh panjang, ramping, dan silindris. Kepalanya berbentuk peti mati dengan bubung alis yang agak menonjol dan mata berukuran sedang.[12][13] Panjang ular dewasa biasanya berkisar antara 2 hingga 3 m (6 ft 7 in hingga 9 ft 10 in), namun terdapat spesimen yang tumbuh hingga mencapai panjang 43 hingga 45 m (141 ft 1 in hingga 147 ft 8 in).[10][13] Ular ini merupakan spesies ular berbisa terpanjang di Afrika[14][15] dan spesies ular berbisa terpanjang kedua secara keseluruhan, yang panjangnya hanya dilampaui oleh king kobra.[16] Mamba hitam adalah ular proteroglifa (bertaring depan), dengan taring yang panjangnya mencapai 6,5 mm (0,26 in),[17] yang terletak di bagian depan maksila.[16] Ekor spesies ini panjang dan tipis, dengan vertebra kaudal menyusun 17–25% dari panjang tubuhnya.[12] Massa tubuh mamba hitam dilaporkan sekitar 16 kg (35 pon),[18] meskipun sebuah studi terhadap tujuh ekor mamba hitam menemukan berat rata-rata 103 kg (227 pon), berkisar dari 520 g (18 oz) untuk spesimen dengan panjang total 101 m (331 ft 4 in) hingga 24 kg (53 pon) untuk spesimen dengan panjang total 257 m (843 ft 2 in).[19]
Warna spesimen sangat bervariasi, meliputi zaitun, cokelat kekuningan, khaki, dan kelabu logam, tetapi jarang berwarna hitam. Sisik beberapa individu mungkin memiliki kilau keunguan. Individu tertentu terkadang menampakkan bercak-bercak gelap ke arah posterior (belakang), yang dapat muncul dalam bentuk garis-garis silang diagonal. Mamba hitam memiliki bagian bawah perut berwarna putih keabu-abuan. Nama umumnya berasal dari penampakan bagian dalam mulutnya, yang berwarna abu-abu kebiruan gelap hingga hampir hitam.[20] Mata mamba berkisar antara cokelat keabu-abuan dan nuansa hitam; pupilnya dikelilingi oleh warna putih keperakan atau kuning. Ular muda berwarna lebih terang daripada ular dewasa; mereka biasanya berwarna abu-abu atau hijau zaitun dan menjadi lebih gelap seiring bertambahnya usia.[17][10][12]
Pensisikan
Jumlah dan pola sisik pada tubuh ular adalah elemen kunci identifikasi hingga tingkat spesies.[21] Mamba hitam memiliki antara 23 dan 25 baris sisik dorsal di bagian tengah tubuh, 248 hingga 281 sisik ventral, 109 hingga 132 sisik subkaudal yang terbagi, dan sisik anal yang terbagi.[a] Mulutnya dibatasi oleh 7–8 sisik supralabial di bagian atas, dengan sisik keempat dan terkadang juga yang ketiga terletak di bawah mata, dan 10–14 sisik sublabial di bagian bawah. Matanya memiliki 3 atau kadang-kadang 4 sisik preokular dan 2–5 sisik postokular.[13]
Persebaran dan habitat

Mamba hitam menghuni wilayah yang luas di Afrika sub-Sahara; jangkauannya meliputi Burkina Faso, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Sudan Selatan, Ethiopia, Eritrea, Somalia, Kenya, Uganda, Tanzania, Burundi, Rwanda, Mozambik, Eswatini, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Botswana, Afrika Selatan, Namibia, dan Angola.[1][17][23] Persebaran mamba hitam di sebagian Afrika Barat telah diperdebatkan. Pada tahun 1954, mamba hitam tercatat di wilayah Dakar, Senegal. Pengamatan ini, serta pengamatan selanjutnya yang mengidentifikasi spesimen kedua di wilayah tersebut pada tahun 1956, belum dikonfirmasi dan dengan demikian persebaran ular ini di area tersebut menjadi tidak konklusif.[23]
Spesies ini menyukai lingkungan yang cukup kering seperti hutan jarang dan semak belukar, singkapan batuan, dan sabana semi-gersang.[23] Ia juga menghuni sabana lembap dan hutan dataran rendah.[13] Ular ini tidak umum ditemukan pada ketinggian di atas 1.000 m (3.300 ft), meskipun persebarannya mencakup lokasi pada ketinggian 1.800 m (5.900 ft) di Kenya dan 1.650 m (5.410 ft) di Zambia.[23] Ia dinilai sebagai spesies risiko rendah dalam Daftar Merah spesies terancam milik Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), berdasarkan jangkauannya yang sangat luas di seluruh Afrika sub-Sahara dan tidak adanya dokumentasi penurunan populasi.[1]
Perilaku dan ekologi

Mamba hitam bersifat terestrial sekaligus arboreal. Di tanah, ia bergerak dengan kepala dan leher terangkat, dan biasanya menggunakan gundukan rayap, liang yang ditinggalkan, celah batu, dan retakan pohon sebagai tempat berlindung. Mamba hitam bersifat diurnal; di Afrika Selatan, mereka tercatat berjemur antara pukul 7 dan 10 pagi, dan kembali berjemur dari pukul 2 hingga 4 sore. Mereka mungkin kembali setiap hari ke lokasi berjemur yang sama.[12][13]
Mudah terkejut dan sering kali tidak terduga, mamba hitam sangat lincah dan dapat bergerak dengan cepat.[13][17] Di alam liar, mamba hitam jarang menoleransi manusia yang mendekat lebih dekat dari sekitar 40 meter (130 ft).[13] Ketika merasakan ancaman, ia akan mundur ke semak-semak atau lubang.[13] Saat dikonfrontasi, ia cenderung melakukan tampilan ancaman, menganga untuk memamerkan mulut hitamnya dan menjulurkan lidahnya.[17] Ia juga cenderung mendesis dan melebarkan lehernya menjadi tudung yang mirip dengan kobra dalam genus Naja.[13][17][18]
Selama tampilan ancaman, setiap gerakan tiba-tiba oleh pengganggu dapat memprovokasi ular tersebut untuk melakukan serangkaian serangan cepat, yang menyebabkan envenomasi (keracunan bisa) parah.[13] Ukuran mamba hitam dan kemampuannya untuk mengangkat kepala cukup tinggi dari tanah memungkinkannya melontarkan sebanyak 40% panjang tubuhnya ke atas, sehingga gigitan mamba pada manusia dapat terjadi pada tubuh bagian atas.[13][17] Reputasi mamba hitam yang selalu siap menyerang sering dilebih-lebihkan; ia biasanya terprovokasi oleh ancaman yang dirasakan seperti terhalangnya pergerakan dan kemampuan untuk mundur.[17] Kecepatan yang digembar-gemborkan dari spesies ini juga telah dilebih-lebihkan; ia tidak dapat bergerak lebih cepat dari 20 km/h (12 mph).[24][12]
Reproduksi dan rentang hidup

Musim kawin mamba hitam berlangsung dari September hingga Februari,[25] menyusul penurunan suhu yang terjadi dari April hingga Juni.[10] Pejantan yang bersaing berkompetisi dengan bergulat, berusaha menaklukkan satu sama lain dengan melilitkan tubuh dan bergulat menggunakan leher mereka. Beberapa pengamat keliru mengira ini sebagai percumbuan.[12][13] Selama perkawinan, pejantan akan melata di atas sisi dorsal betina sambil menjulurkan lidahnya. Betina akan memberi sinyal kesiapannya untuk kawin dengan mengangkat ekornya dan tetap diam. Pejantan kemudian akan melingkarkan dirinya di sekitar ujung posterior betina dan menyejajarkan ekornya secara ventrolateral dengan ekor betina. Intromisi dapat berlangsung lebih dari dua jam dan pasangan tersebut tetap tidak bergerak selain kejang sesekali dari pejantan.[10]
Mamba hitam bersifat ovipar; betina meletakkan sebuah tumpukan berisi 6–17 butir telur.[13] Telur-telur tersebut berbentuk oval memanjang, biasanya berukuran panjang 60–80 mm (2,4–3,1 in) dan diameter 30–36 mm (1,2–1,4 in). Saat menetas, ukuran ular muda berkisar 40–60 cm (16–24 in). Mereka dapat tumbuh dengan cepat, mencapai 2 m (6 ft 7 in) setelah tahun pertama mereka. Mamba hitam muda sangat waspada dan bisa mematikan seperti halnya ular dewasa.[13][17] Mamba hitam tercatat hidup hingga 11 tahun dan mungkin dapat hidup lebih lama.[18]
Pola makan
Mamba hitam biasanya berburu dari sarang tetap, tempat ia akan kembali secara teratur jika tidak ada gangguan. Ia sebagian besar memangsa vertebrata kecil seperti burung, terutama anak burung, dan mamalia kecil seperti hewan pengerat, tupai, kelelawar, hiraks, antelop kecil, dan galago.[26] Mereka umumnya lebih menyukai mangsa berdarah panas tetapi juga akan memangsa ular lain. Di wilayah Transvaal di Afrika Selatan, hampir semua mangsa yang tercatat berukuran agak kecil, sebagian besar terdiri dari hewan pengerat dan mamalia kecil atau muda dengan ukuran serupa, serta burung pengicau, yang diperkirakan beratnya hanya 1,9–7,8% dari massa tubuh mamba tersebut.[19] Meskipun demikian, anekdot menunjukkan bahwa mamba hitam berukuran besar mungkin sesekali menyerang mangsa besar seperti hiraks batu atau dassie, dan dalam beberapa bahasa suku setempat, namanya bahkan berarti "penangkap dassie".[27][28] Mamba hitam biasanya tidak menahan mangsanya setelah menggigit; sebaliknya, ia melepaskan korbannya dan menunggu hingga mangsa tersebut lumpuh dan mati sebelum ditelan. Sistem pencernaan ular ini yang ampuh tercatat mampu mencerna mangsa sepenuhnya dalam delapan hingga sepuluh jam.[13][17][10][12]
Predasi
Mamba dewasa memiliki sedikit predator alami selain burung pemangsa. Elang ular cokelat adalah predator mamba hitam dewasa yang terverifikasi, dengan mangsa berukuran hingga setidaknya 27 m (88 ft 7 in).[29] Elang lain yang diketahui memburu atau setidaknya memangsa mamba hitam dewasa meliputi elang tawny dan elang martial.[29][30] Ular muda tercatat sebagai mangsa ular kikir Cape.[10] Garangan, yang memiliki resistansi tertentu terhadap bisa mamba dan sering kali cukup cepat untuk menghindari gigitan, terkadang akan mengganggu atau memburu mamba hitam, dan mungkin mengejar mereka hingga ke atas pohon.[31][32][33] dan mungkin mengejar mereka di pohon.[34] Ratel yang juga merupakan predator, juga memiliki resistansi terhadap bisa mamba.[35][36] Mekanisme pada kedua mamalia tersebut diperkirakan karena reseptor asetilkolina nikotinik otot mereka tidak mengikat alfa-neurotoksin ular.[36] Mamba hitam juga ditemukan di antara isi perut buaya Nil.[37] Mamba muda di Serengeti diketahui menjadi mangsa rangkong tanah selatan, burung hantu rawa, dan nazar bertudung.[38]
Bisa
Mamba hitam adalah ular yang paling ditakuti di Afrika karena ukurannya, sifat agresifnya, toksisitas bisanya, dan laju munculnya gejala setelah envenomasi,[25] serta diklasifikasikan sebagai ular dengan kepentingan medis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).[b][39] Sebuah survei di Afrika Selatan dari tahun 1957 hingga 1979 mencatat 2.553 kasus gigitan ular berbisa, 75 di antaranya dikonfirmasi berasal dari mamba hitam. Dari 75 kasus ini, 63 menunjukkan gejala envenomasi sistemik dan 21 orang meninggal dunia. Gigitan sering kali berakibat fatal sebelum antibisa tersedia secara luas.[40] Mereka yang tergigit sebelum tahun 1962 menerima antibisa polivalen yang tidak berpengaruh pada bisa mamba hitam, dan 15 dari 35 orang yang menerima antibisa tersebut meninggal dunia. Antibisa spesifik mamba diperkenalkan pada tahun 1962, diikuti oleh antibisa polivalen sepenuhnya pada tahun 1971. Selama periode ini, 5 dari 38 orang yang digigit mamba hitam dan diberi antibisa meninggal dunia.[c][41] Sebuah sensus di pedesaan Zimbabwe pada tahun 1991 dan 1992 mengungkap 274 kasus gigitan ular, di mana 5 orang meninggal. Mamba hitam terkonfirmasi dalam 15 kasus, 2 di antaranya meninggal.[42] Periode puncak kematian adalah saat musim kawin spesies ini dari September hingga Februari, masa di mana mamba hitam menjadi paling mudah terusik.[25] Gigitan sangat jarang terjadi di luar Afrika; penangan ular dan penggemar ular adalah korban yang paling umum.[43]
Tidak seperti banyak spesies ular berbisa lainnya, bisa mamba hitam tidak mengandung enzim protease. Gigitannya umumnya tidak menyebabkan pembengkakan lokal atau nekrosis, dan satu-satunya gejala awal mungkin berupa sensasi kesemutan di area gigitan. Ular ini cenderung menggigit berulang kali dan melepaskannya, sehingga bisa terdapat beberapa luka tusukan.[25] Gigitannya dapat menyalurkan sekitar 100–120 mg bisa secara rata-rata; dosis maksimum yang tercatat adalah 400 mg.[44] Dosis letal median (LD50) pada mencit ketika diberikan secara intravena telah dihitung sebesar 0,32[45] dan 0,33 mg/kg.[46]
Bisanya didominasi oleh sifat neurotoksik, dan gejala sering kali menjadi nyata dalam waktu 10 menit.[25] Tanda-tanda neurologis awal yang mengindikasikan envenomasi parah meliputi rasa logam, kelopak mata terkulai (ptosis) dan gejala bertahap dari kelumpuhan bulbar.[47] Gejala neurologis lainnya meliputi miosis (pupil menyempit), penglihatan kabur atau berkurang, parestesia (sensasi kesemutan pada kulit), disartria (bicara cadel), disfagia (kesulitan menelan), dispnea (sesak napas), kesulitan mengelola air liur, hilangnya refleks muntah, fasikulasi (kedutan otot), ataksia (gangguan gerakan sadar), vertigo, kantuk dan hilangnya kesadaran, serta kelumpuhan pernapasan.[25] Gejala lain yang lebih umum meliputi mual dan muntah, sakit perut, diare, berkeringat, saliva berlebih, merinding, dan mata merah.[40] Gigitan mamba hitam dapat menyebabkan kolaps pada manusia dalam waktu 45 menit.[48] Tanpa pengobatan antibisa yang tepat, gejala biasanya berkembang menjadi gagal napas, yang mengarah pada kolaps kardiovaskular dan kematian.[25] Hal ini biasanya terjadi dalam 7 hingga 15 jam.[44]
Pada tahun 2015, proteom (profil protein lengkap) dari bisa mamba hitam dinilai dan dipublikasikan, mengungkapkan 41 protein berbeda dan satu nukleosida.[40] Bisanya terdiri dari dua famili utama agen toksik, dendrotoksin (I dan K) dan (dalam proporsi yang sedikit lebih rendah) toksin tiga jari.[46] Dendrotoksin mirip dengan inhibitor protease tipe kunitz yang berinteraksi dengan saluran kalium yang bergantung pada tegangan, menstimulasi asetilkolina dan menyebabkan efek eksitasi,[40] serta diperkirakan menyebabkan gejala seperti berkeringat.[25] Anggota famili tiga jari meliputi alfa-neurotoksin, kardiotoksin, fasikulin, dan mambalgin.[46] Komponen yang paling beracun adalah alfa-neurotoksin,[40] yang mengikat reseptor asetilkolina nikotinik dan karenanya memblokir aksi asetilkolina pada membran pascasinaptik serta menyebabkan blokade neuromuskular dan kelumpuhan.[25][40] Fasikulin adalah inhibitor antikolinesterase yang menyebabkan fasikulasi otot.[25] Bisanya memiliki sedikit atau tidak ada aktivitas hemolitik, hemoragik, atau prokoagulan.[25] Mambalgin bertindak sebagai inhibitor untuk saluran ion pengindera asam dalam sistem saraf pusat dan perifer, yang menyebabkan efek penghambatan rasa sakit. Terdapat minat penelitian terhadap potensi analgesiknya.[49]
Komposisi bisa mamba hitam sangat berbeda dari mamba lainnya, yang semuanya mengandung agen toksin tiga jari yang dominan. Diperkirakan hal ini mungkin mencerminkan mangsa yang disukai, mamalia kecil untuk mamba hitam yang sebagian besar hidup di darat versus burung untuk mamba lain yang sebagian besar bersifat arboreal. Tidak seperti banyak spesies ular, bisa mamba hitam memiliki sedikit kandungan fosfolipase A2.[46]
Pengobatan
Perawatan standar pertolongan pertama untuk setiap dugaan gigitan dari ular berbisa adalah pemasangan perban tekan pada lokasi gigitan, meminimalisasi pergerakan korban, dan evakuasi ke rumah sakit atau klinik sesegera mungkin. Sifat neurotoksik dari bisa mamba hitam menandakan bahwa turniket arteri mungkin dapat bermanfaat.[47] Toksoid tetanus terkadang diberikan, meskipun pengobatan utamanya adalah pemberian antibisa yang tepat.[50] Sebuah antibisa polivalen yang diproduksi oleh Institut Penelitian Medis Afrika Selatan digunakan untuk mengobati gigitan mamba hitam,[51] dan sebuah antibisa baru sedang dikembangkan oleh Institut Clodomiro Picado milik Universitas Kosta Rika.[52]
Kasus gigitan
- Danie Pienaar, yang pada berbagai waktu dari setidaknya tahun 2009[53] hingga 2017[54] menjabat sebagai kepala Layanan Ilmiah Taman Nasional Afrika Selatan dan pejabat pelaksana eksekutif,[55] selamat dari gigitan mamba hitam tanpa antibisa pada tahun 1998. Meskipun dokter rumah sakit menyatakan kondisinya sebagai envenomasi "sedang", Pienaar sempat jatuh koma dan prognosisnya dinyatakan "buruk". Setibanya di rumah sakit, Pienaar segera diintubasi dan ditempatkan pada penopang hidup selama 3 hari. Ia keluar dari rumah sakit pada hari kelima. Tetap tenang setelah digigit meningkatkan peluangnya untuk bertahan hidup, begitu pula dengan penerapan turniket.[53]
- Pada Maret 2008, seorang peserta pelatihan pemandu safari asal Inggris berusia 28 tahun, Nathan Layton, digigit oleh seekor mamba hitam yang ditemukan di dekat ruang kelasnya di Southern African Wildlife College di Hoedspruit, Limpopo, Afrika Selatan. Layton digigit ular tersebut pada jari telunjuknya saat ular itu sedang dimasukkan ke dalam toples, dan staf yang terlatih pertolongan pertama yang memeriksanya memutuskan bahwa ia bisa melanjutkan perkuliahan.[56] Ia mengira ular itu hanya menyenggol tangannya. Layton mengeluhkan penglihatan kabur dalam waktu satu jam setelah digigit,[56][57][58] lalu pingsan dan meninggal tak lama kemudian.[57]
- Fotografer profesional Amerika, Mark Laita, digigit di bagian kaki oleh seekor mamba hitam saat sesi pemotretan mamba hitam di sebuah fasilitas di Amerika Tengah. Mengalami pendarahan hebat, ia tidak mencari pertolongan medis, dan kecuali rasa sakit yang intens serta pembengkakan lokal semalaman, ia tidak terdampak lebih lanjut. Hal ini membuatnya percaya bahwa ular itu memberinya "gigitan kering" (gigitan tanpa menyuntikkan bisa) atau pendarahan hebat tersebut mendorong bisa keluar. Beberapa komentator pada berita tersebut menduga bahwa itu adalah ular venomoid (di mana kelenjar bisanya telah diangkat melalui pembedahan), namun Laita menanggapi bahwa bukan demikian. Baru kemudian Laita menyadari bahwa ia telah mengabadikan momen ular itu menggigit kakinya dalam sebuah foto.[59][60][61]
- Pada tahun 2016, seorang wanita Kenya bernama Cheposait Adomo diserang oleh tiga ekor mamba hitam, salah satunya menggigit kakinya berulang kali, di County Pokot Barat, Kenya. Orang-orang yang datang menolongnya mengusir ular-ular lainnya, dan membacok dua di antaranya dengan parang. Setelah mencoba menggunakan pengobatan tradisional, mereka menaikkannya ke sepeda motor dan membawanya selama 45 menit ke rumah sakit terdekat, yang memiliki antibisa. Ia selamat.[62]
- Aktivis anti-Apartheid Afrika Selatan yang terkemuka dan hakim Pengadilan Buruh Anton Steenkamp meninggal setelah digigit oleh mamba hitam saat sedang cuti di Zambia pada Mei 2019. Ia berada beberapa jam perjalanan dari bantuan medis dan meninggal sebelum antibisa dapat diberikan.[63]
- Pada Juni 2020, dokter hewan Bulgaria Georgi Elenski dari Haskovo digigit oleh seekor mamba hitam yang merupakan bagian dari koleksi hewan eksotis pribadinya. Kondisi awalnya sangat serius, tetapi ia pulih setelah perawatan intensif yang melibatkan pemberian antibisa dan dukungan pernapasan.[64]
- Pada Januari 2022, seorang mantan pegawai kantor surat kabar dan petani dari Zimbabwe, Peter Dube, meninggal setelah digigit oleh mamba hitam, dikarenakan rumah sakit tempat ia dibawa tidak memiliki antibisa untuk merawatnya.[65]
- Pada Januari 2023, seorang siswa berusia 17 tahun dari Zimbabwe meninggal setelah digigit oleh mamba hitam. Ular tersebut masuk ke dalam ruang kelas sekolah menengah saat para siswa berada di luar.[66]
Catatan
- ↑ Sisik terbagi adalah sisik yang terbelah di garis tengah menjadi dua sisik.[22]
- ↑ Ular dengan Kepentingan Medis mencakup ular-ular dengan bisa yang sangat berbahaya yang mengakibatkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, atau ular-ular yang menjadi penyebab umum gigitan ular.[39]
- ↑ Dalam dua kasus lainnya, tidak jelas antibisa mana yang telah diberikan[41]
Referensi
- 1 2 3 Branch, W.R.; Trape, J.-F.; Luiselli, L.; Spawls, S.; Penner, J.; Howell, K.; Msuya, C.A.; Ngalason, W. (2021). "Dendroaspis polylepis". 2021 e.T177584A15627370. doi:10.2305/IUCN.UK.2021-2.RLTS.T177584A15627370.en. ;
- 1 2 3 "Dendroaspis polylepis". Integrated Taxonomic Information System.
- 1 2 3 4 Uetz, Peter; Hallermann, Jakob. "Dendroaspis polylepis Günther, 1864". Reptile Database. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2015. Diakses tanggal 10 September 2018.
- ↑ Günther, Albert (1864). "Report on a collection of reptiles and fishes made by Dr. Kirk in the Zambesi and Nyassa Regions". Proceedings of the Zoological Society of London. 1864: 303–314 [310]. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2019. Diakses tanggal 10 November 2017.
- ↑ Liddell, Henry George; Scott, Robert (1980). A Greek-English Lexicon (Edisi Abridged). Oxford University Press. hlm. 109, 154, 410, 575. ISBN 978-0-19-910207-5.
- ↑ "Definition of mamba in English". Oxford Dictionaries. OED. Diarsipkan dari asli tanggal 13 January 2017. Diakses tanggal 11 January 2017.
- ↑ Loveridge, Arthur (1951). "On reptiles and amphibians for Tanganyika Territory collected by C.J. P. Ionides". Bulletin of the Museum of Comparative Zoology at Harvard College. 106: 175–204 [201]. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 July 2019. Diakses tanggal 9 November 2017.
- ↑ Peters, Wilhem Carl Hartwig (1873). "Über zwei Giftschlangen aus Afrika und über neue oder weniger bekannte Gattungen und Arten von Batrachiern". Monatsberichte der Königlichen Preussische Akademie des Wissenschaften zu Berlin (dalam bahasa Jerman). Jahre 1873 (1874): 411–418. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 July 2019. Diakses tanggal 10 November 2017.
- ↑ Boulenger, George Albert (1896). Catalogue of the snakes in the British Museum (Natural History). Vol. 3. Printed by order of the Trustees British Museum (Natural History). Department of Zoology. hlm. 437. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2020. Diakses tanggal 16 October 2017.
- 1 2 3 4 5 6 7 Haagner, G. V.; Morgan, D. R. (1993). "The maintenance and propagation of the Black mamba Dendroaspis polylepis at the Manyeleti Reptile Centre, Eastern Transvaal". International Zoo Yearbook. 32 (1): 191–196. doi:10.1111/j.1748-1090.1993.tb03534.x.
- ↑ Figueroa, A.; McKelvy, A. D.; Grismer, L. L.; Bell, C. D.; Lailvaux, S. P. (2016). "A species-level phylogeny of extant snakes with description of a new colubrid subfamily and genus". PLOS One. 11 (9) e0161070. Bibcode:2016PLoSO..1161070F. doi:10.1371/journal.pone.0161070. PMC 5014348. PMID 27603205.
- 1 2 3 4 5 6 7 Spawls, Stephen; Howell, Kim; Drewes, Robert; Ashe, James (2017). A Field Guide to the Reptiles of East Africa (Edisi 2nd). Bloomsbury. hlm. 1201–1202. ISBN 978-1-4729-3561-8.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Marais, Johan (2004). A complete guide to the snakes of southern Africa (Edisi New). Struik. hlm. 95–97. ISBN 978-1-86872-932-6.
- ↑ "Black Mamba | National Geographic". National Geographic Society. 10 September 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 1 March 2021. Diakses tanggal 12 March 2021.
- ↑ "Black Mamba Facts". Live Science. 23 December 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 February 2021. Diakses tanggal 12 March 2021.
- 1 2 Mattison, Chris (1987). Snakes of the World. Facts on File, Inc. hlm. 84, 120. ISBN 978-0-8160-1082-0.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 FitzSimons, Vivian F. M. (1970). A Field Guide to the Snakes of Southern Africa (Edisi Second). HarperCollins. hlm. 167–169. ISBN 978-0-00-212146-0.
- 1 2 3 "Black mamba". National Geographic. 10 September 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 30 May 2017. Diakses tanggal 3 December 2010.
- 1 2 Branch, W. R.; Haagner, G. V.; Shine, R. (1995). "Is there an ontogenetic shift in mamba diet? Taxonomic confusion and dietary records for black and green mambas (Dendroaspis: Elapidae)". Herpetological Natural History. 3: 171–178.
- ↑ "Kruger Park Times - Myths, facts and more about the Black Mamba..." www.krugerpark.co.za. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2020. Diakses tanggal 28 August 2020.
- ↑ Hutchinson, Mark; Williams, Ian (2018). "Key to the Snakes of South Australia" (PDF). South Australian Museum. Government of South Australia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 July 2019. Diakses tanggal 8 February 2019.
- ↑ Macdonald, Stewart. "snake scale count search". Australian Reptile Online Database. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 March 2021. Diakses tanggal 3 May 2019.
- 1 2 3 4 Håkansson, Thomas; Madsen, Thomas (1983). "On the Distribution of the Black Mamba (Dendroaspis polylepis) in West Africa". Journal of Herpetology. 17 (2): 186–189. doi:10.2307/1563464. JSTOR 1563464.
- ↑ "Animal Diversity Web (ADW), University of Michigan". Animal Diversity Web. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 November 2019. Diakses tanggal 3 May 2020.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Hodgson, Peter S.; Davidson, Terence M. (1996). "Biology and treatment of the mamba snakebite". Wilderness and Environmental Medicine. 7 (2): 133–145. doi:10.1580/1080-6032(1996)007[0133:BATOTM]2.3.CO;2. PMID 11990107.
- ↑ Marais, Johan (10 December 2018). "True facts about the Black Mamba". African Snakebite Institute (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 March 2020. Diakses tanggal 5 June 2019.
- ↑ Pienaar, U. D. V., Haacke, W. D., & Jacobsen, N. H. G. (1966). The Reptiles of the Kruger National Park (p. 223). National Parks Board of Trustees of the Republic of South Africa.
- ↑ Jacobsen, N. H. G. (1985). Ons reptiele. CUM boeke, Roodepert.
- 1 2 Steyn, P. (1983). Birds of prey of southern Africa: Their identification and life histories. Croom Helm, Beckenham (UK). 1983.
- ↑ "Kruger Park Birding: Eagles and Hawk-Eagles Birding Raptor Guide". Kruger National Park – Bird Education. Siyabona Africa: Your Informed African Travel Partner. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2011. Diakses tanggal 7 June 2019.
- ↑ Gibbens, Sarah (3 October 2017). "Watch a Mongoose Swing From a Deadly Snake". National Geographic. Diarsipkan dari asli tanggal 8 September 2018. Diakses tanggal 7 September 2018.
- ↑ "Mongoose Vs. Snake". National Geographic. Diarsipkan dari asli (video) tanggal 8 September 2018. Diakses tanggal 7 September 2018.
- ↑ Tsetlin, V. I. (2001). "Snake venom α-neurotoxins and other 'three-finger' proteins". European Journal of Biochemistry. 264 (2): 281–286. doi:10.1046/j.1432-1327.1999.00623.x. PMID 10491072.
- ↑ Kunene, Nompilo (16 March 2022). "WATCH: Black mamba rescued after battling it out with feisty mongoose". news24.com. The Witness. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 March 2022. Diakses tanggal 23 March 2022.
- ↑ "Voices of Botswana: honey badger versus black mamba". Roxanne Reid (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 May 2019.
- 1 2 Drabeck, Danielle H.; Dean, Antony M.; Jansa, Sharon A. (2015). "Why the honey badger don't care: Convergent evolution of venom-targeted nicotinic acetylcholine receptors in mammals that survive venomous snake bites". Toxicon. 99 (1): 68–72. Bibcode:2015Txcn...99...68D. doi:10.1016/j.toxicon.2015.03.007. PMID 25796346.
- ↑ Guggisberg, C.A.W. (1972). Crocodiles: Their Natural History, Folklore, and Conservation. David & Charles. hlm. 195. ISBN 978-0-7153-5272-4.
- ↑ de Visser, S. N.; Freymann, B. P.; Olff, H. (2011). "The Serengeti food web: empirical quantification and analysis of topological changes under increasing human impact". Journal of Animal Ecology. 80 (2): 484–494. Bibcode:2011JAnEc..80..484D. doi:10.1111/j.1365-2656.2010.01787.x. PMID 21155772.
- 1 2 WHO Expert Committee on Biological Standardization. "Guidelines for the production, control and regulation of snake antivenom immunoglobulins" (PDF). WHO Technical Report Series, No. 964. hlm. 224–226. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 14 February 2020. Diakses tanggal 1 January 2019.
- 1 2 3 4 5 6 Laustsen, Andreas Hougaard; Lomonte, Bruno; Lohse, Brian; Fernández, Julián; Gutiérrez, José María (2015). "Unveiling the nature of black mamba (Dendroaspis polylepis) venom through venomics and antivenom immunoprofiling: Identification of key toxin targets for antivenom development". Journal of Proteomics. 119: 126–142. doi:10.1016/j.jprot.2015.02.002. hdl:10669/28143. PMID 25688917. S2CID 42454467.
- 1 2 Christensen, P.A. (1981). "Snakebite and the use of antivenom in southern Africa" (PDF). South African Medical Journal. 59 (26): 934–938. PMID 7244896. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 July 2020. Diakses tanggal 7 March 2019.
- ↑ Nhachi, Charles FB; Kasilo, Ossy M. (1994). "Snake poisoning in rural Zimbabwe – A prospective study". Journal of Applied Toxicology. 14 (3): 191–193. doi:10.1002/jat.2550140308. PMID 8083480. S2CID 40171925.
- ↑ Závada, J.; Valenta, J.; Kopecký, O.; Stach, Z.; Leden, P. (2011). "Black Mamba Dendroaspis Polylepis Bite: A Case Report". Prague Medical Report. 112 (4): 298–304. PMID 22142525.
- 1 2 Branch, Bill (1988). Field Guide to the Snakes and Other Reptiles of Southern Africa. New Holland. hlm. 95. ISBN 978-1-85368-112-7.
- ↑ Harrison, Robert A.; Oluoch, George O.; Ainsworth, Stuart; Alsolaiss, Jaffer; Bolton, Fiona; Arias, Ana-Silvia; Gutiérrez, Jose-María; Rowley, Paul; Kalya, Stephen; Ozwara, Hastings; Casewell, Nicholas R. (2017). "Preclinical antivenom-efficacy testing reveals potentially disturbing deficiencies of snakebite treatment capability in East Africa". PLOS Neglected Tropical Diseases. 11 (10) e0005969. doi:10.1371/journal.pntd.0005969. PMC 5646754. PMID 29045429.
- 1 2 3 4 Ainsworth, Stuart; Petras, Daniel; Engmark, Mikael; Süssmuth, Roderich D.; Whiteley, Gareth; Albulescu, Laura-Oana; Kazandjian, Taline D.; Wagstaff, Simon C.; Rowley, Paul; Wüster, Wolfgang; Dorrestein, Pieter C.; Arias, Ana Silvia; Gutiérrez, José M.; Harrison, Robert A.; Casewell, Nicholas R.; Calvete, Juan J. (2018). "The medical threat of mamba envenoming in sub-Saharan Africa revealed by genus-wide analysis of venom composition, toxicity and antivenomics profiling of available antivenoms". Journal of Proteomics. 172: 173–189. doi:10.1016/j.jprot.2017.08.016. hdl:10261/279110. PMID 28843532. S2CID 217018550. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 October 2020. Diakses tanggal 19 November 2021.
- 1 2 Dreyer, S. B.; Dreyer, J. S. (November 2013). "Snake Bite: A review of Current Literature". East and Central African Journal of Surgery. 18 (3): 45–52. ISSN 2073-9990. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal 2 March 2015.
- ↑ Visser, J; Chapman, D. S. (1978). Snakes and Snakebite: Venomous snakes and management of snake bite in Southern Africa. Purnell. hlm. 52. ISBN 978-0-86843-011-9.
- ↑ Diochot, Sylvie; Baron, Anne; Salinas, Miguel; Douguet, Dominique; Scarzello, Sabine; Dabert-Gay, Anne-Sophie; Debayle, Delphine; Friend, Valérie; Alloui, Abdelkrim (2012). "Black mamba venom peptides target acid-sensing ion channels to abolish pain" (PDF). Nature (dalam bahasa Inggris). 490 (7421): 552–555. Bibcode:2012Natur.490..552D. doi:10.1038/nature11494. ISSN 0028-0836. PMID 23034652. S2CID 4337253.
- ↑ Gutiérrez, José María; Calvete, Juan J.; Habib, Abdulrazaq G.; Harrison, Robert A.; Williams, David J.; Warrell, David A. (2017). "Snakebite envenoming" (PDF). Nature Reviews Disease Primers. 3 (1): 17063. doi:10.1038/nrdp.2017.63. PMID 28905944. S2CID 4916503. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2020. Diakses tanggal 8 September 2020.
- ↑ Davidson, Terence. "Immediate First Aid". Universitas California, San Diego. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 January 2018. Diakses tanggal 12 May 2010.
- ↑ Sánchez, Andrés (2017). "Expanding the neutralization scope of the EchiTAb-plus-ICP antivenom to include venoms of elapids from Southern Africa". Toxicon. 125: 59–64. Bibcode:2017Txcn..125...59S. doi:10.1016/j.toxicon.2016.11.259. PMID 27890775. S2CID 24231215.
- 1 2 "Surviving a Black Mamba bite". Kruger National Park. Siyabona Africa. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2014. Diakses tanggal 26 April 2014.
- ↑ Wiggins, Clara (28 June 2017). "Meet the man who stops Kruger's lions from wandering the streets of South Africa". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2019. Diakses tanggal 10 February 2019.
- ↑ "New head for Kruger National Park". Africa Geographic. 22 April 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2019. Diakses tanggal 10 February 2019.
- 1 2 Borland, Sophie; Berger, Sebastian (11 March 2008). "UK student dies after snake bite in South Africa". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2022.
- 1 2 "Student died after being bitten by snake". The Telegraph. 13 December 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 January 2022.
- ↑ "Black mamba killed Wing student in South Africa – inquest". BBC News. 13 December 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 February 2019. Diakses tanggal 8 February 2019.
- ↑ Hooper, Rowan (19 January 2012). "Portraits of snake charm worth elephant-killing bite". New Scientist. Diarsipkan dari asli tanggal 21 January 2012.
- ↑ Gambino, Megan. "Snakes in a Frame: Mark Laita's Stunning Photographs of Slithering Beasts". Smithsonian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 December 2014. Diakses tanggal 1 February 2015.
- ↑ "Black Mamba Bite: The Back Story". Strange Behaviors. 24 February 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 December 2014. Diakses tanggal 1 February 2015.
- ↑ McNeish, Hannah (11 April 2017). "This Woman Survived One Of The Deadliest Snake Attacks". HuffPost. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 February 2019. Diakses tanggal 13 February 2019.
- ↑ Mitchley, Alex (22 May 2019). "Black mamba bite: Judge died before anti-venom could be administered". News24 (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 22 May 2019. Diakses tanggal 24 May 2019.
- ↑ "Ето как спасиха живота на д-р Георги Еленски, ухапан от черна мамба". blitz.bg (dalam bahasa Inggris). 12 June 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 July 2020. Diakses tanggal 11 July 2020.
- ↑ Osborne, Hannah (January 6, 2022). "Man Dies From Black Mamba Bite After Hospital Had No Antivenom To Treat Him". Newsweek. Diarsipkan dari asli tanggal 24 March 2022. Diakses tanggal 24 March 2022.
- ↑ "A snake, the deadly black mamba, snuck into a high school, bit and killed a student in Africa, reports say". USA Today.
Pranala luar
| Dendroaspis polylepis | |
|---|---|